Jumat, 01 Juni 2018

Jangan ngaku sudah pernah keliling Indonesia kalau belum pernah mampir ke Kendari. Ya, ujung tenggara pulau Sulawesi ini memang sering terlupakan oleh para traveler. Padahal ada banyak penerbangan menuju Bandara Haluoleo, termasuk dengan Sriwijaya Air. Potensi wisata Kendari tidak bisa dianggap remeh, lho. Ada banyak destinasi yang tak kalah keren bila dibandingkan dengan tempat-tempat wisata lainnya di Indonesia Timur. Kalau sudah punya rencana menghabiskan musim liburan di sudut Nusantara yang belum pernah kamu datangi, coba kunjungi ibukota Sulawesi Tenggara ini dan temukan keindahan-keindahan pariwisata Kendari.

Pulau Labengki

Photo by adventurism.id

Destinasi ini memang dikenal sebagai yang paling favorit di antara sekian banyak pesona alam di Sulawesi Tenggara karena memiliki ‘karakter’ seperti Raja Ampat dengan 20 pulau-pulau kecil. Untuk mencapai Pulau Labengki dibutuhkan perjalanan menyeberangi lautan selama kurang-lebih satu jam. Di sana, kamu bisa menghabiskan waktu dengan diving atau snorkeling, ketemuan dengan terumbu-terumbu karang dan ikan-ikan berwarna-warni yang menjadi penduduk di sekitar perairan Pulau Labengki.

Pulau Bokori

Photo by hendri/netz.id

Kendari dipenuhi dengan wisata bahari level tinggi. Selain Pulau Labengki, ada pula Pulau Bokori. Sebuah pulau dengan pantai yang memiliki pasir putih super bersih serta suasana yang tenteram dan nyaman. Selain bersantai di bibir pantai, kamu juga bisa sedikit memancing adrenalin dengan bermain banana boat atau jet ski.

Pantai Taipa

Photo by amabeltravel.com

Pantai Taipa bisa kamu temukan di daerah Lembo. Kalau beruntung, akan terlihat burung maleo yang langka dan dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Tapi ingat, jangan mengganggu aktivitas burung maleo di sana ya.

Air Terjun Moramo

Photo by ksdae.menlhk.go.id

Jauh-jauh ke Kendari dengan Sriwijaya Air, jangan cuma main di daerah pesisir saja. Temukan juga keindahan alam pegunungan yang dimiliki, salah satunya adalah Air Terjun Moramo. Berada di Cagar Alam Tanjung Peropa, Air Terjun Moramo memiliki keunikan berkat tujuh tingkatannya. Selain itu, kondisi alam yang hijau dan asri membuat hawa di sekitar air terjun begitu segar. Saking indahnya, masyarakat Kendari percaya bahwa Air Terjun Moramo merupakan tempat mandinya para dewi kahyangan. Wah, dilarang mengintip kalau lihat ada bidadari lagi mandi!

Wawolesea

Photo by mediakonawe.com

Puas melangkahkan kaki di Kendari sampai tubuh terasa lunglai? Saatnya untuk mengembalikan stamina dengan berendam di kolam air panas. Kunjungilah Wawolesea, yang memiliki kolam dengan kandungan residu sulfat alami, bakal bikin badan terasa lebih ringan dan segar. Selain itu, untuk yang punya penyakit kulit, pemandian ini dipercaya bisa menjadi obat yang mujarab, lho.
Biar petualanganmu mengelilingi Indonesia makin komplit, segera dapatkan tiket Sriwijaya Air dan terbang menuju Kendari. Temukan berbagai keajaiban alam yang bakal bikin kamu berdecak kagum, bersyukur tinggal di negeri seindah Indonesia.

Kamis, 10 Mei 2018

3rd Anniversary AEON Mall

Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman blogger berkesempatan untuk menghadiri perayaan ulang tahun AEON Mall BSD City. Pusat perbelanjaan yang bernaung di bawah PT AMSL Indonesia ini tengah merayakan hari jadinya yang ke-3.

Mall yang mengusung konsep Jepang sejak awal berdiri ini semakin menyemarakkan suasana dengan mengusung konsep festival pasar malam Jepang, lengkap dengan dekorasi Yagura (Menara Bon Odori) dan lentera. Bon Odori adalah salah satu tarian rakyat yang popular di Jepang.


Yosakoi

Yosakoi merupakan seni tari khas kota Kochi dengan ciri khas gerakan tangan dan kaki yang dinamis. Tari ini berkembang sebagai bentuk modern tari musim panas Awa Odori.

Dalam festival musim panas di Jepang, salah satu tarian yang selalu hadir di setiap perayaannya adalah tarian Yosakoi. Pada perayaan ulang tahun ke-3, AEON Mall mengajak pengunjung untuk menari Yosakoi bersama-sama. Beruntung, saya bisa mencoba dan mempelajari langsung tarian Yosakoi tanpa harus pergi ke negaranya Nobita maupun Sinchan tersebut.

Saya dan beberapa rekan blogger mencoba langsung tarian Yosakoi dengan naruko di tangan

Pada tarian Yosakoi ini, saya memegang perkusi dari kayu yang disebut naruko ("naru" artinya bunyi, "ko" artinya kecil). Mulanya, naruko dipakai untuk mengusir burung-burung di sawah, namun sekarang naruko digunakan sebagai pelengkap tari.


Cosplay

AEON Mall juga mendatangkan Ying Tze. Bagi penggemar cosplay, pasti tidak asing dengan Ying Tze, cosplayer asal Malaysia yang memiliki 71.000 penggemar di fanpage Facebook dan sudah melanglang buana mengikuti ajang cosplay di berbagai negara.

AEON Mall mendatangkan Ying Tze, cosplayer asal Malaysia

Pada ulang tahun AEON Mall, Ying Tze menggunakan costum Emilia Re : Zero. Ternyata fansnya Ying Tze di Indonesia banyak banget loh. Ini terbukti dari antrian untuk mendapatkan tanda tangan dan foto bersama Ying Tze. Polah fans juga menarik. Ada yang mengantri membawa foto Ying Tze, bantal, hingga mengenakan costum cosplay.

Jessica, salah satu penggemar Ying Tze

Salah satu cosplayer yang mengantri untuk mendapatkan foto dan tanda tangan adalah Jessica. Saat itu Jessica mengantri sambil mengenakan tokoh kartun Kotori Minami.


Shodo

Shodo merupakan bentuk kaligrafi Jepang. Kali ini AEON Mall lagi dan lagi menghadirkan orang spesial, yaitu Nachu. Nachu merupakan seorang international artist, salah satu mantan personil SDN48 (sister group dari AKB48 dan JKT48). Yang akan saya ceritakan bukan tentang SDN48, tetapi tentang keahlian shodo yang ia miliki.

Nachu menunjukkan keahliannya dengan melukis shodo di sebuah kertas berukuran 5 meter menggunakan kuas shodo besar yang sudah disiapkan oleh panitia.



Arti kaligrafi yg ia tulis dalam kanvas panjang tersebut adalah ungkapan rasa terima kasih yg sangat mendalam yg tidak bisa dihapuskan oleh hujan.

Yang mengajar shodo harus seorang profesional, tidak boleh diajarkan oleh sembarang orang. Saya merasa beruntung karena Nachu adalah pemegang profesional shodo license yang kemudian mengajarkan kami shodo secara langsung.

Saya dan teman-teman blogger belajar shodo secara langsung

Yang susah dari shodo adalah membuat balance antara kanvas dan tinta. Dalam menulis shodo , Nachu menginfokan bahwa tidak boleh menimpa tulisan dua kali. Hal tersebut tentu membuat kami harus teliti dan mengira-ngira sebelum kuas menyentuh kanvas.

Setelah menulis shodo selesai, Nachu melihat dan memberi penilaian satu persatu pada shodo yang kami buat. Saat Nachu melihat hasil shodo saya, ia mengatakan jika di Jepang, untuk shodo yang saya buat sudah membuat saya naik kelas. Kemudian ia bahkan menanyai apakah saya sudah pernah mencoba shodo sebelumnya. Saya jawab belum, karena memang belum pernah. Saya mencoba shodo perdana di AEON Mall tersebut.

Shodo by Me


AEON Mall Banjir Diskon
Selain rangkaian keseruan tersebut, AEON Mall juga akan menyemarakkan ulang tahun ke-3 dengan "Spesial Sale", diskon hingga 70% di lebih dari 60 tenant yang hanya berlangsung selama periode 28 April - 13 Mei 2018.

Tidak hanya itu, ada tambahan benefit berupa cashback sampai dengan Rp.225.000 dengan minimal belanja Rp.600.000 dalam program "Shopping Vaganza". Jadi selama periode AEON Mall BSD City 3rd Anniversary tersebut, AEON Mall tidak hanya menghadirkan banyak hiburan terbaik namun juga program belanja yang menarik.

Ayo berkunjung ke AEON Mall, dan nikmati banjir diskonnya.

Minggu, 29 April 2018




Dalam berpetualang, kebanyakan traveler akan mengharapkan perjalanan yang sesuai rencana. Berjalan dari destinasi satu ke destinasi lainnya tanpa kendala, tidur di tempat yang nyaman, hunting foto, kemudian pulang dengan segudang foto-foto apik.

Semua itu membuat perjalanan  terasa menyenangkan, bukan? Disaat begitu banyak orang memimpikan sebuah liburan tetapi harus menahan diri karena berbagai pertimbangan, ada banyak traveler justru menganggap liburan ke tempat wisata sebagai penghilang penat yang bisa ia lakukan sebulan sekali, sebulan dua kali, bahkan bisa setiap minggu. Lhuar bhiasa.

Yang akan aku ceritakan kali ini bukan perjalanan menyenangkan dengan hotel, motel, ataupun homestay seperti perjalanan-perjalananku biasanya. Kali ini aku ingin membagikan kelanjutan sebuah cerita perjalananku ke Malang bersama Meta. Perjalanan yang bukan hanya menyenangkan, tetapi juga mengenangkan. Duileh so swit.

Ambil yang baiknya, buang yang buruknya. Okehh! 😉


***


Langit kota Malang perlahan gelap. Aku dan Meta masih di atas motor, belum mandi, belum makan, dekil, dan buluk. Emang dari sononya buluk hahaha. Terakhir mandi itu Jumat pagi, sekarang Sabtu malam.

Jalanan kota Malang ramai orang-orang malam mingguan. Ada yang malam mingguan sendirian, malam mingguan sama pacar, malam mingguan sama teman, malam minggu disuruh emak belanja ke minimarket kemudian balik lagi. Malam minggu itu milik siapa saja, bukan? Termasuk milik dua wanita semi cantik yang sisa-sisa kecantikannya tergerus sedikit demi sedikit oleh debu yang menghempaskan bedak dan lisptik yang bertahta di wajah ini. HeuHeuHeu.

Kami memutari kota Malang berkali-kali mencari tempat untuk tidur. Dari awal perjalanan, aku dan Meta sudah sepakat untuk backpackeran. Jadi tempat tidur malam ini juga menjadi salah satu seni dari backpackeran kami kali ini.

Kami melewati masjid, tetapi dipagar tinggi. Ada juga masjid tetapi sedang ramai kegiatan rohani. Aku lalu mengendarai motor ke arah stasiun, stasiun juga salah satu pilihan untuk menunggu pagi.

"Stasiun pilihan terakhir saja ya Met!" Sekarang kami sudah di depan stasiun Malang.

Kami membawa motor yang kami sewa di Surabaya. Itu alasanku menjadikan stasiun sebagai pilihan terakhir. Kan ga lucu kalo beli enggak, ganti iya. Belakangan aku mikir kalo stasiun kan ada tempat parkir motor yang aman? Kenapa harus khawatir? Ahhh bodoh kali aku.

Entahlah Meta sepaham juga sama aku atau manut-manut saja. Yang jelas aku kembali mengendarai motor, meninggalkan stasiun, melewati alun-alun berkali-kali.

"Disini bisa pasang tenda ga ya?"

Aku juga tidak tahu bisa pasang tenda atau tidak di alun-alun. Yang jelas alun-alun sangat ramai. Dalam perjalanan akhirnya tercetus untuk ke Kantor Polisi. Tadi sepanjang perjalanan di salah satu jalan utama Malang, ada gapura yang menuliskan kantor polisi. Karena berkali-kali melewatinya, kami sampai mengingat gapura tersebut.

Aku membelokkan motor ke arah kantor polisi. Setelah tiba dan memarkirkan motor, kami masuk ke dalam kantor polisi. Polsek Klojen, itu yang tertulis di slide show merah di depan pintu Polsek.

Kami masuk ke ruangan depan Polsek, menanyakan tempat yang diperbolehkan untuk memasang tenda di sekitaran kota Malang kepada seorang polisi yang berjaga, tetapi pak polisinya terlihat bingung mau jawab apa.

"Saya tanya pimpinan dulu ya!" Kemudian Pak Polisinya masuk. ia terlihat muda, sekitar 35 tahunan dengan perawakan tinggi.

Polisi muda itu kembali keluar.

"Disini ga ada tempat itu, mbak." Jawaban yang kurang memuaskan menurut kami. Masa ga ada tempat untuk nenda di sebuah kota wisata.

"Sebenarnya di belakang ada musholla kecil kalo mbak berdua mau istirahat. Tapi saya tanya ke pimpinan dulu ya!" 

Tanpa menunggu jawaban, polisi muda itu kembali masuk. Kali ini lumayan lama. Setelah beberapa lama menunggu akhirnya polisi muda itu keluar bersama dengan seorang paruh baya. Kami langsung menebak bahwa ini pimpinan yang dimaksud oleh si polisi muda.

"Ada yang bisa saya bantu?" Pertanyaan yang dingin dengan wajah dingin. Sorry to say, aku menangkap wajah terganggu di raut wajahnya. Seorang polisi yang terganggu dengan 2 wanita backpackeran yang ujuk-ujuk datang ke Polsek.

Aku dan Meta kembali menjelaskan tujuan awal yang aku yakin beliau sudah tahu dari polisi muda tadi. 

"Ga ada. Kalo mau yang sewa penginapan, disini banyak penginapan."

"Selain penginapan, Pak? Kalo penginapan tanpa bapak beritahu juga kami sudah tahu." Ahh entah kenapa mulutku tiba-tiba menjawab seperti ini. 

"Yaaaa ga ada, mbak."

"Disini ga ada orang backpackeran yang nenda gitu?"

"Ga ada."

"Jadi selama ini belum ada backpacker yang nanyain ini selain kami?"

"Selama ini ga ada."

Fix. Beliau benar-benar dingin. Dingin dan berwibawa itu beda. Ku ulangi sekali lagi, beliau dingin.

"Tadi bapak itu bilang di sini ada musholla. Boleh ga kalo kami numpang istirahat di musholla itu?" Bapak yang kumaksud adalah polisi muda yang tadi menawarkan musholla.

Beliau menolak.

"Misalkan nih pak. Kami numpang istirahat disini sampe pagi kemudian besok pagi baru melanjutkan perjalanan boleh? Kami mau ke Turen tapi sudah malam."

Beliau tetap menolak. Walaupun kami sudah jelaskan tetap saja beliau dingin.

"Turen kan Malang Kabupaten. Jam segini masih ramai kok, Mbak. Bisa istirahat disana."

"Ohh jadi Malang Kabupaten lebih memberi solusi ketimbang Malang Kota ya, Pak?" Aku ikut merespon dingin jawaban beliau.

"Iya kalian lebih baik kesana saja, Mbak."

"Yaudah makasih ya, Pak. Kami mau ke Malang Kabupaten saja. Mungkin Malang Kabupaten ngasih solusi yang lebih baik ketimbang Malang Kota. Permisi!" Aku kembali mengulangi kata-kataku barusan. 

Beliau dan polisi muda sempat bertatapan. Mungkin mereka berusaha mencerna ucapanku barusan. Entahlah! Aku malas memikirkan itu terlalu jauh. Polisi muda yang dari tadi masih ada disitu hanya diam saja sejak tadi.

Aku dan Meta bergegas meninggalkan Polsek Klojen, sama sekali tidak menyangka akan mendapat jawaban-jawaban penolakan super dingin, seolah traveler hanya memiliki satu pilihan : penginapan. Seolah kami tidak layak mendapatkan jawaban-jawaban hangat, atau penolakan-penolakan yang disampaikan dengan baik.


***


Aku dan Meta kembali berada di jalanan Kota Malang. Bahkan kami hampir mengingat jalanan dan perempatan sana.

"Kita ke Toko Oen aja yuk! Aku mau nyobain kopinya. Sekalian kita mikir-mikir mau tidur dimana!" Kami bahkan hampir melupakan rencana ke Toko Oen.

"Hayuk!"

Bermodalkan Google Maps, motor melaju ke arah Toko Oen. Ternyata Toko Oen itu ada di sekitar Alun-Alun Malang hahahahaha. Berarti kami sudah berkali-kali lewat sekitar Toko Oen.

WELKOM IN MALANG. Toko Oen die sinds 1930 aan de gasten gezelligheid geeft

Sebuah spanduk putih dengan tulisan kapital berwarna merah menyambut kedatangan kami. Sejak pertama datang, suasana klasik bangunan tuanya membawa kami ke suasana tempo doeloe. Memasuki toko, fikiran seolah diajak untuk menikmati masa lampau, mundur berpuluh-puluh tahun ke belakang. Lumayan mengusir kekesalan di polsek tadi.

Kami mengambil tempat duduk kosong di bagian dalam. Ada kursi klasik berwarna biru tosca dan cream menghiasi ruangan. Saat duduk, aku bisa mencium aroma cat dari kursi yang aku tempati. Mungkin baru di cat ulang, fikirku.

Aku memesan segelas kopi dan Meta memesan segelas es krim. Sambil menunggu pesanan tiba, kami memilih untuk beristirahat setelah seharian berada di jalan raya. Aku menyukai kaki kursi Toko Oen yang rendah, juga suasana tempo doeloe yang menaungi toko membuat tubuhku menjadi rileks. Bahkan Meta sempat tertidur hahahaha.

Lama ditunggu, akhirnya pesanan kami datang juga.

Sambil menikmati pesanan, aku dan Meta membahas kejadian di polsek tadi. Hanya saja kali ini kami sudah tidak kesal seperti saat mendengar jawaban-jawaban beliau tadi.

"Mungkin mereka berhati-hati." Itu alasan paling klasik yang ada di fikiran kami, setidaknya supaya malam ini tidak berlalu dengan kekesalan.

Apalagi mengingat perjalanan yang sudah kami lewati dengan cerita-cerita perjalanan yang penuh kejutan, sambutan beliau di Polsek tadi aku anggap seperti seni sebuah perjalanan. Mau gampang tinggal ke penginapan. Sesederhana itu. Tidak mau melewati perjalanan yang sederhana? Yaudah nikmati saja pengalaman-pengalaman unik di perjalanannya.


***


Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam di Toko Oen, kami melanjutkan hunting. Hunting tempat tidur hahaha.

Ke rumah sakit aja yuk!" Kami sudah berkali-kali melewati rumah sakit, tapi sama sekali tidak terpikirkan untuk tidur di rumah sakit. Entah ada angin dari mana, Meta mencetuskan ide tersebut.

"Yaudah hayuk!"

Motor melaju pelan menuju rumah sakit yang dimaksud. Lihatlah! Kami bahkan ingat dimana lokasi rumah sakit. Memasuki wilayah rumah sakit, kami memarkirkan motor kemudian mencari tempat yang sekiranya layak untuk menjadi tempat tidur.

"Supaya security ga curiga, kita harus hati-hati, Kal!"

What? Hati-hati yang seperti apa? Berjalan mengendap-endap di tepian dinding? sedikit merunduk? atau merayap?

Hahaha enggak-enggak. Kami bukan seorang buronan atau maling. Kami tetap berjalan seperti biasa dengan carrier besar di punggung. Maksud Meta adalah masuk seperti pengunjung lain, walaupun pengunjung lain jelas-jelas tidak menggendong carrier di punggungnya.

Sejujurnya aku jaraaaannnggggg banget ke rumah sakit. Aku ke rumah sakit hanya saat menjenguk jika ada keluarga atau kerabat sakit. Jadi aku tidak memiliki bayangan apapun tentang menumpang tidur di rumah sakit.

Aku hanya mengintil Meta dari belakang. Tidak mau mikir yang aneh-aneh dulu.

"Kita ke situ, Kal!" meta menunjuk ke gedung sebelah kiri. Aku manut saja. Setelah dekat aku baru tahu ternyata gedung yang dimaksud adalah gedung Instalasi Gawat Darurat.

"Serius Metaaa?" Rasanya aku ingin menanyakan ini ke Meta, tetapi Meta juga sama sepertiku, tidak menyangka akan ada ide untuk tidur di rumah sakit. Hanya saja bedanya Meta pernah menginap di rumah sakit atau di ruang tunggu IGD sebelumnya. Tapi bukan di IGD Malang tentu saja.

Kami masuk ke ruang tunggu. Disana terdapat ruangan besar dan keluarga pasien yang menginap di ruang tunggu IGD. Aku dan Meta menuju tempat kosong yang luas, di samping seorang wanita muda yang berumur sekitar 30 tahunan. Kami memutuskan untuk menghabiskan malam disana.

Setelah mengobrol sebentar dengan mbak-mbak disampingku, aku baru tahu ternyata mereka adalah keluarga pasien yang memutuskan menunggu keluarganya dengan menginap di IGD. Aku melihat sekeliling, ada yang membawa kasur lipat, ada juga yang hanya melapisi lantai dengan tikar.

Setelah mengeluarkan perlengkapan tidur dan mencuci muka di toilet ruang tunggu, aku dan Meta membeli nasi goreng di depan IGD. Rencananya aku dan Meta ingin makan di tempat jual nasi goreng saja. Tetapi setelah tadi sempat mengobrol dengan mbak-mbak disamping tempat tidur dan tahu ternyata dia belum makan, jadinya aku dan Meta membeli nasi goreng lebih dan memutuskan makan bareng di ruang tunggu.

Sambil makan bareng, kami mengobrol banyak hal. Dari pertanyaan-pertanyaan mereka seputar perjalanan kami hingga akhirnya memutuskan tidur di IGD, hingga mengobrol tentang mbak tersebut. Tenyata mbak tersebut sudah tidur di ruang tunggu selama beberapa minggu, menunggu salah satu keluarganya yang sudah berminggu-minggu dirawat.

Tidur di IGD malam itu membuat kami belajar banyak hal, termasuk mensyukuri kesehatan yang kami miliki hingga akhirnya kami bisa melakukan perjalanan-perjalanan tanpa dipenuhi banyak kekhawatiran. Kami bersyukur karena ternyata dari sekian banyak warga Malang bahkan belum menikmati keindahan wisata di daerahnya sendiri, kami justru memiliki waktu dan rejeki untuk mengeksplore daerah orang lain.

Mata sudah berat. Setelah cukup lama mengobrol dengan mbak-mbak di samping kami, kami mulai menyelonjorkan badan di matras yang memang kami bawa, kemudian masuk ke dalam sleeping bag untuk beristirahat. Besok jam setengah 6 pagi kami sudah harus melanjutkan perjalanan ke Turen.


***


Rencana jalan jam setengah 6 hanyalah rencana. Kami bangun hampir jam 6. Itupun karena suara riuh di kiri dan kanan. Meta menuju kamar mandi yang disediakan oleh pihak rumah sakit untuk pengunjung atau keluarga pasien, sedangkan aku bergegas packing.

"Cuss sana mandi, Kal!" Ucap Meta setelah keluar dari kamar mandi.

"Iyaa. Nitip barang yaa!" Ucapku seraya menunjuk carrier yang sudah dipacking rapi.

Aku bergegas ke kamar mandi. Tubuhku sudah lengket sana-sini. Mandi dan keramas pasti sangat menyegarkan.

Aku tidak ingat berapa lama aku mandi, hingga ada panggilan dari luar kamar mandi.

"Kall!!! Kall!!! Buruan. Kita diusir."

What? Diusir? Aku sudah selesai mandi. Tinggal membereskan peralatan mandi. Setelah aku keluar, aku melihat tempat yang tadi malam ditiduri oleh sekian banyak keluarga pasien ternyata kosong. Tidak ada tikar-tikar ataupun kasur-kasur. Hanya tinggal carrier kami. Kami bergegas menggendong carrier dan keluar gedung.

"Itu kenapa, Met?"

"Kirain tadi kita diusir-usirin. Ternyata itu cleaning service mau bersih-bersih, makanya dibuat kosong. Nahhh... Tadi security datang gara-gara ngeliat carrier kita."

"Terusss??"

"Ya dia heran kok ada tas gunung segala, kayak bukan keluarga pasien. Akhirnya aku di tanya-tanyain. Untung securitynya baik."

Aku lega mendengar penjelasan Meta barusan. Kami berjalan ke arah parkiran, mengambil motor, lalu melanjutkan perjalanan ke Turen.

IGD yang telah menyelamatkan malamku dan Meta




Jumat, 20 April 2018


Akhirnyaaaaaa... 30 hari itu terlewati juga. 30 hari melakukan hal yang tidak pernah terfikirkan olehku sebelum akhirnya aku memutuskan untuk melakukannya. Aku ingat bagaimana aku membangun mood menulis untuk setoran tulisan hari pertama. Aku memantapkan niatku untuk mengikuti 30 Day Writing Challenge.

Hari pertama berlalu. Yaaaaaa... tulisan kubaca berkali-kali, kuperbaiki jika ada typo, kutata kembali kalimat demi kalimat supaya lebih indah dibaca. Hari kedua dan ketiga aku menulis dengan tenang, aku menceritakan bagian hidupku saat masih kecil. Aku merasakan bagaimana tanganku mengalir di atas keypad handphone, untuk kemudian malamnya aku post di blog dan ku perbaiki di depan layar laptop. Hari demi hari aku merasakan bahwa mengetik di laptop terasa jauh lebih nyaman, membuat aku lebih memilih menulis langsung di laptop dan tidak mencicilnya di draft handphone.


Otak yang begah

Berhari-hari kemudian aku merasakan kesulitan dalam menulis. Ide yang buntu, jenuh, juga sifat malas yang aku yakini bisa aku hilangkan kembali mengganggu. Aku menulis di 2 jam terakhir dengan total 24 jam yang dimiliki dalam sehari. Seandainya Tuhan benar-benar mengabulkan permintaanku untuk membulatkan waktu menjadi 30 jam perhari sekalipun, aku tidak yakin akan memanfaatkannya.

Yang membuatku tetap menulis adalah niat yang besar. Sedikit lebih banyak dibanding perasaan malas, setidaknya sifat malas menulis ini. Saat aku lelah, aku memaksakan tubuhku untuk duduk di depan laptop, memaksakan tanganku untuk menyentuh keyboard, memaksa kepalaku untuk memuntahkan isinya kemudian meramunya menjadi tulisan.

Aku merasakan tulisanku yang semakin hari semakin tidak bernyawa, aku memposting tulisan yang sekarat, tanpa kuobati, juga tanpa kujenguk. Esoknya aku kembali melakukan hal yang sama. Betapa banyak tulisan yang tidak kujenguk atau kuobati. Aku hanya menulis sebentar, tanpa mengendapkannya, juga tanpa menjadikan diri sebagai editor untuk tulisan sendiri. Yang penting aku menulis, kemudian setor. Selesai!

Pernah di beberapa tulisan saat aku sedang dalam perjalanan ke Nusa Penida, Nusa Lembongan, dan Nusa Ceningan yang berada di ujung Denpasar. Sulit sinyal, baterai yang sekarat, perjalanan yang membuatku tidak bisa menulis dengan leluasa. Saat itu aku memaksakan diriku menulis, aku mencicilnya di sela-sela waktu kosong, Luar biasa! aku berhasil melakukannya. Bahkan sebelum naik pesawat, aku mencicil tulisanku di mobil, di KFC bandara, di ruang tunggu, dan aku memposting tulisan persis setelah aku meletakkan tasku di kabin, hanya beberapa menit sebelum handphone beralih ke mode pesawat. Betapa berartinya waktu saat itu. Aku bisa menikmati pergantian tanggal di atas ketinggian dengan tenang.


Ilmu baru dan kerit(p)ik pedas manis

Ada banyak ilmu baru yang aku dapatkan di challenge ini. Selain dilatih untuk membentuk kebiasaan, challenge ini mempertemukan aku dengan penulis-penulis yang hebat. 100 orang dibagi menjadi 10 squad. Aku masuk ke squad terakhir, Squad 10. Setiap minggu, akan ada 2 hingga 3 kali materi-materi tentang dunia kepenulisan. Benar-benar diluar ekspektasi. Aku hanya membayangkan menulis 30 hari nonstop. Ternyata tidak sesederhana itu.



Ada begitu banyak aktifitas selain menulis. Omaigat!

Selain menyantap materi yang terkadang membuat otakku terasa kembung dan begah, ternyata ada feedback tulisan. Feedback yang random membuat tulisan semestinya dibuat dengan tidak asal-asalan. Feedback dari Squad sendiri, feedback dari Squad sebelah, dan feedback dari mentor sama-sama mendebarkan. Ada feedback yang memuji, ada juga yang mengkritik.

  • "Gaya bahasa sederhana. Mudah dipahami. Perlu ditambahi showing, Kak. Biar pembaca bisa merasakan keadaan disana."
  • "Pengembangan dialog sudah bagus. Cuma penataan kalimat ada yang kurang efektif, jadi kesannya datar."
  • "Masih ada beberapa typo. Tulisan yang tidak ada di KBBI seharusnya dimiringkan."
  • "Tulisannya sudah bagus. Mengalir saat dibaca. Penulisan yang menunjukkan tempat diperhatikan lagi."
  • "Jujur tulisan ini sepertinya mundur. Lebih bagus tulisan kakak yang saya feedback tentang Waktu Part 2 kemarin."
  • "Bingung dengan alurnya, kurang ngalir. Seakan perpindahan dari paragraf ke paragraf lainnya terkesan memaksa. Membacanya terasa flat. Pesannya kurang nyampe."
  • "Ini mau dijadikan buku atau bagaimana, kok sampai part 9? Menurut saya temponya lambat. Banyak yang saya skip. Jika memang mau dibuat naskah panjang, berikan setiap makna berbeda dalam setiap partnya. Sehingga tidak hanya bercerita yang bukan menjadi isi pesannya. Coba bikin outline atau mind mapping dulu."
  • "Waktu sudah berjalan ke Part 18 yaaa. Keren banget untuk konsistensi sama day sekarang. Tulisan lama-lama makin berkembang. Cuma kemarin belum dapat feel, disini juga."
  • "Masih biasa saja. Tidak ada kisah atau narasi juga dialog yang berkesan pada part ini. Mungkin itu tantangan tulisan bersambung. Semangat, Kak Kal!"
  • "Boleh tanya? Apa perbaikan yang telah dilakukan dari feedback yang saya sampaikan sebelumnya? Jujur saya belum melihat ada yang berbeda. Ada yang tidak sepakat dengan feedback saya? Atau tidak dibaca?"


Begitu banyak semangat dan kritikan pedas yang datang pada tulisan-tulisan yang ku buat. Aku sadar, jelas. Aku sudah tidak percaya diri pada tulisanku bahkan sebelum mereka melihatnya. Pernah di satu titik aku lelah, lelah fikiran, lelah hati, juga lelah fisik. Di satu sisi aku ingin mengabaikan challenge ini, tetapi disisi lain aku menyadari bahwa fikiran inilah yang harus aku musnahkan. Semua kritikan itu benar, semua kritikan itu betul-betul membangun. Ada banyak ilmu baru dalam dunia kepenulisan yang sebelumnya tidak pernah masuk ke dalam fikiranku.

Aku akan berusaha memperbaikinya. Aku berjanji akan meluangkan waktu menjenguk tulisan-tulisanku selama 30 hari belakangan ini. Mengevaluasi tulisanku sendiri, kemudian aku akan mengobatinya satu persatu.


Finally. Yeaayyyy!

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tulisan ini adalah tulisan ke 30 di 30 Day Writing Challenge. Aku merasa bahagia karena berhasil meyakini diriku sendiri. Aku bahagia pada diri sendiri yang mampu menulis tiada henti, berhasil menyelesaikan challenge ini tanpa melewatinya satupun. Aku ingat betul saat di hari pertama ada 100an penulis yang ikut challenge ini, yang kemudian berguguran satu persatu di tengah jalan.

Hingga akhirnya 30 hari terlewati juga, walaupun tulisan ini juga ku buat jam 10 malam hahaha. Masuk di dunia yang sama sekali tidak pernah terbayangkan, berusaha hidup di dalamnya hingga 30 hari ke depan jujur saja membuat otakku menciut. Maklumi saja jika beberapa hari ke depan tidak ada tulisan yang kubuat. Mungkin beberapa hari ke depan aku akan istirahat menulis dulu hahaha.

Ada banyak hal yang aku evaluasi, terkait diri sendiri. Ternyata menulis itu susah, dan butuh konsistensi. Aku membayangkan penulis-penulis luar biasa diluar sana. Mereka sudah menerbitkan buku-buku yang memiliki nyawa. Mereka hebat.

Tulus dari hati aku mengakui bahwa aku mengagumi mereka.

Pertanyaan untuk diri sendiri "Kal, setelah selesai 30 DWC Jilid 12 ini, kamu masih mau ikut challenge ini lagi ga?" Jawabannya Masih. Masih ada begitu banyak ilmu kepenulisan yang harus aku pelajari. Aku masih ingin dipecut dengan kritikan-kritikan. Aku masih ingin belajar melahirkan nyawa dalam tulisan. Aku masih memiliki impian.

Kamis, 19 April 2018

Hari ini Jodie enggan keluar kamar. Perasaan kesalnya pada ayah belum reda, kalimat-kalimat yang semalam ayah ucapkan masih membekas. Jodie banhun saat matahari menyibak tirai jendela yang tidak ditutup secara keseluruhan. Jodie memang membiarkan tirai jendela kamarnya sedikit terbuka. Semalam sesaat setelah ayahnya keluar kamar, ia membuka sedikit tirai jendela untuk menyegarkan fikirannya yang kusut.

Tadi ibu mengetuk pintu berkali-kali, mengajak Jodie sarapan. Tetapi ia hanya membuka mata, tidak menyahut, kemudian kembali memejamkan mata. Fikirannya berlarian kesana-kemari. Ia tidak menyangka ayahnya akan begitu marah dan menyalahkan Gilang.

Jodie memang tahu ayahnya tidak menyukai Gilang karena penampilannya yang urak-urakan terlihat seperti laki-laki nakql dimata ayah. Apalagi semenjak Gilang memanjangkan rambut, semenjak itu ayah menjadi begitu anti dengan Gilang. Sungguh berbanding terbalik dengan ibu yang justru menganggap Gilang seperti anak sendiri.

Ahhh... andai saja ayah tahu jika Gilang yang sering membantu ibu di rumah saat ayah kerja di luar kota berbulan-bulan. Andai saja ayah tahu jika Gilanh yang jaik ke atap rumah saat genteng rumah bergeser dan menyebabkan rumah dimasuki berember-ember air hujan. Andai saja ayah tahu jika Gilang yang membantu Jodie merenovasi teras depan rumah menjadi lebih bagus, sehingga membuat ayah memuji-muji teras depan tersebut saat ayah baru pulang dari luar kota  beberapa waktu yang lalu.

Jodie geram pada ayah yang terlalu terobsesi menjadikan semua orang seperti dirinya. Air matanya kembali menetes. Jodie kembali mengingat kejadian tadi malam. Ia menatap keluar jendela, tetapi fikirannya tidak disana.

Rabu, 18 April 2018

Jodie dan ibunya menikmati makan malam berdua tanpa banyak mengobrol. Ia melahap makanan seperti orang yang berhari-hari tidak bertemu makanan enak. Biasanya tidak begitu. Ibu menasehati supaya makan dengan tidak terburu-buru, tetapi Jodie yang hanya mengangguk dengan mulut dipenuhi makanan dan lalapan.

Setelah menyelesaikan makan malamnya, Jodie berjalan pelan-pelan menuju kamar, melanjutkan istirahat yang tertunda karena perut keroncongan. Langkahnya kaku saat melangkah seperti tidak memiliki engsel lutut, paha dan betisnya terasa kencang saat ia berdiri dari kursi meja makan. Baru saja ia akan membuka pintu kamarnya, terdengat ketukan dari pintu depan.

"Assalamu'alaikum, Buuu, Jod!!!" Ketukan kembali terdengar. Jodie mendengar suara orang yang begitu ia kenal.

"Aduhhh gimana nih? Ketahuan gue!" Bukannya membuka pintu depan, Jodie justru terlihat panik. Ia bingung antara bergegas membuka pintu kemudian menyalami ayahnya yang baru pulang setelah 2 bulan bekerja di luar pulau, atau justru masuk ke dalam kamar dan berpura-pura tidur.

"Siapa Jod?" Ibu berteriak dari dapur.

"Ayah, Bu!!!"

Terdengar pintu kembali diketuk, kali ini lebih keras dari sebelumnya.

"Kenapa ga dibuka, Jod? Kan kasihan ayah diluar baru pulang kerja." Ibu mengomeli Jodie sambil berjalan tergesa-gesa menuju ruang depan, membuka pintu, lalu menyambut suaminya.

"Maaf lama ya, Mas. Saya tadi sedang mencuci piring di dapur." Ucap ibunya seraya mengiringi suaminya berjalan masuk ke dalam rumah dengan tas besar di tangan kanan.

"Jodie mana, Bu?" Tanya sang ayah saat menyadari Jodie tidak menyambut kedatangannya, sambil meletakkan tas besar di samping kursi ruang tamu.

"Tadi sih ada disini, Mas. Mungkin sudah masuk ke kamar untuk istirahat."

"Ahhh, tumben sekali Jodie tidak menyambut saya."

"Maklumi saja, Mas. Jodie itu baru turun gunun, bisa saja ia keletihan. Jadi biarkan Jodie istirahat. Mas istirahat dulu, saya mau buatkan minuman. Mas pasti lelah kan?" Ucap ibu seraya berjalan hendak menuju ke dapur.

"Apa? Turun gunung katamu? Sang ayah terkejut. Bagaimana bisa ia tidak tahu jika anak satu-satunya naik gunung tanpa sepengetahuannya. Ibu yang awalnya mau ke dapur terperanjat, membalikkan badan melihat suaminya yang mendadak marah.

"Anak itu naik gunung tanpa izin dari saya maksudmu? Nada sang ayah mulai meninggi. Ia melempar secara kasar jaket kulit yang sejak tadi bergelantungan di bahu kanannya, kemudian berjalan ke kamar Jodie.

Jodie yang berada di kamar mendengar secara jelas obrolan ibu dan ayahnya, juga saat ayah marah sambil menyebut-nyebut dirinya. Ia tidak menyangka ayahnya akan kembali malam ini. Bukankah seharusnya ayah kembali minggu depan? Kenapa harus malam ini? Apa yang harus ia katakan tentang perjalanannya yang tanpa diketahui ayah? Apa yang akan ayah lakukan jika tahu ia mendaki gunung bersama Gilang, sahabat terbaik Jodie satu-satunya yang justru tidak disukai oleh ayah.

Pintu kamar digedor dengan keras. Membuat Jodie panik.

"Jodie!!! Buka pintu!!! Pintu digedor semakin keras. Dengan ragu-ragu Jodie berjalan menuju pintu kemudian membuka pintu kamar. Ia melihat ayahnya berkacak pinggang dengan mata memerah yang sedang menatapnya tajam seolah ingin memakannya bulat-bulat.

"Kemana kamu saat ayah tidak ada???" Tanya ayahnya tajam membuat Jodie bingung harus menjawab apa. Di satu sisi ia ketakutan menghadapi ayahnya yang sedang marah, tetapi di sisi lain ia merasa yang ia lakukan bukanlah hal yang salah.

"Jo...die ke gunung, Yah." Jawab Jodie tanpa berani menatap wajah ayahnya. Iya tahu ayah akan sangat marah.

"Ayah tidak pernah sekalipun mengizinkan kamu naik gunung!!!" Ucap ayahnya dengan suara yang sangat berat, ucapan yang disampaikan dengan penuh penekanan. Tangan ayahnya memukul-mukul pintu lemari dengan geram.

"Kamu anak satu-satunya. Siapa yang akan bertanggung jawab jika kamu kenapa-kenapa di gunung, HAH?" Pertanyaan itu meluncur tajam dengan suara yang terdengar semakin berat. Ada kekhawatiran sekaligus kemarahan di dalamnya.

Jodie terdiam, fikirannya kacau. Seperti ayah, Jodie merasakan kemarahan karena tidak terima atas ucapan-ucapan ayahnya, juga ketakutan karena ucapan ayahnya seperti menjelma pisau tajam.

"Kamu jalan sama siapa? Gilang? Temanmu yang tidak berguna itu?"

Dada Jodie panas, kepalanya merasakan gemuruh. Ia tidak terima dimarahi ayahnya seperti ini.

"Jodie sudah besar, Yah!!! Jodie punya dunia sendiri!!! Jodie bukan anak kecil lagi yang bisa mengikuti semua kemauan ayah!!!"

KAMUUUUUUUU!!!" Dalam sekejap tangan ayahnya melayang di udara, hendak tertuju ke wajah Jodie. Jodie menutup mata dengan kedua telapak tangannya, tidak berani melawan ayah lebih dari itu. Ia sudah pasrah jika pukulan itu mendarat di wajahnya.

"CUKUP MAS!!! CUKUPPP!!!" Teriakan itu menahan gerakan tangan ayah. Sekejap Jodie membuka matanya yang sudah basah oleh air mata. Ia melihat ibunya jongkok di belakang ayah. Ibunya menarik-narik lengan ayah sambil menangis.

"Jangan pukul lagi anak kita!!!" Ibu menarik-narik tangan ayah. Ayah tidak bergeming. Tangannya sudah turun, berada di genggaman ibu. Tetapi hatinya kacau. Ia begitu marah kepada Jodie, tetapi ia juga menyesali emosinya yang meledak secara tiba-tiba.

"Saya yang salah, sudah mengizinkan Jodie pergi ke gunung bersama Gilang." Ucap ibunya sesenggukan. Jodie merasa sakit sekali saat melihat ibunya menangis seperti itu. Dengan posisi duduk, tangan ibu tidak pernah melepaskan genggamannya dari tangan ayah, begitu takut tangan tersebut akan menyentuh Jodie.

"Kamu tidak seharusnya mengizinkan Jodie berjalan dengan anak tidak berguna itu!!!" Ucap ayah dengan tajam dan penuh penekanan, melepaskan paksa tangannya dari genggaman ibu, kemudian berjalan keluar kamar.

Jodie yang melihat ayahnya keluar langsung mendekati ibunya kemudian menangis dalam pelukan. Jodie sesenggukan menjelaskan semua yang ia rasakan. Jodie memiliki dunia sendiri yang tidak bisa diatur semaunya oleh ayah. Jodie bebas berteman dengan siapa saja, termasuk Gilang. Gilang tidak seburuk yang ayah fikirkan. Gilang menjaga Jodie, Gilang yang memastikan Jodie selalu baik-baik saja. Gilang adalah teman yang baik buat Jodie. Hanya karena tampilan Gilang yang urak-urakan dan rambut setengah gondrongnya, bukan berarti Gilang anak tidak berguna seperti yang ayah ucapkan.

"Nanti jika ayahmu sudah tenang, ibu akan coba jelaskan." Ibu mengusap matanya yang basah, kemudian menenangkan Jodie yang dari tadi memeluk erat ibunya.

"Sekarang sudah larut malam, Nak. Kamu istirahat, ya!" 

Ibunya melepaskan pelukan kemudian berjalan keluar dari kamar Jodie. Jodie membaringkan tubuhnya. Air mata kembali menetes. Hatinya sakit, bahkan lebih sakit dari kedua kakinya. Ia memikirkan banyak hal hingga tertidur. Ia tertidur dengan mata sembabnya. 

Selasa, 17 April 2018

Jodie membuka pintu kamar, kemudian berjalan menuju dapur. Langkah kakinya terlihat kaku, terlihat sekali menahan sakit di penjuru kakinya. Pahanya terasa sakit jika disentuh, betisnya kencang seperti betis pesepakbola. Belum lagi bahu dan punggungnya yang rasanya seperti ingin rontok.

Sudah seharian ini ia tidur. Sejak tiba di rumah dini hari tadi, kemudian menyelesaikan urusan dengan pertanyaan-pertanyaan ibunya yang memastikan bahwa Jodie pulang dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, Jodie langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, kemudian tertidur. Ia baru bangun saat sore, itu pun karena perutnya lapar. 

Ibunya yang sedang mengiris-iris sayuran di dapur melihat ke arah Jodie sebentar, melihat Jodie yang berjalan pelan-pelan dan kaku, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Ibu kira lapar kamu akan kalah sama lelahmu, Nak." Ujar ibunya seraya tersenyum.

"Ya enggak lah, Bu. Kasihan cacing di perut kalo ga Jodie kasih makan." Sahut Jodie. Tangannya membuka kulkas, mengambil minuman dingin, puding, ice cream, dan beberapa buah pear. Semua itu ia tumpuk di tangan kiri. Dengan agak kesusahan ia menutup pintu kulkas, lalu berjalan pelan ke arah meja makan.

"Itu semua ga ada di gunung ya?" Ibunya dari tadi memperhatikan Jodie yang kewalahan mengambil dan membawa isi kulkas ke atas meja makan.

"Ga ada, Bu. Malahan nih yaa, Jodie pengen banget makan bakso, mie ayam, dan sop buah. Tapi namanya di hutan kan ga ada sama sekali, Bu. Ya udah deh Jodie tahan-tahanin. Bahkan untuk makan saja kami mengatur logistik supaya cukup hingga turun." Fikiran Jodie kembali melayang ke saat-saat dimana ia dan team memilih-milih logistik yang akan dimasak saat itu dan logistik mana yang dipisah untuk masak esok hari.

"Jadi anak ibu tahu kan gimana rasanya ingin makan tapi susah atau justru makanannya ga ada?" Tanya ibunya sambil mencuci tangan, kemudian berjalan menuju meja makan, tempat dimana Jodie sedang disibukkan dengan memotong buah pear.

Jodie tidak menyahut. Dalam hati ia menebak-nebak maksud ucapan ibunya.

"Selama ini apapun yang kamu mau selalu ada. Bahkan sering banget makanan ga di habisin dan akhirnya mubazir." Ibu menghentikan pembicaraannya sebentar, menatap Jodie yang duduk di hadapannya.

"Kamu tahu kenapa ibu mengizinkan anak ibu naik gunung?"

Jodie mengangkat kepala, setengah berfikir atas pertanyaan ibunya tersebut. "Karena ada Gilang yang jagain Jodie kan, Bu?"

"Itu sudah pasti. Kalo bukan Gilang yang pamitin kamu, belum tentu ibu mengizinkan. Tetapi bukan itu alasannya."

Jodie mengerutkan kening, tidak tahu arah pembicaraan ibunya. Mulutnya mengunyah buah pear pelan-pelan. Otaknya mencari beberapa kemungkinan. Jodie mengira Gilang adalah alasan ibu mengizinkannya, ternyata bukan itu. Jadi karena apa?

"Karena ibu ingin anak perempuan ibu menjadi perempuan yang mandiri, tidak manja seperti perempuan-perempuan pada umumnya. Naik gunung itu bukan hal mudah. Sebelum naik harus ada pemanasan-pemanasan yang dilakukan. Kemudian saat berada dalam pendakian akan ada emosi yang diatur, kerjasama team, termasuk di dalamnya mengesampingkan keegoisan diri sendiri."

Jodie tertegun pada penjelasan ibunya. Ia ingat pada kebiasaannya yang sering membuang-buang makanan, sedangkan di gunung ia justru harus mengatur-atur makanan. Ia yang biasanya bisa memenuhi begitu banyak keinginan tanpa usaha yang sulit, di gunung ia belajar bahwa ada hal-hal yang harus diperjuangkan.

"Loh, kok anak ibu melamun?"

Jodie terkesiap. Sadar dari lamunannya.

"Kamu mandi sana! Setelah itu kita siap-siap makan malam."

"Iya, Bu." Jodie berdiri lalu dengan susah payah berjalan mengambil handuk, kemudian menuju kamar mandi. Setelah masuk ke kamar mandi, ia menutup pintu dan kembali membenamkan dirinya ke dalam kalimat-kalimat yang ibunya ucapkan barusan. Tujuannya ke gunung sebenarnya hanya ingin menikmati pemandangan pegunungan yang tidak bisa ia nikmati dari wilayah perkotaan. Selain itu ia ingin kenal lebih dekat dengan Mahendra, sosok lelaki yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Ucapan ibunya benar. Ia merasa telah menyia-nyiakan banyak hal.

"Naakkk!!! Kok ibu ga dengar suara air? Kamu tidur di kamar mandi ya?" Teriakan ibunya ditambah suara gedoran dibalik pintu sukses membuyarkan lamunannya.

"Jodie udah mau mandi kok, Bu!" Jodie menyahuti ibunya, kemudian langsung mandi, sebelum pintu kamar mandi kembali di gedor oleh ibunya.



Follow Kal di @kalenaefris