Selasa, 31 Juli 2018

Curug Cikuluwung emang lagi famous sih belakangan ini. Di explore instagram, postingan teman, hingga beberapa akun komunitas traveling silih berganti memposting keeksotisan yang membuat aku jadi makin penasaran sama curug ini.

Rejeki bertepuk dua tangan. Ulut ngejapri ngajakin odt-an (one day trip) ke Curug Cikuluwung. Kondisinya itu udah kayak orang yang lagi ngiler pengen es tong-tong, ehh di depan kontrakan ada suara gong tong-tong gituu. (Disini ada yang tau es tong-tong ga ya? Kayaknya aku salah kasih perumpamaan deh. HeuHeuHeu)

Aku yang nyatanya ngangenin gampangan ini langsung aja mengiyakan ajakan tersebut. Ga pake waktu lama, aku langsung terhempas ke grup yang isinya orang-orang yang mau ke Curug Cikuluwung.

Oemji ternyata yang mau ikut banyak juga wkwk. Yaaa walau dipikir-pikir emang wajar juga sih, lah wong sharecostnya aja cuma Rp.80.000 udah termasuk sewa angkot dari Stasiun Bogor ke lokasi PP, tiket masuk 2 curug, dan biaya parkir. Wagelaseh itu murah banget yee kan?


***

Jam 08.10 WIB aku udah di Stasiun Bogor, bertemu teman-teman yang lain, berkenalan dengan beberapa orang karena ada sebagian yang belum kenal, kemudian sarapan bareng sambil nunggu personil yang masih di kereta.

Aku sebenarnya lagi off naik gunung, off ngetrip, off olahraga, jadii ngerasa kalo fisik lagi bener-bener ga bagus. Naik tangga JPO ke kantor aja engapnya naudzubillah. Aku ngebayangin kalo Curug Cikuluwung itu berada di hutan entah barantah yang kudu trekking, sedangkan kondisi fisik lagi letoy se letoy-letoynya. Alhasil aku bawa trekking pole lipat, terus aku masukin ke daypack yang aku pake.

"Hah, serius kamu bawa trekpol?"
"Lah iyaaa, takut ga kuat aja."
"Ihh, orang curugnya ga jauh kok!"

Karena aku tetap mau ambil aman, apalagi ga ada dia yang bisa nyemangatin aku saat lagi capek, aku mutusin untuk tetap bawa trekpol.

Itin yang sudah dirilis berubah jadwal. Dari rencana awal jalan jam 8 pagi, akhirnya kami jalan jam 9 pagi karena ada teman yang jalannya dari planet lain, kudu melintasi Jakarta dulu, baru memasuki kota hujan ini.

Ohh iya, di perjalanan ini kami menggunakan angkotnya Ulut. Sebelumnya memang sudah biasa menyewa angkotnya doi sih, seperti perjalananku saat camping di Suaka Elang Loji beberapa waktu lalu.

Alasan menggunakan angkot Ulut selain karena menggunakan angkot cenderung lebih murah, juga karena Ulut mengetahui berbagai lokasi wisata hingga ke pojok-pojok Bogor. Buktinya saja aku bisa explore Cikuluwung hanya dengan sharecost 80ribu. Gilaaa anak kost mah tau banget yang mana trip hemat kantong. HeuHeuHeu lagi.


***

Dua angkot beriringan melaju meninggalkan Stasiun Bogor menuju Kampung Suka Asih, Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Bogor. Curug Cikuluwung ini berada tidak jauh dari rumah-rumah warga. Setelah angkot yang kami tumpangi tiba di parkiran, kami turun dan berjalan kaki melewati rumah-rumah warga hingga akhirnya kami melihat gerbang selamat datang di Curug Cikuluwung 1.

Walaupun melewati gang-gang rumah warga, tetapi petunjuknya jelas, warganya juga ramah-ramah. Jalur yang berupa jalanan datar membuat trekpolku ga berfungsi disini. Bahkan hingga pulang, trekpol justru enggak aku gunain sama sekali. Kok yaa aku jadi nyesel bawanya, ngeberat-beratin tas aja wkwk.

Kami tiba di gerbang selamat datang saat waktu sudah hampir mendekati Dzuhur. Yaudah akhirnya kami memutuskan untuk ishoma terlebih dahulu. Di sekitar loket curug terdapat gazebo-gazebo untuk beristirahat, juga warung dengan berbagai pilihan makanan.

Karena makan tidak termasuk dalam sharecost, aku dan Wiwit memutuskan untuk membeli makan siang disini. Awalnya aku mikir harganya akan mahal. Secaraaa... ini daerah wisata yang lagi famous gituu kannn. Ehh ternyata enggak cuy. Harganya masih sesuai dompet.

Setelah selesai ishoma, kami mulai meniti menuruni anak tangga menuju Curug Cikuluwung 1. Biaya tiket yaitu Rp.10.000/orang, ini sudah termasuk sharecost. Sebenarnya dari gerbang pembelian tiket menuju curug tidak jauh, hanya turun tangga saja. Karena tangganya tinggi dan lumayan licin, jadi kami memang harus berhati-hati. Untungnya ada pengelola curug yang berjaga-jaga, memastikan kami ga terpeleset atau terjatuh.

"Curugnya bagusss." Itu penilaianku saat pertama memijakkan kaki ke bebatuan curug. Bebatuan besar nan eksotis semakin mempercantik keindahan curug. Air terjun dengan tinggi sekitar 10 meter jatuh ke kolam alami yang biasa warga sekitar sebut leuwi, airnya yang jernih bener-bener nyegerin mata.

Pesona Curug Cikuluwung 1
Sumber foto : akun ig @dede_ulut

Kemudian bebatuan tinggi seolah membelah serupa cekungan, dan kamiii berada di antara dua bebatuan besar yang cantik. Bebatuan tersebut bersusun dari pangkal air terjun memanjang hingga berpuluh-puluh meter ke belakang menjadi pelengkap kecantikan Curug Cikuluwung 1.

Sayangnya (dikit-dikit pake sayang eaaa), leuwi yang berada persis di bawah air terjun ini tidak boleh digunakan untuk berenang karena cerita masyarakat yang beredar. Cerita ini aku tahu dari Pak Musa, warga yang juga menjadi pengurus curug. Di saat makan siang di warung tadi, aku berkenalan dengan beliau, kemudian sempat mengobrol dan mencari tahu berbagai informasi tentang curug ini.

"Disini pernah ada warga yang bernama Pak Idas. Ia ingin masuk ke gua yang berada di balik curug. Saat akan masuk ke dalam gua, Pak Idas justru terjatuh ke leuwi di bawahnya, kemudian meninggal dunia. Hal ini juga yang menjadi alasan beberapa orang menyebut curug ini dengan nama Curug Idas."

Selain karena alasan bahwa kolam air tersebut dalam dan memiliki pusaran air yang berbahaya, kejadian itu juga menjadi salah satu alasan supaya pengunjung tidak berenang di leuwi yang berada persis di bawah air terjun.

Untung saja leuwinya ga cuma satu. Air terjun mengalir ke sela-sela batu, kemudian berkumpul di leuwi selanjutnya. Nah di leuwi selanjutnya ini pengunjung boleh mandi tanpa khawatir, karena ada pengelola curug yang mengawasi dan siap sedia membantu para pengunjung.

Di leuwi ini kita bisa berenang tanpa khawatir,
karena tetap dalam pengawasan pengelola curug.
Sumber foto : akun ig @tommy_pramuditya


***

Sayang sekali kami tiba saat sudah siang, dimana pengunjung sudah banyak berdatangan. Mungkin lain kali kami akan kesini lebih pagi, supaya bisa leluasa berfoto tanpa ada cendol di background. Apalagi aku yang ga terlalu pede foto, tambah merasa kesulitan mencari gaya berfoto di tengah kepadatan pengunjung.

Setelah puas foto dan menikmati keindahan Curug Cikuluwung 1, team memutuskan untuk naik dan beralih ke curug satunya. Tempat pembelian tiket masuk Curug Cikuluwung 2 berada sekitar 20 meter sebelah kiri dari Gerbang Curug Cikuluwung 1. Harga tiket masuknya juga Rp.10.000/orang, dan ini juga sudah termasuk ke dalam sharecost.

Pesona Curug Cikuluwung 2
Sumber foto : akun ig @dede_ulut

Disini aku dan Wiwit memutuskan tidak ikut ke Curug Cikuluwung 2. Tadi saat makan siang, selain menceritakan tentang curug, Pak Musa juga menceritakan tentang banyak hal terkait Cikuluwung. Kami yang terlanjur penasaran dengan arti kata "Cikuluwung" ini akhirnya mencari tahu.

Saat team sedang trekking menuju Curug Cikuluwung 2, aku dan Wiwit menuju bendungan yang menjadi hulu dari sumber air terjun yang tadi kami gunakan untuk mandi atau sekedar main air. Bendungan tersebut tidak jauh dari tempat kami memarkirkan angkot. Jalurnya juga sudah berupa tangga semen, dan terlihat jelas.

Menyusuri anak tangga hingga ke bawah, kami tiba di tanah milik PLN, Sub unit PLTA Kracak. Disana aliran sungai dibendung lalu dibagi menjadi 2 aliran. Aliran pertama mengarah ke Curug Cikuluwung 1 dan 2 yang kami kunjungi. Wajar saja debit air curug tidak terlalu besar, ternyata itu karena adanya bendungan di hulu curug.

Aliran kedua mengarah ke sisi lain curug, melalui aliran air buatan, atau yang biasa warga sebut kuluwung. Panjang kuluwung dari bendungan yang kami lihat hingga ujung kuluwung di hilir sana sekitar 300 meter.

Kuluwung berada pada kedalaman 30 meter di bawah tanah, dengan diameter sekitar 2,5 meter. Kuluwung berakhir di basengkom atau penampungan di hilir. Sayang sekali kami tidak sempat melihat basengkom yang dimaksud.

"Ci dalam bahasa Sunda berarti air, sedangkan Kuluwung merupakan saluran air besar yang dibuat pada zaman penjajahan. Yang membuat tentunya adalah warga pribumi atas perintah penjajah." Itu kesimpulan dari obrolanku dengan Pak Musa.


***

Karena khawatir kelamaan, aku dan Wiwit memutuskan kembali ke parkiran. Ternyata teman-teman belum ada yang nongol.

"Mereka masih ada di curug bawah, Mbak." Kata pengunjung lain saat aku menanyakan keberadaan team kami. Curug bawah yang dimaksud adalah Curug Cikuluwung 2, bagian hilir Curug Cikuluwung 1.

Karena mereka masih di bawah, aku dan Wiwit akhirnya menghabiskan waktu mengobrol bersama Pak Musa di teras rumah yang tidak jauh dari parkiran.

"Tadi di perjalanan turun ke curug (Cikuluwung 1), mbak lihat ada toilet ga?" Tanya Pak Musa

Aku dan Wiwit mengingat-ingat, sebelum akhirnya ngeh "Iya ingat Pak. Yang di sebelah kiri sebelum turun tangga."

Beliau mengangguk mengiyakan. "Dulu, tempat yang sekarang dijadikan toilet di tangga curug adalah jembatan menuju seberang curug."

"Ohh berarti di seberang curug itu ada perkampungan, Pak?" Aku penasaran, karena tadi aku tidak melihat tanda-tanda kehidupan di seberang curug. Yang aku lihat hanyalah kerapatan hutan.

"Di seberang curug sana adalah perkampungan, juga sekolah. Saat itu warga sini yang sekolah di seberang melewati jembatan untuk menuju sekolah."

"Sekitar 70 tahun yang lalu, persis tanggal 17 Agustus, serombongan anak sekolah yang akan mengadakan upacara 17-an melintasi jembatan tersebut jatuh ke bawah. Dari semua korban yang jatuh, hanya 3 orang yang selamat, selebihnya meninggal dunia. Salah satu korban yang selamat adalah bibi saya." Ucap Pak Musa melanjutkan ceritanya.


***

Menjelang jam 4 sore, team kami sedikit demi sedikit sudah berkumpul di angkot yang kami gunakan. Aku dan Wiwit yang menyadari kedatangan teman-teman kami pun akhirnya pamit ke Pak Musa untuk kembali bergabung bersama team, dan bersiap-siap pulang.


Sumber foto : dokumen pribadi



Minggu, 15 Juli 2018

Hidup penuh dengan kejutan bukan?

Rasanya... baru kemarin kita berada di suatu daerah yang tenang dengan bebek-bebek bebas berenang, lalu esoknya kita terhempas di sebuah kota yang hiruk-pikuk. Sepertinya baru kemarin kita menjadi anak kecil yang terbata-bata menyebut kata ayah ataupun ibu, lalu sekarang menjadi orang yang bisa mengucapkan banyak kalimat dengan terburu-buru. Rasanya... baru kemarin kita melakukan banyak hal, dan waktu terus berlalu hingga semuanya berlari menjadi masa lalu.

Di sebuah kedai kopi, menatap jalanan Tb Simatupang yang selalu ramai lalu-lalang kendaraan, juga ditemani lagu Maroon 5 hingga lagu Andra & The Backbone, aku ingin mengajakmu ke masa aku kecil. Cerita sederhana ini dimulai antara Tahun 1998 hingga 2002 (Jujur aku tidak bisa mengingat jelas tahun berapa. Aku hanya mengingat bahwa cerita ini terbentuk saat aku masih SD), melanjutkan episode kenangan kecil tentang sungai yang sudah ku ceritakan di tulisanku sebelumnya.

Anggap saja cerita sederhana ini aku tulis untuk menemanimu minum kopi atau dongeng pengantar tidurmu malam ini.


Kemarau

Siang saat itu teramat terik. Musim kemarau di kampungku membuat sawah kekurangan air. Jalanan lebih mudah berdebu. Di musim kemarau seperti itu biasanya anak-anak lebih suka menghabiskan waktu di sungai. Selain air yang sangat jernih, sungai juga menjadi lebih dangkal.

Aku dan teman-teman akan berjalan ke arah hulu sungai hingga pangkalan Perantuan. Pangkalan Perantuan adalah pangkalan mandi yang dekat dengan pemakaman umum kampung, juga dekat dengan satu-satunya sekolah di kampungku. Di pangkalan itu ada pohon kemiri tua yang dahannya meneduhkan jalan setapak saat siang, tetapi mencekam saat malam. 

Jika sudah tiba di Pangkalan Perantuan, kami akan berjalan meniti ke tengah sungai. Kemudian berhanyut-hanyutan melewati kebun kopi, rumpun bambu kuning, pohon ara besar, melewati pangkalan depan rumah dan terus berhanyut-hanyutan jauh hingga ke pangkalan Dayat.

Dayat adalah salah satu teman masa kecilku. Dulu pangkalan Dayat merupakan batas kami berhanyut-hanyutan. Aku tidak mau berhanyut-hanyutan melewati pangkalan Dayat. Selain karena sudah terlalu jauh yang lebih dari 2 km, juga karena arusnya sudah terlalu deras untuk anak-anak kecil seumuranku.


Belajar Memanjat

Selain bermain di sungai, panasnya hari saat kemarau membuat dogan (orang-orang di kampungku menyebut kelapa muda dengan sebutan dogan. Di Jakarta lebih sering disebut "degan") terlihat sangat menyegarkan. Biasanya setiap minggu akas (Di suku Daya Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Akas dan Ajong adalah sebutan untuk kakek) memanjat pohon kelapa. Kelapa-kelapa yang sudah tua dikupas kulitnya kemudian dijual. Tidak semua kelapa tua dijual, sebagian buah kelapa diolah menjadi minyak kelapa yang digunakan untuk keperluan memasak sehari-hari.

Saat memanjat kelapa, biasanya akas juga menjatuhkan beberapa buah dogan untuk di nikmati bersama-sama. Aku sangat menyukai dogan pemberian dari akas. Airnya manis walaupun tanpa gula ataupun susu, dan ketebalan dagingnya juga pas. Akas sepertinya ahli dalam memilih dogan.

Biasanya setelah akas memanjat kelapa dan menjatuhkan hasil panennya, aku dan adikku akan membantunya membawa kelapa-kelapa tersebut ke halaman rumah untuk dikupas. Aku terkadang membantu mengupas kelapa, dari yang awalnya menghabiskan setengah jam untuk mengupas satu buah kelapa, hingga hanya membutuhkan sekitar 5 menit untuk membuat rambut kelapa menjadi plontos.

Sayangnya akas tidak setiap hari memanjat kelapa, dan persediaan dogan tidak selalu ada. Belakangan aku baru tahu jika akas tidak sering-sering mengambil dogan karena ingin menjadikan kelapanya tua. Hanya saja, saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Yang aku fikirkan hanyalah keinginanku untuk menikmati dogan yang segar. Keinginan itulah yang menyebabkanku akhirnya nekat memanjat kelapa.

Memanjat kelapa itu sangaaattt susah. Jauh lebih susah dibandingkan memanjat pohon duku, sawo, atau manggis sekitar rumah. Jika pohon-pohon lain memiliki banyak dahan yang bisa dijadikan tumpuan tangan maupun kaki, pohon kelapa tidak memiliki cabang. Jika di pohon-pohon lain aku bisa beristirahat dengan menyandarkan tubuh di dahan, aku tidak bisa melakukannya di pohon kelapa.

Pohon kelapa di kampungku biasanya memiliki lubang kecil di sisi kiri dan kanan pohon. Kedalaman lubang hanya 3 cm hingga 5 cm. Mana cukup untuk menopang kaki. Jarak antara lubang satu dan lubang di atasnya adalah sekitar 1 meter. Saat itu usiaku belum cukup 10 tahun, kakiku masih terlalu susah untuk menjangkau lubang satu ke lubang lainnya.

Di percobaan-percobaan pertama, aku hanya bisa naik seperempat dari tinggi pohon kelapa. Tubuhku belum terlalu besar untuk bisa memeluk pohon kelapa secara utuh.

Saat kecil adalah masa-masa tanpa pikir panjang. Asalkan itu menyenangkan, maka aku lakukan. Permasalahannya semua hal terasa menyenangkan, termasuk memanjat pohon kelapa. Aku hanya ingin bisa minum dogan sesuka hati tanpa menunggu akas memanjatnya.

Pernah suatu waktu aku menangis karena ingin dogan, tetapi akas sedang ke kebun. Tidak ada yang bisa memanjat dogan, termasuk ayah. Bahkan hingga aku dewasa, belum pernah kulihat ayah memanjat pohon kelapa. Aku menangis hingga sesenggukan. Jika sudah begitu, umak lah (Umak adalah panggilanku untuk nenek. Sebenarnya di Suku Daya, nenek biasa disebut Maju atau Mbay) yang akan sibuk menenangkanku.


Proses

Bulan berganti tahun, dari yang awalnya hanya sanggup memanjat seperempat pohon, akhirnya aku bisa memanjat setengah dari seluruh ketinggian pohon. Kakiku sudah kuat, sudah terbiasa menahan tubuh untuk berdiri lama di pohon. Tapi aku punya masalah baru, takut ketinggian. Aku takut jika terjatuh dari pohon kelapa yang tinggi itu.

Karena ketakutan tersebut, aku dan adikku menggunakan buluh bambu yang panjang. Ujung buluh bambu di belah dua sepanjang 10 cm. Di antara belahan akan di letakkan ranting kecil supaya ujung bambu menganga. Ujung bambu yang menganga itu berguna untuk menjepit tangkai buah lalu memilinnya hingga buahnya terjatuh.

Bukan hal sulit jika buah tersebut memiliki tangkai yang kecil seperti duku, sawo, ataupun manggis. Hanya dengan dipilin sedikit, maka buah akan langsung rontok dari tangkai. Tetapi dogan? Tangkainya besar dan serat tangkainya kuat. Aku kesulitan untuk meremukkan tangkainya.

Aku bekerjasama dengan adikku. Aku memanjat hingga setengah dari ketinggian pohon kelapa. Kemudian dari bawah, adikku menjulurkan buluh bambu yang ujungnya buluhnya sudah menganga. Untuk selanjutnya aku berjuang memasukkan tungkai dogan diantara buluh. Tangan kanan berusaha memegang buluh, tangan kiri memeluk pohon.

Jika tangkai buah sudah berhasil di jepit oleh buluh bambu, aku akan memutar-mutarkan buluh hingga tangkai menjadi remuk dan akhirnya dogan jatuh ke tanah atau kubangan sawah. Aku biasanya berusaha untuk menjatuhkan dogan di kubangan sawah, karena kontur tanah sawah yang lebih lembek jika dibandingkan dengan tanah di daratan, membuat dogan jatuh tanpa harus pecah.

Aku dan adikku melakukan itu secara bergantian. Terkadang aku yang memanjat, terkadang adikku. Jika adikku yang memanjat, tugasku adalah menjulurkan bambu dan mengambil dogan dari kubangan sawah.


Bisa karena Biasa

Semakin lama aku dan adikku semakin terbiasa. Jika sebelumnya menggunakan bambu untuk mendapatkan hanya satu atau dua buah dogan, kali ini aku bisa mendapatkan dogan sebanyak yang aku inginkan. Tidak ada lagi aku yang beraninya memanjat hanya setengah dari ketinggian kelapa, aku bahkan bisa menjatuhkan kelapa tanpa alat bantu.

Aku memanjat tanpa kendala hingga ujung pohon, kemudian memilin tangkai dogan hingga remuk. Jika tangkai dogan sudah remuk, hanya dengan menariknya, dogan akan jatuh ke tanah. Jika aku tidak ingin dogan jatuh ke tanah, sebelum jatuh, aku akan memegang lalu melempar dogan ke arah sawah.

Sejak itu, keluargaku tahu aku bisa memanjat kelapa. Mereka yang awalnya melarangku karena takut aku jatuh, akhirnya hanya bisa pasrah. Terlebih saat aku membawa beberapa dogan ke rumah, antara cemas dan bangga ibu menerimanya. Cemas karena takut anaknya kenapa-kenapa, juga bangga karena diantara sekian banyak laki-laki yang tidak bisa memanjat bahkan seperempat saja dari ketinggian pohon kelapa, anak wanita satu-satunya justru bisa mengambil kelapa dengan tangan kosong. 

Tetapi, diluar dari itu, ada kebahagiaan besar dari ibu, yaitu kakiku yang sebelumnya tidak bisa berjalan hingga berumur 4 tahun justru bisa memanjat kelapa tanpa kendala. Aku yang memiliki history kaki lemah justru membuktikan ke ibu bahwa aku bisa jika aku mau berusaha. Ini baru aku ketahui saat aku dewasa, di sela-sela obrolan santai aku dan ibu.


Seperti Pisau, Jika Tidak Diasah Akan Tumpul

Sekarang aku ajak kamu melompat ke Tahun 2013 - sekarang dimana usiaku bukan kanak-kanak lagi.

Belakangan ini jika aku pulang ke kampung, Maju Nuri (saudara / adik kandung akas) biasanya akan memintaku untuk mengambil dogan. Sudah lama tidak makan dogan katanya. Atau jika aku sedang rindu kampung dan suasana kecil, aku akan melakukan hal-hal yang menjadi kenangan kecil tersebut. Salah satunya mengambil dogan lalu menikmatinya di pondok sawah atau di tepian sungai.

Kemudian saat melewati pematang sawah menuju ke salah satu pohon kelapa, akan ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang menyapaku.

"Mau manjat dogan, Kalena?"

Yapp, mereka sudah mengetahui jika aku bisa memanjat. Dulu mereka sering melihat sendiri saat aku memilin dan menjatuhkan dogan dengan mudah. Sayangnya, keahlianku sekarang tidak bisa lagi disamakan dengan saat dulu.

Dulu aku melakukannya hampir setiap minggu, hingga cengkraman tanganku kuat, hingga pijakan kakiku mantap. Dulu aku memanjat dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa kesulitan. Dulu aku bisa memilih dogan yang airnya manis, berdaging tebal dan lembut seperti pilihan akas.

Sekarang telapak kakiku lebih cepat sakit, tubuhku lebih cepat lelah, dan lebih sering beristirahat. Baru seperempat ketinggian pohon kelapa sudah istirahat, kemudian setengan pohon istirahat lagi. Belum lagi telapak kaki yang semakin memerah karena menahan tubuh terlalu lama.

Jika dulu aku bisa berada lama di atas pohon kelapa dan menjatuhkan dogan sesuai keinginan, sekarang aku hanya menjatuhkan dogan semampuku saja.


Menjadi Tua itu Pasti

Iya... menjadi tua itu pasti, aku rasa kamu juga setuju dengan istilah ini. Berbagai hal remeh maupun besar pernah menetap lalu pergi, namun tidak semuanya layak dilupakan. Itulah sebagian kenangan kecil yang kali ini ku ceritakan kepadamu. Mungkin nanti aku akan menceritakan kenangan-kenangan lainnya.

By the way guys, kopiku sudah habis nih, sudah larut malam juga. Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya yaaa! Semoga saja kamu tidak bosan atau mengantuk lalu meninggalkanku yang sedang asik-asiknya bercerita.

Atau kamu mau gantian cerita kenangan masa kecil di blogmu? Okee! Kurasa diammu pertanda setuju. Berarti, next gantian kamu yang cerita yaa! 😊


Nyiur hijau... di tepi pantai sawah
Sumber foto : Dok. Pribadi

Baca juga : Episode Kenangan Kecil : Sungai


Senin, 25 Juni 2018

Saat bulan puasa, biasanya kita akan disibukkan dengan yang namanya buka bersama a.k.a bukber. Makin menuju lebaran makin padat (biar dikata sibuk gitu kan. HeuHeuHeu). Nahhh, salah satu bukber yang berkesan adalah bukber di Savana Camp yang dilaksanakan oleh Surga Bogor Adventure hanya beberapa hari sebelum emak-emak di dapur masak opor dan ketupat.

Karena beberapa hal (oke yang ini aku skip aja supaya cerita ga ngalor ngidul), aku dan Wiwit baru tiba di Savana Camp setelah adzan maghrib berkumandang. Sebenarnya jika melihat dari susunan acara, acara sudah dilaksanakan sejak sore. Yaudahlah yaa, akhirnya aku dan Wiwit hanya bisa mengikuti sisa acara yang ada, seperti stand up comedy yang membuat ketawa-tawa. Selain stand up comedy, ada lagi yang membuatku tertarik, yaitu campaign yang dilakukan oleh volunteer We Love Bogor, dan ketertarikan itulah yang membuat aku akhirnya menulis blog ini.


Bogor Mengikuti Kompetisi We Love Cities

Pada Tahun 2016, Kota Bogor pernah mengikuti sebuah kontes dan memenangkan predikat The Most Lovable City atau kota favorit pilihan netizen di ajang kampanye global We Love Cities 2016. Bogor unggul dibandingkan 45 kota lain di 20 negara. 

We Love Cities sendiri adalah kampanye global yang merupakan bagian dari ajang penghargaan Earth Hour City Challenge (EHCC) yang diadakan setiap tahun oleh WWF sejak tahun 2010. Kampanye ini bertujuan untuk mengangkat beragam solusi untuk mewujudkan kota berkelanjutan dan menjadi media dialog antara masyarakat dan pemerintah kota demi menjadi kota yang ramah dan layak ditempati.

Setelah tahun 2016 Kota Bogor memenangkan predikat tersebut, Tahun 2018 ini Kota Bogor kembali mengkampanyekan diri menjadi "The Most Lovable City 2018" dalam kompetisi We Love Cities 2018 yang diikuti oleh 3 kota di Indonesia bersama 50 kota dari 21 negara. 


Tunjukkan Bogor pada Dunia

Campaign "We love Cities 2018" sudah dimulai sejak 07 Mei 2018 - 30 Juni 2018. Berarti hanya beberapa hari lagi tersisa sebelum vote ditutup.

Ada tiga kanal yang bisa kita gunakan untuk mensupport Bogor pada kontes ini :

  1. Gunakan hastag #WeLoveBogor pada setiap update Instagram, Facebook, dan Twitter.
  2. Klik "VOTE NOW" pada laman We Love Cities disini (setiap 24 jam sekali)
  3. Isi kolom saran "IMPROVE BOGOR". Pilihan Improve Bogor ada di bawah Vote Now. atau klik disini

Ayo kita dukung Bogor supaya kembali memenangkan predikat The Most Lovable City di ajang kampanye global We Love Cities 2018 ini.



Kami sudah vote Bogor. Kamu?


Jumat, 01 Juni 2018

Jangan ngaku sudah pernah keliling Indonesia kalau belum pernah mampir ke Kendari. Ya, ujung tenggara pulau Sulawesi ini memang sering terlupakan oleh para traveler. Padahal ada banyak penerbangan menuju Bandara Haluoleo, termasuk dengan Sriwijaya Air. Potensi wisata Kendari tidak bisa dianggap remeh, lho. Ada banyak destinasi yang tak kalah keren bila dibandingkan dengan tempat-tempat wisata lainnya di Indonesia Timur. Kalau sudah punya rencana menghabiskan musim liburan di sudut Nusantara yang belum pernah kamu datangi, coba kunjungi ibukota Sulawesi Tenggara ini dan temukan keindahan-keindahan pariwisata Kendari.

Pulau Labengki

Photo by adventurism.id

Destinasi ini memang dikenal sebagai yang paling favorit di antara sekian banyak pesona alam di Sulawesi Tenggara karena memiliki ‘karakter’ seperti Raja Ampat dengan 20 pulau-pulau kecil. Untuk mencapai Pulau Labengki dibutuhkan perjalanan menyeberangi lautan selama kurang-lebih satu jam. Di sana, kamu bisa menghabiskan waktu dengan diving atau snorkeling, ketemuan dengan terumbu-terumbu karang dan ikan-ikan berwarna-warni yang menjadi penduduk di sekitar perairan Pulau Labengki.

Pulau Bokori

Photo by hendri/netz.id

Kendari dipenuhi dengan wisata bahari level tinggi. Selain Pulau Labengki, ada pula Pulau Bokori. Sebuah pulau dengan pantai yang memiliki pasir putih super bersih serta suasana yang tenteram dan nyaman. Selain bersantai di bibir pantai, kamu juga bisa sedikit memancing adrenalin dengan bermain banana boat atau jet ski.

Pantai Taipa

Photo by amabeltravel.com

Pantai Taipa bisa kamu temukan di daerah Lembo. Kalau beruntung, akan terlihat burung maleo yang langka dan dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Tapi ingat, jangan mengganggu aktivitas burung maleo di sana ya.

Air Terjun Moramo

Photo by ksdae.menlhk.go.id

Jauh-jauh ke Kendari dengan Sriwijaya Air, jangan cuma main di daerah pesisir saja. Temukan juga keindahan alam pegunungan yang dimiliki, salah satunya adalah Air Terjun Moramo. Berada di Cagar Alam Tanjung Peropa, Air Terjun Moramo memiliki keunikan berkat tujuh tingkatannya. Selain itu, kondisi alam yang hijau dan asri membuat hawa di sekitar air terjun begitu segar. Saking indahnya, masyarakat Kendari percaya bahwa Air Terjun Moramo merupakan tempat mandinya para dewi kahyangan. Wah, dilarang mengintip kalau lihat ada bidadari lagi mandi!

Wawolesea

Photo by mediakonawe.com

Puas melangkahkan kaki di Kendari sampai tubuh terasa lunglai? Saatnya untuk mengembalikan stamina dengan berendam di kolam air panas. Kunjungilah Wawolesea, yang memiliki kolam dengan kandungan residu sulfat alami, bakal bikin badan terasa lebih ringan dan segar. Selain itu, untuk yang punya penyakit kulit, pemandian ini dipercaya bisa menjadi obat yang mujarab, lho.
Biar petualanganmu mengelilingi Indonesia makin komplit, segera dapatkan tiket Sriwijaya Air dan terbang menuju Kendari. Temukan berbagai keajaiban alam yang bakal bikin kamu berdecak kagum, bersyukur tinggal di negeri seindah Indonesia.

Kamis, 10 Mei 2018

3rd Anniversary AEON Mall

Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman blogger berkesempatan untuk menghadiri perayaan ulang tahun AEON Mall BSD City. Pusat perbelanjaan yang bernaung di bawah PT AMSL Indonesia ini tengah merayakan hari jadinya yang ke-3.

Mall yang mengusung konsep Jepang sejak awal berdiri ini semakin menyemarakkan suasana dengan mengusung konsep festival pasar malam Jepang, lengkap dengan dekorasi Yagura (Menara Bon Odori) dan lentera. Bon Odori adalah salah satu tarian rakyat yang popular di Jepang.


Yosakoi

Yosakoi merupakan seni tari khas kota Kochi dengan ciri khas gerakan tangan dan kaki yang dinamis. Tari ini berkembang sebagai bentuk modern tari musim panas Awa Odori.

Dalam festival musim panas di Jepang, salah satu tarian yang selalu hadir di setiap perayaannya adalah tarian Yosakoi. Pada perayaan ulang tahun ke-3, AEON Mall mengajak pengunjung untuk menari Yosakoi bersama-sama. Beruntung, saya bisa mencoba dan mempelajari langsung tarian Yosakoi tanpa harus pergi ke negaranya Nobita maupun Sinchan tersebut.

Saya dan beberapa rekan blogger mencoba langsung tarian Yosakoi dengan naruko di tangan

Pada tarian Yosakoi ini, saya memegang perkusi dari kayu yang disebut naruko ("naru" artinya bunyi, "ko" artinya kecil). Mulanya, naruko dipakai untuk mengusir burung-burung di sawah, namun sekarang naruko digunakan sebagai pelengkap tari.


Cosplay

AEON Mall juga mendatangkan Ying Tze. Bagi penggemar cosplay, pasti tidak asing dengan Ying Tze, cosplayer asal Malaysia yang memiliki 71.000 penggemar di fanpage Facebook dan sudah melanglang buana mengikuti ajang cosplay di berbagai negara.

AEON Mall mendatangkan Ying Tze, cosplayer asal Malaysia

Pada ulang tahun AEON Mall, Ying Tze menggunakan costum Emilia Re : Zero. Ternyata fansnya Ying Tze di Indonesia banyak banget loh. Ini terbukti dari antrian untuk mendapatkan tanda tangan dan foto bersama Ying Tze. Polah fans juga menarik. Ada yang mengantri membawa foto Ying Tze, bantal, hingga mengenakan costum cosplay.

Jessica, salah satu penggemar Ying Tze

Salah satu cosplayer yang mengantri untuk mendapatkan foto dan tanda tangan adalah Jessica. Saat itu Jessica mengantri sambil mengenakan tokoh kartun Kotori Minami.


Shodo

Shodo merupakan bentuk kaligrafi Jepang. Kali ini AEON Mall lagi dan lagi menghadirkan orang spesial, yaitu Nachu. Nachu merupakan seorang international artist, salah satu mantan personil SDN48 (sister group dari AKB48 dan JKT48). Yang akan saya ceritakan bukan tentang SDN48, tetapi tentang keahlian shodo yang ia miliki.

Nachu menunjukkan keahliannya dengan melukis shodo di sebuah kertas berukuran 5 meter menggunakan kuas shodo besar yang sudah disiapkan oleh panitia.



Arti kaligrafi yg ia tulis dalam kanvas panjang tersebut adalah ungkapan rasa terima kasih yg sangat mendalam yg tidak bisa dihapuskan oleh hujan.

Yang mengajar shodo harus seorang profesional, tidak boleh diajarkan oleh sembarang orang. Saya merasa beruntung karena Nachu adalah pemegang profesional shodo license yang kemudian mengajarkan kami shodo secara langsung.

Saya dan teman-teman blogger belajar shodo secara langsung

Yang susah dari shodo adalah membuat balance antara kanvas dan tinta. Dalam menulis shodo , Nachu menginfokan bahwa tidak boleh menimpa tulisan dua kali. Hal tersebut tentu membuat kami harus teliti dan mengira-ngira sebelum kuas menyentuh kanvas.

Setelah menulis shodo selesai, Nachu melihat dan memberi penilaian satu persatu pada shodo yang kami buat. Saat Nachu melihat hasil shodo saya, ia mengatakan jika di Jepang, untuk shodo yang saya buat sudah membuat saya naik kelas. Kemudian ia bahkan menanyai apakah saya sudah pernah mencoba shodo sebelumnya. Saya jawab belum, karena memang belum pernah. Saya mencoba shodo perdana di AEON Mall tersebut.

Shodo by Me


AEON Mall Banjir Diskon
Selain rangkaian keseruan tersebut, AEON Mall juga akan menyemarakkan ulang tahun ke-3 dengan "Spesial Sale", diskon hingga 70% di lebih dari 60 tenant yang hanya berlangsung selama periode 28 April - 13 Mei 2018.

Tidak hanya itu, ada tambahan benefit berupa cashback sampai dengan Rp.225.000 dengan minimal belanja Rp.600.000 dalam program "Shopping Vaganza". Jadi selama periode AEON Mall BSD City 3rd Anniversary tersebut, AEON Mall tidak hanya menghadirkan banyak hiburan terbaik namun juga program belanja yang menarik.

Ayo berkunjung ke AEON Mall, dan nikmati banjir diskonnya.

Minggu, 29 April 2018




Dalam berpetualang, kebanyakan traveler akan mengharapkan perjalanan yang sesuai rencana. Berjalan dari destinasi satu ke destinasi lainnya tanpa kendala, tidur di tempat yang nyaman, hunting foto, kemudian pulang dengan segudang foto-foto apik.

Semua itu membuat perjalanan  terasa menyenangkan, bukan? Disaat begitu banyak orang memimpikan sebuah liburan tetapi harus menahan diri karena berbagai pertimbangan, ada banyak traveler justru menganggap liburan ke tempat wisata sebagai penghilang penat yang bisa ia lakukan sebulan sekali, sebulan dua kali, bahkan bisa setiap minggu. Lhuar bhiasa.

Yang akan aku ceritakan kali ini bukan perjalanan menyenangkan dengan hotel, motel, ataupun homestay seperti perjalanan-perjalananku biasanya. Kali ini aku ingin membagikan kelanjutan sebuah cerita perjalananku ke Malang bersama Meta. Perjalanan yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga mengenangkan. Duileh so swit.

Ambil yang baiknya, buang yang buruknya. Okehh! 😉


***


Langit kota Malang perlahan gelap. Aku dan Meta masih di atas motor, belum mandi, belum makan, dekil, dan buluk. Emang dari sononya buluk hahaha. Terakhir mandi itu Jumat pagi, sekarang Sabtu malam.

Jalanan kota Malang ramai orang-orang malam mingguan. Ada yang malam mingguan sendirian, malam mingguan sama pacar, malam mingguan sama teman, malam minggu disuruh emak belanja ke minimarket kemudian balik lagi. Malam minggu itu milik siapa saja, bukan? Termasuk milik dua wanita semi cantik yang sisa-sisa kecantikannya tergerus sedikit demi sedikit oleh debu yang menghempaskan bedak dan lisptik yang bertahta di wajah ini. HeuHeuHeu.

Kami memutari kota Malang berkali-kali mencari tempat untuk tidur. Dari awal perjalanan, aku dan Meta sudah sepakat untuk backpackeran. Jadi tempat tidur malam ini juga menjadi salah satu seni dari backpackeran kami kali ini.

Kami melewati masjid, tetapi dipagar tinggi. Ada juga masjid tetapi sedang ramai kegiatan rohani. Aku lalu mengendarai motor ke arah stasiun, stasiun juga salah satu pilihan untuk menunggu pagi.

"Stasiun pilihan terakhir saja ya Met!" Sekarang kami sudah di depan stasiun Malang.

Kami membawa motor yang kami sewa di Surabaya. Itu alasanku menjadikan stasiun sebagai pilihan terakhir. Kan ga lucu kalo beli enggak, ganti iya. Belakangan aku mikir kalo stasiun kan ada tempat parkir motor yang aman? Kenapa harus khawatir? Ahhh bodoh kali aku.

Entahlah Meta sepaham juga sama aku atau manut-manut saja. Yang jelas aku kembali mengendarai motor, meninggalkan stasiun, melewati alun-alun berkali-kali.

"Disini bisa pasang tenda ga ya?"

Aku juga tidak tahu bisa pasang tenda atau tidak di alun-alun. Yang jelas alun-alun sangat ramai. Dalam perjalanan akhirnya tercetus untuk ke Kantor Polisi. Tadi sepanjang perjalanan di salah satu jalan utama Malang, ada gapura yang menuliskan kantor polisi. Karena berkali-kali melewatinya, kami sampai mengingat gapura tersebut.

Aku membelokkan motor ke arah kantor polisi. Setelah tiba dan memarkirkan motor, kami masuk ke dalam kantor polisi. Polsek Klojen, itu yang tertulis di slide show merah di depan pintu Polsek.

Kami masuk ke ruangan depan Polsek, menanyakan tempat yang diperbolehkan untuk memasang tenda di sekitaran kota Malang kepada seorang polisi yang berjaga, tetapi pak polisinya terlihat bingung mau jawab apa.

"Saya tanya pimpinan dulu ya!" Kemudian Pak Polisinya masuk. ia terlihat muda, sekitar 35 tahunan dengan perawakan tinggi.

Polisi muda itu kembali keluar.

"Disini ga ada tempat itu, mbak." Jawaban yang kurang memuaskan menurut kami. Masa ga ada tempat untuk nenda di sebuah kota wisata.

"Sebenarnya di belakang ada musholla kecil kalo mbak berdua mau istirahat. Tapi saya tanya ke pimpinan dulu ya!" 

Tanpa menunggu jawaban, polisi muda itu kembali masuk. Kali ini lumayan lama. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya polisi muda itu keluar bersama dengan seorang paruh baya, mungkin ini pimpinan yang dimaksud oleh si polisi muda.

"Ada yang bisa saya bantu?" Pertanyaan bapaknya dingin banget, dengan wajah dingin juga. Dari pertama bapak tersebut nongol, aku langsung menangkap aura terganggu di raut wajahnya. Seorang polisi yang terganggu dengan 2 wanita backpackeran yang ujuk-ujuk datang ke Polsek.

Aku dan Meta kembali menjelaskan tujuan awal yang aku yakin beliau sudah tahu dari polisi muda tadi. 

"Ga ada. Kalo mau yang sewa penginapan, disini banyak penginapan."

"Selain penginapan, Pak? Kalo penginapan tanpa bapak beritahu juga kami sudah tahu." Ahh entah kenapa mulutku tiba-tiba menjawab seperti ini. 

"Yaaaa ga ada, mbak."

"Disini ga ada orang backpackeran yang nenda gitu?"

"Ga ada."

"Jadi selama ini belum ada backpacker yang nanyain ini selain kami?"

"Selama ini ga ada."

Fix. Beliau benar-benar dingin. Dingin dan berwibawa itu beda. Yang aku tangkap saat itu adalah sikap dinginnya beliau. 

"Tadi bapak itu bilang di sini ada musholla. Boleh ga kalo kami numpang istirahat di musholla itu?" Bapak yang kumaksud adalah polisi muda yang tadi menawarkan musholla.

Beliau menolak.

"Misalkan nih pak. Kami numpang istirahat disini sampe pagi kemudian besok pagi baru melanjutkan perjalanan boleh? Kami mau ke Turen tapi sudah malam."

Beliau tetap menolak. Walaupun kami sudah jelaskan tetap saja beliau tidak mengizinkan kami.

"Turen kan Malang Kabupaten. Jam segini masih ramai kok, Mbak. Bisa istirahat disana."

"Ohh jadi Malang Kabupaten lebih memberi solusi ketimbang Malang Kota ya, Pak?" Aku ikut merespon dingin jawaban beliau.

"Iya kalian lebih baik kesana saja, Mbak."

"Yaudah makasih ya, Pak. Kami mau ke Malang Kabupaten saja. Mungkin Malang Kabupaten ngasih solusi yang lebih baik ketimbang Malang Kota. Permisi!" Aku kembali mengulangi kata-kataku barusan. 

Beliau dan polisi muda sempat bertatapan. Mungkin mereka berusaha mencerna ucapanku barusan. Entahlah! Aku malas memikirkan itu terlalu jauh. Polisi muda yang dari tadi masih ada disitu hanya diam saja sejak tadi.

Aku dan Meta bergegas meninggalkan Polsek Klojen. Jujur sih sedih, tapi kami ga bisa berbuat apa-apa. Mungkin memang ketentuan disana seperti itu. Hanya saja kami sama sekali tidak menyangka akan mendapat jawaban-jawaban penolakan super dingin, seolah traveler hanya memiliki satu pilihan : penginapan. Seolah kami tidak layak mendapatkan jawaban-jawaban hangat, atau penolakan-penolakan yang disampaikan dengan baik. 


***


Aku dan Meta kembali berada di jalanan Kota Malang. Bahkan kami hampir mengingat jalanan dan perempatan sana.

"Kita ke Toko Oen aja yuk! Aku mau nyobain kopinya. Sekalian kita mikir-mikir mau tidur dimana!" Kami bahkan hampir melupakan rencana ke Toko Oen.

"Hayuk!"

Bermodalkan Google Maps, motor melaju ke arah Toko Oen. Ternyata Toko Oen itu ada di sekitar Alun-Alun Malang hahahahaha. Berarti kami sudah berkali-kali lewat sekitar Toko Oen.

WELKOM IN MALANG. Toko Oen die sinds 1930 aan de gasten gezelligheid geeft

Sebuah spanduk putih dengan tulisan kapital berwarna merah menyambut kedatangan kami. Sejak pertama datang, suasana klasik bangunan tuanya membawa kami ke suasana tempo doeloe. Memasuki toko, fikiran seolah diajak untuk menikmati masa lampau, mundur berpuluh-puluh tahun ke belakang. Lumayan mengusir kekesalan di polsek tadi.

Kami mengambil tempat duduk kosong di bagian dalam. Ada kursi klasik berwarna biru tosca dan cream menghiasi ruangan. Saat duduk, aku bisa mencium aroma cat dari kursi yang aku tempati. Mungkin baru di cat ulang, fikirku.

Aku memesan segelas kopi dan Meta memesan segelas es krim. Sambil menunggu pesanan tiba, kami memilih untuk beristirahat setelah seharian berada di jalan raya. Aku menyukai kaki kursi Toko Oen yang rendah, juga suasana tempo doeloe yang menaungi toko membuat tubuhku menjadi rileks. Bahkan Meta sempat tertidur hahahaha.

Lama ditunggu, akhirnya pesanan kami datang juga.

Sambil menikmati pesanan, aku dan Meta membahas kejadian di polsek tadi. Hanya saja kali ini kami sudah tidak kesal seperti saat mendengar jawaban-jawaban beliau tadi.

"Mungkin mereka berhati-hati." Itu alasan paling klasik yang ada di fikiran kami, setidaknya supaya malam ini tidak berlalu dengan kekesalan.

Apalagi mengingat perjalanan yang sudah kami lewati dengan cerita-cerita perjalanan yang penuh kejutan, sambutan beliau di Polsek tadi aku anggap seperti seni sebuah perjalanan. Mau gampang tinggal ke penginapan. Sesederhana itu. Tidak mau melewati perjalanan yang sederhana? Yaudah nikmati saja pengalaman-pengalaman unik di perjalanannya.


***


Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam di Toko Oen, kami melanjutkan hunting. Hunting tempat tidur hahaha.

Ke rumah sakit aja yuk!" Kami sudah berkali-kali melewati rumah sakit, tapi sama sekali tidak terpikirkan untuk tidur di rumah sakit. Entah ada angin dari mana, Meta mencetuskan ide tersebut.

"Yaudah hayuk!"

Motor melaju pelan menuju rumah sakit yang dimaksud. Lihatlah! Kami bahkan ingat dimana lokasi rumah sakit. Memasuki wilayah rumah sakit, kami memarkirkan motor kemudian mencari tempat yang sekiranya layak untuk menjadi tempat tidur.

"Supaya security ga curiga, kita harus hati-hati, Kal!"

What? Hati-hati yang seperti apa? Berjalan mengendap-endap di tepian dinding? sedikit merunduk? atau merayap?

Hahaha enggak-enggak. Kami bukan seorang buronan atau maling. Kami tetap berjalan seperti biasa dengan carrier besar di punggung. Maksud Meta adalah masuk seperti pengunjung lain, walaupun pengunjung lain jelas-jelas tidak menggendong carrier di punggungnya.

Sejujurnya aku jaraaaannnggggg banget ke rumah sakit. Aku ke rumah sakit hanya saat menjenguk jika ada keluarga atau kerabat sakit. Jadi aku tidak memiliki bayangan apapun tentang menumpang tidur di rumah sakit.

Aku hanya mengintil Meta dari belakang. Tidak mau mikir yang aneh-aneh dulu.

"Kita ke situ, Kal!" meta menunjuk ke gedung sebelah kiri. Aku manut saja. Setelah dekat aku baru tahu ternyata gedung yang dimaksud adalah gedung Instalasi Gawat Darurat.

"Serius Metaaa?" Rasanya aku ingin menanyakan ini ke Meta, tetapi Meta juga sama sepertiku, tidak menyangka akan ada ide untuk tidur di rumah sakit. Hanya saja bedanya Meta pernah menginap di rumah sakit atau di ruang tunggu IGD sebelumnya. Tapi bukan di IGD Malang tentu saja.

Kami masuk ke ruang tunggu. Disana terdapat ruangan besar dan keluarga pasien yang menginap di ruang tunggu IGD. Aku dan Meta menuju tempat kosong yang luas, di samping seorang wanita muda yang berumur sekitar 30 tahunan. Kami memutuskan untuk menghabiskan malam disana.

Setelah mengobrol sebentar dengan mbak-mbak disampingku, aku baru tahu ternyata mereka adalah keluarga pasien yang memutuskan menunggu keluarganya dengan menginap di IGD. Aku melihat sekeliling, ada yang membawa kasur lipat, ada juga yang hanya melapisi lantai dengan tikar.

Setelah mengeluarkan perlengkapan tidur dan mencuci muka di toilet ruang tunggu, aku dan Meta membeli nasi goreng di depan IGD. Rencananya aku dan Meta ingin makan di tempat jual nasi goreng saja. Tetapi setelah tadi sempat mengobrol dengan mbak-mbak disamping tempat tidur dan tahu ternyata dia belum makan, jadinya aku dan Meta membeli nasi goreng lebih dan memutuskan makan bareng di ruang tunggu.

Sambil makan bareng, kami mengobrol banyak hal. Dari pertanyaan-pertanyaan mereka seputar perjalanan kami hingga akhirnya memutuskan tidur di IGD, hingga mengobrol tentang mbak tersebut. Tenyata mbak tersebut sudah tidur di ruang tunggu selama beberapa minggu, menunggu salah satu keluarganya yang sudah berminggu-minggu dirawat.

Tidur di IGD malam itu membuat kami belajar banyak hal, termasuk mensyukuri kesehatan yang kami miliki hingga akhirnya kami bisa melakukan perjalanan-perjalanan tanpa dipenuhi banyak kekhawatiran. Kami bersyukur karena ternyata dari sekian banyak warga Malang bahkan belum menikmati keindahan wisata di daerahnya sendiri, kami justru memiliki waktu dan rejeki untuk mengeksplore daerah orang lain.

Mata sudah berat. Setelah cukup lama mengobrol dengan mbak-mbak di samping kami, kami mulai menyelonjorkan badan di matras yang memang kami bawa, kemudian masuk ke dalam sleeping bag untuk beristirahat. Besok jam setengah 6 pagi kami sudah harus melanjutkan perjalanan ke Turen.


***


Rencana jalan jam setengah 6 hanyalah rencana. Kami bangun hampir jam 6. Itupun karena suara riuh di kiri dan kanan. Meta menuju kamar mandi yang disediakan oleh pihak rumah sakit untuk pengunjung atau keluarga pasien, sedangkan aku bergegas packing.

"Cuss sana mandi, Kal!" Ucap Meta setelah keluar dari kamar mandi.

"Iyaa. Nitip barang yaa!" Ucapku seraya menunjuk carrier yang sudah dipacking rapi.

Aku bergegas ke kamar mandi. Tubuhku sudah lengket sana-sini. Mandi dan keramas pasti sangat menyegarkan.

Aku tidak ingat berapa lama aku mandi, hingga ada panggilan dari luar kamar mandi.

"Kall!!! Kall!!! Buruan. Kita diusir."

What? Diusir? Aku sudah selesai mandi. Tinggal membereskan peralatan mandi. Setelah aku keluar, aku melihat tempat yang tadi malam ditiduri oleh sekian banyak keluarga pasien ternyata kosong. Tidak ada tikar-tikar ataupun kasur-kasur. Hanya tinggal carrier kami. Kami bergegas menggendong carrier dan keluar gedung.

"Itu kenapa, Met?"

"Kirain tadi kita diusir-usirin. Ternyata itu cleaning service mau bersih-bersih, makanya dibuat kosong. Nahhh... Tadi security datang gara-gara ngeliat carrier kita."

"Terusss??"

"Ya dia heran kok ada tas gunung segala, kayak bukan keluarga pasien. Akhirnya aku di tanya-tanyain. Untung securitynya baik."

Aku lega mendengar penjelasan Meta barusan. Kami berjalan ke arah parkiran, mengambil motor, lalu melanjutkan perjalanan ke Turen.

IGD yang telah menyelamatkan malamku dan Meta




Jumat, 20 April 2018


Akhirnyaaaaaa... 30 hari itu terlewati juga. 30 hari melakukan hal yang tidak pernah terfikirkan olehku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk melakukannya. Aku ingat bagaimana aku membangun mood menulis untuk setoran tulisan hari pertama. Aku memantapkan niatku untuk mengikuti 30 Day Writing Challenge.

Hari pertama berlalu. Yaaaaaa... tulisan kubaca berkali-kali, kuperbaiki jika ada typo, kutata kembali kalimat demi kalimat supaya lebih indah dibaca. Hari kedua dan ketiga aku menulis dengan tenang, aku menceritakan bagian hidupku saat masih kecil. Aku merasakan bagaimana tanganku mengalir di atas keypad handphone, untuk kemudian malamnya aku post di blog dan ku perbaiki di depan layar laptop. Hari demi hari aku merasakan bahwa mengetik di laptop terasa jauh lebih nyaman, membuat aku lebih memilih menulis langsung di laptop dan tidak mencicilnya di draft handphone.


Otak yang begah

Berhari-hari kemudian aku merasakan kesulitan dalam menulis. Ide yang buntu, jenuh, juga sifat malas yang aku yakini bisa aku hilangkan kembali mengganggu. Aku menulis di 2 jam terakhir dengan total 24 jam yang dimiliki dalam sehari. Seandainya Tuhan benar-benar mengabulkan permintaanku untuk membulatkan waktu menjadi 30 jam perhari sekalipun, aku tidak yakin akan memanfaatkannya.

Yang membuatku tetap menulis adalah niat yang besar. Sedikit lebih banyak dibanding perasaan malas, setidaknya sifat malas menulis ini. Saat aku lelah, aku memaksakan tubuhku untuk duduk di depan laptop, memaksakan tanganku untuk menyentuh keyboard, memaksa kepalaku untuk memuntahkan isinya kemudian meramunya menjadi tulisan.

Aku merasakan tulisanku yang semakin hari semakin tidak bernyawa, aku memposting tulisan yang sekarat, tanpa kuobati, juga tanpa kujenguk. Esoknya aku kembali melakukan hal yang sama. Betapa banyak tulisan yang tidak kujenguk atau kuobati. Aku hanya menulis sebentar, tanpa mengendapkannya, juga tanpa menjadikan diri sebagai editor untuk tulisan sendiri. Yang penting aku menulis, kemudian setor. Selesai!

Pernah di beberapa tulisan saat aku sedang dalam perjalanan ke Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan yang berada di ujung Denpasar. Sulit sinyal, baterai yang sekarat, perjalanan yang membuatku tidak bisa menulis dengan leluasa. Saat itu aku memaksakan diriku menulis, aku mencicilnya di sela-sela waktu kosong, Luar biasa! aku berhasil melakukannya. Bahkan sebelum naik pesawat, aku mencicil tulisanku di mobil, di KFC bandara, di ruang tunggu, dan aku memposting tulisan persis setelah aku meletakkan tasku di kabin, hanya beberapa menit sebelum handphone beralih ke mode pesawat. Betapa berartinya waktu saat itu. Aku bisa menikmati pergantian tanggal di atas ketinggian dengan tenang.


Ilmu baru dan kerit(p)ik pedas manis

Ada banyak ilmu baru yang aku dapatkan di challenge ini. Selain dilatih untuk membentuk kebiasaan, challenge ini mempertemukan aku dengan penulis-penulis yang hebat. 100 orang dibagi menjadi 10 squad. Aku masuk ke squad terakhir, Squad 10. Setiap minggu, akan ada 2 hingga 3 kali materi-materi tentang dunia kepenulisan. Benar-benar diluar ekspektasi. Aku hanya membayangkan menulis 30 hari nonstop. Ternyata tidak sesederhana itu.



Ada begitu banyak aktifitas selain menulis. Omaigat!

Selain menyantap materi yang terkadang membuat otakku terasa kembung dan begah, ternyata ada feedback tulisan. Feedback yang random membuat tulisan semestinya dibuat dengan tidak asal-asalan. Feedback dari Squad sendiri, feedback dari Squad sebelah, dan feedback dari mentor sama-sama mendebarkan. Ada feedback yang memuji, ada juga yang mengkritik.

  • "Gaya bahasa sederhana. Mudah dipahami. Perlu ditambahi showing, Kak. Biar pembaca bisa merasakan keadaan disana."
  • "Pengembangan dialog sudah bagus. Cuma penataan kalimat ada yang kurang efektif, jadi kesannya datar."
  • "Masih ada beberapa typo. Tulisan yang tidak ada di KBBI seharusnya dimiringkan."
  • "Tulisannya sudah bagus. Mengalir saat dibaca. Penulisan yang menunjukkan tempat diperhatikan lagi."
  • "Jujur tulisan ini sepertinya mundur. Lebih bagus tulisan kakak yang saya feedback tentang Waktu Part 2 kemarin."
  • "Bingung dengan alurnya, kurang ngalir. Seakan perpindahan dari paragraf ke paragraf lainnya terkesan memaksa. Membacanya terasa flat. Pesannya kurang nyampe."
  • "Ini mau dijadikan buku atau bagaimana, kok sampai part 9? Menurut saya temponya lambat. Banyak yang saya skip. Jika memang mau dibuat naskah panjang, berikan setiap makna berbeda dalam setiap partnya. Sehingga tidak hanya bercerita yang bukan menjadi isi pesannya. Coba bikin outline atau mind mapping dulu."
  • "Waktu sudah berjalan ke Part 18 yaaa. Keren banget untuk konsistensi sama day sekarang. Tulisan lama-lama makin berkembang. Cuma kemarin belum dapat feel, disini juga."
  • "Masih biasa saja. Tidak ada kisah atau narasi juga dialog yang berkesan pada part ini. Mungkin itu tantangan tulisan bersambung. Semangat, Kak Kal!"
  • "Boleh tanya? Apa perbaikan yang telah dilakukan dari feedback yang saya sampaikan sebelumnya? Jujur saya belum melihat ada yang berbeda. Ada yang tidak sepakat dengan feedback saya? Atau tidak dibaca?"


Begitu banyak semangat dan kritikan pedas yang datang pada tulisan-tulisan yang ku buat. Aku sadar, jelas. Aku sudah tidak percaya diri pada tulisanku bahkan sebelum mereka melihatnya. Pernah di satu titik aku lelah, lelah fikiran, lelah hati, juga lelah fisik. Di satu sisi aku ingin mengabaikan challenge ini, tetapi disisi lain aku menyadari bahwa fikiran inilah yang harus aku musnahkan. Semua kritikan itu benar, semua kritikan itu betul-betul membangun. Ada banyak ilmu baru dalam dunia kepenulisan yang sebelumnya tidak pernah masuk ke dalam fikiranku.

Aku akan berusaha memperbaikinya. Aku berjanji akan meluangkan waktu menjenguk tulisan-tulisanku selama 30 hari belakangan ini. Mengevaluasi tulisanku sendiri, kemudian aku akan mengobatinya satu persatu.


Finally. Yeaayyyy!

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tulisan ini adalah tulisan ke 30 di 30 Day Writing Challenge. Aku merasa bahagia karena berhasil meyakini diriku sendiri. Aku bahagia pada diri sendiri yang mampu menulis tiada henti, berhasil menyelesaikan challenge ini tanpa melewatinya satupun. Aku ingat betul saat di hari pertama ada 100an penulis yang ikut challenge ini, yang kemudian berguguran satu persatu di tengah jalan.

Hingga akhirnya 30 hari terlewati juga, walaupun tulisan ini juga ku buat jam 10 malam hahaha. Masuk di dunia yang sama sekali tidak pernah terbayangkan, berusaha hidup di dalamnya hingga 30 hari ke depan jujur saja membuat otakku menciut. Maklumi saja jika beberapa hari ke depan tidak ada tulisan yang kubuat. Mungkin beberapa hari ke depan aku akan istirahat menulis dulu hahaha.

Ada banyak hal yang aku evaluasi, terkait diri sendiri. Ternyata menulis itu susah, dan butuh konsistensi. Aku membayangkan penulis-penulis luar biasa diluar sana. Mereka sudah menerbitkan buku-buku yang memiliki nyawa. Mereka hebat.

Tulus dari hati aku mengakui bahwa aku mengagumi mereka.

Pertanyaan untuk diri sendiri "Kal, setelah selesai 30 DWC Jilid 12 ini, kamu masih mau ikut challenge ini lagi ga?" Jawabannya Masih. Masih ada begitu banyak ilmu kepenulisan yang harus aku pelajari. Aku masih ingin dipecut dengan kritikan-kritikan. Aku masih ingin belajar melahirkan nyawa dalam tulisan. Aku masih memiliki impian.

Follow Kal di @kalenaefris