Jumat, 30 November 2018


Belakangan ini pinjaman berbasis online sedang marak di Indonesia. Mengingat banyaknya orang yang membutuhkan dana tunai dengan cepat, apalagi pinjaman online bisa dilakukan tanpa jaminan.

Kehadiran pinjaman online menjadi jawaban untuk orang-orang yang mengalami masalah keuangan. Tanpa perlu susah payah ke bank untuk mencari pinjaman, uang dalam waktu dekat sudah bisa langsung dicairkan.

Hal itulah yang membuat orang-orang mulai melirik pinjaman uang online yang sudah disediakan oleh perusahaan fintech, salah satunya Disitu.com

Layanan dan Produk dari Disitu.com

Disitu.com adalah sebuah pasar kredit yang berlomba-lomba memberikan penawaran terbaik dari produk-produk finansial mereka, sehingga memungkinkan para konsumen disitu.com mendapatkan produk-produk finansial terbaik. Dengan sistem yang terintegrasi dengan berbagai institusi finansial, Disitu memberikan konsumen sesuatu yang berbeda, yakni harga aktual dari masing-masing produk dan proses yang real-time.

Mengapa harus Disitu.com?

1. Konsumen bisa melakukan pinjaman/kredit dimanapun dan kapanpun. Hal ini tentunya akan memudahkan konsumen.

2. Disitu.com memberikan kemudahan untuk register pinjaman, yaitu cukup dengan mengisi nama, no telp, dan alamat email. Selanjutnya tingg al menggunggah foto KTP dan STNK/PBB yang konsumen jaminkan.

3. Hal yang sering dikhawatirkan oleh konsumen ketika melakukan pinjaman online adalah penyalahgunaan data data pribadi yang diberikan ketika melakukan regist pinjaman. Disitu.com meminta konsumen untuk tidak perlu khawatir, karena disitu.com sangat menghargai kenyamanan dan keamanan konsumen.

4. Melalui Disitu.com, konsumen bisa mendapatkan beragam penawaran dari beragam institusi keuangan. Jadi konsumen bisa mendapatkan perbandingan langsung antara satu penawaran dan penawaran lainnya. 

5. Konsumen tidak perlu penasaran sudah sejauh mana proses pengajuan, karena konsumen bisa mencari tahu sudah sejauh mana proses pengajuan mereka di halaman pribadi yang bisa konsumen akses sendiri. Tim helpdesk dari Disitu.com juga siap melayani dan menjawab setiap perjalanan yang mereka ajukan.

Disitu.com Menyediakan Kredit Tanpa Agunan (KTA)

Selain menyediakan layanan jasa pinjaman, Disitu.com juga menyediakam layanan kredit tanpa agunan dari berbagai institusi finansial yang sudah bekerjasama dengan Disitu.com.

Kredit Tanpa Agunan (KTA) atau yang sering disebut juga dengan pinjaman tanpa agunan adalah suatu produk pinjaman yang diberikan oleh institusi finansial dimana kredit yang diberikan tidak memerlukan suatu asset sebagai jaminannya, melainkan dengan menggunakan data diri customer.

Disitu.com menyediakan fasilitas kredit multiguna untuk berbagai kebutuhan pribadi konsumen. Konsumen akan mendapatkan pinjaman dana tunai dengan cepat dan mudah cukup dengan menjaminkan BPKB motor,BPKB mobil, ataupun sertifikat bangunan. Dengan kredit multiguna, berbagai biaya yang menjadi kebutuhan konsumen seperti biaya pernikahan, biaya pendidikan, biaya modal usaha, biaya renovasi rumah, biaya liburan, dan biaya lainnya tidak lagi menjadi masalah.

Kredit Tanpa Agunan ini biasanua dikhususkan bagi karyawan dan wiraswasta yang berusia 21 hingga 60 tahun, dengan plafond kredit berkisar antara 10 s/d 250 juta dengan bunga/interest yang bervariasi. Untuk msndapatkan produk ini, konsumen harus memiliki kartu kredit serta menyertakan beberapa persyaratan utama, seperto fotocopy kartu kredit dan fotocopy KTP.

Memiliki kartu kredit menjadi persyaratan utama karena pihak bank penyedia fasilitas akan memantau pola pembayaran konsumen melalui kartu kredit. Pihak bank akan melihat apakah ada keterlambatan pembayaran hingga pemakaian limit yang terkontrol melalui kartu kredit yang setidaknya telah diterbitkan dan berlaku selaman1 tahun.

Disitu.com bekerjasama dengan beberapa institusi finansial terbaik yang ada di Indonesia untuk memberikan pinjaman online sehingga dapat memenuhi kebutuhan finansial konsumen. Jadi, ayo manfaatkan fasilitas dari disitu.com untuk melengkapi kebutuhan anda.

Selasa, 27 November 2018


Kamu mungkin enggak asing sama kata "Fintech". Yaaa, kata fintech ini sedang menjamur dimana-mana.

Fintech (Financial Technology) merupakan sebuah inovasi baru yang muncul pada abad ke-21 dan berjalan pada sektor jasa keuangan yang menggunakan sistem teknologi digital.

Fintech yang pada awalnya diterapkan untuk penerapan teknologi back-end ke konsumen untuk transaksi keuangan, lalu berperan semakin meluas ke sektor  komersial keuangan seperti perbankan ritel, investasi, bahkan kripto-mata uang seperti bitcoin.

Perkembangan fintech makin mengalami peningkatan yang signifikan.

Sekarang coba kita mundur minimal sepuluh tahun belakangan dimana kita masih bertransaksi secara konvensional dari rumah ke rumah, dari tangan ke tangan, atau interaksi secara langsung. Sekarang kita sudah memasuki suatu era dimana gadget berfungsi tidak lagi sebagai media komunikasi, tetapi juga berfungsi sebagai media transaksi online, mengecek tabungan, transfer uang, hingga melakukan pinjaman uang melalui gadget.

Jadi Apa Itu Fintech Peer to Peer Lending?

Peer to Peer Lending (P2P Lending) adalah metode memberikan pinjaman uang kepada individu atau bisnis, dan sebaliknya. Lalu Fintech menjadi sebuah platform yang menjadi penghubung antara borrower (peminjam)  dengan lender (pemberi pinjaman)

Pada dasarnya P2P Lending ini hampir sama dengan market place yang memberikan wadah antara pembeli dan penjual, hanya saja bedanya disini adalah menjadi penghubung antara peminjam online dan pemberi pinjaman online tersebut.

Ketimbang mengajukan pinjaman melalui lembaga resmi seperti bank, koperasi, jasa kredit, pemerintah dan sebagainya yang prosesnya jauh lebih kompleks, sebagai alternatif, masyarakat bisa mengajukan pinjaman melalui P2P Lending.

Kemudahan dan Resiko P2P Lending

Dibalik berkembangnya startup fintech, ternyata ada masalah terkait isu-isu yang beredar, seperti :
1. Rentenir online
2. Penyalahgunaan akses data kontak
3. Cara penagihan yang tidak beretika

Menyikapi maraknya isu tersebut, Tanggal 23 November 2018 aku berkesempatan untuk menghadiri acara Ngobrol@Tempo dengan tema "Sosialiasi Program Fintech Peer to Peer Lending: Kemudahan dan Resiko untuk Konsumen" untuk memberikan sosialiasi dan edukasi mengenai fintech P2P lending.

Waspada Fintech Lending Ilegal :
Ciri-ciri fintech ilegal :
1. Kantor dan pengelola tidak jelas dan sengaja disamarkan keberadaannya
2. Syarat dan proses pinjama sangat mudah
3. Menyalin seluruh data nomor telepon dan foto-foto dari handphone calon peminjam
4. Tingkat bunga dan denda sangat tinggi dan diakumulasi setiap hari tanpa batas
5. Melakukan penagihan online dengan cara intimidasi dan mempermalukan para peminjam melalui seluruh nomor handphone yang sudah disalin.


Tips pembiayaan aman melalui fintech lending

Sebagai peminjam (borrower)
1. Cek legalitas penyelenggara apakah sudah terdaftar atau berizin di Otoritas Jasa Keuangan
2.Nominal pinjaman wajib sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan melunasi
3. Baca dan cermati syarat ketentuan masing-masing penyelenggara
4. Bandingkan penawaran pinjaman antar penyelenggara

Sebagai Pemberi Pinjaman (Lender):
1. Cek legalitas penyelenggara apakah sudah terdaftar atau berizin di Otoritas Jasa Keuangan
2. Pahami resiko setiap calon peminjam sesuai dengan score peminjam yang ada di platform
3. Diverifikasi pemberian pinjaman
4. Bandingkan resiko kredit dan imbal hasil pinjaman antar penyelenggara
5. Bila penyelenggara terdaftar di OJK diduga melakukan pelanggaran, maka laporkan ke AFPI (Indonesia Fintech Lending Association) dan OJK

Sabtu, 24 November 2018

Talkshow MyArafah di Summarecon Mall Bekasi
Saat kecil, ibuku mengajar ngaji untuk ruang lingkup kecil, yaitu aku dan anak-anak tetangga sekitar rumah. Ibu mengajariku mengaji, sholat, menceritakan tentang nabi dan rasul, hingga Rukun Iman juga Rukun Islam. Pada Rukun Islam yang kelima, kami dijelaskan tentang berhaji serta asal muasal berhaji. Ibu mencerikan kisah Nabi Ibrahim, Siti Hajar, serta Nabi Ismail kecil yang menjadi salah satu dari latar belakang proses atau tahapan berhaji.
Ketika masuk SMP, aku beralih mengaji ke TPA. Disana penjelasan menjadi lebih rinci. Selain berhaji, ada juga istilah umroh dimana sebagai umat Islam, anak kecil seperti kami saat itu sudah memimpikan untuk bisa mengunjungi baitullah setidaknya sekali seumur hidup.



Semua Umat Muslim Ingin Mengunjungi Baitullah

Seperti kita ketahui, ibadah haji merupakan penyempurna rukun islam. Namun karena besarnya biaya haji dimana biaya haji mengikuti nilai dollar (nilai rupiah lebih kecil dibanding nilai dollar), tidak semua orang bisa naik haji di usia muda. Lihat saja ketika musim haji tiba, kita melihat jemaah haji didominasi oleh orang-orang yang berusia senja.
Kini, semakin banyak orang yang ingin naik haji, dan ini mengakibatkan antrian haji mengular menjadi bertahun-tahun. Semakin lama mendaftar haji, maka semakin lama rukun islam kelima terealisasi, juga semakin tua usia kita untuk berkunjung ke baitullah. Belum lagi membayangkan kesehatan tubuh yang saat tua nanti tidak prima seperti saat masih muda.
Ada juga pilihan untuk mengunjungi baitullah selain berhaji, yaitu umroh atau biasa disebut haji kecil. Jika ibadah haji hanya bisa dilakukan setahun sekali yaitu di bulan Dzulhijah pada kalender Islam, umroh bisa dilakukan setiap saat diluar musim haji, asalkan memiliki cukup uang untuk biaya perjalanan hingga kebutuhan lainnya yang menjadi penunjang kelancaran umroh.
Pertanyaan yang sering timbul bagi kaum milenial masa kini adalah "Bagaimana cara menabung haji/umroh untuk generasi muda yang masih memiliki kebutuhan serta gaya hidup yang besar?"
Aku sempat mencari tahu informasi tentang biaya haji/umroh ini, hingga mencari tahu jasa travel  agent yang bisa dipercaya, mengingat berita-berita tentang agen travel haji/umroh yang ketahuan menggelapkan uang dan menelantarkan jemaah hajinya membuat aku was-was dan lebih hati-hati dalam memilih jasa pelayanan haji/umroh ini.

Doa agar diberi kesempatan berhaji
"Rabbanaa taqabbal minna innaka antassamii'ul 'aliim. rabbanaa waj'alnaa muslimaini laka wa min dzurriyyatinaa ummatam muslimatal laka wa arinaa manaa sikanaa wa tub 'alainaa innaka antat tawwaabur rahiim." (Surat Al-Baqarah ayat 127-128)"

Artinya : 

"Ya Tuhan kami, semoga Engkau menerima (amalan ibadah kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Tuhan kami, semoga Engkau berkenan dapat menjadikan kami berdua (suami-istri) orang yang tunduk patuh kepada Engkau serta (menjadikan) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau. Dan semoga Engkau selalu berkenan memberikan petunjuk kepada kami agar dapat menunaikan ibadah haji, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang"

Tabungan MyArafah, Ringankan Langkah ke Baitullah

Minggu lalu pada 17 November 2018, aku dan beberapa teman blogger diundang untuk menghadiri event bertema Dream Day 2018 di Mall Summarecon Bekasi, dimana ada yang menarik pada salah satu talkshownya, yaitu ketika ibu Yuliana Fitri dari CFS Syariah Maybank menjelaskan tentang MyArafah dari Maybank Syariah sebagai tabungan haji masa kini. 
Tabungan MyArafah merupakan tabungan dengan akad Mudharabah Mutlaqah untuk merencanakan ibadah Haji Regular atau umrah sesuai keinginan nasabah, dimana sistem setorannya bisa sistem setoran bebas atau bulanan dalam mata uang rupiah atau dollar USD.
Manfaat dan keuntungan Tabungan MyArafah :
  1. Bebas biaya administrasi bulanan
  2. Setoran awal yang ringan, yaitu mulai dari Rp.100.000 atau 10 USD.
  3. Pembukaan tabungan atau pendaftaran porsi haji dapat dilakukan di seluruh kantor cabang Maybank di seluruh Indonesia.
  4. Pasti mendapatkan porsi haji melalui sistem komputerisasi terpadu (SISKOHAT) dari Kementerian Agama Republik Indonesia (untuk yang melakukan setoran pembukaan biaya pendaftaran Rp.25juta), dan pasti mendapatkan hasil yang kompetitif.
  5. Dilengkapi kartu ATM / Debit berlogo Mastercard dengan teknologi chip sehingga lebih aman dan terhindar dari terjadinya skimming atau penyalinan data di kartu magnetik.


MyArafah bisa menjadi jembatan bagi generasi milenial untuk mewujudkan keinginan beribadah haji dengan membuka tabungan haji MyArafah. Ditambah dengan informasi bahwa usia 12 tahun sudah boleh mendapatkan kursi haji menjadi angin segar bagi keluarga muda yang ingin anak-anaknya ikut serta menabung untuk naik haji sedini mungkin.

Talkshow ini sangat sejalan dengan keinginan generasi milenial seperti aku yang ingin menabung haji sejak awal. Mengingat saat ini 75 persen orang yang membuka tabungan haji berada di usia 40 tahun. Sehingga jika masa tunggu haji 20 tahun, maka usia penabung haji tersebut sudah 60 tahun.

Merencanakan haji dan umrah sejak dini dengan menabung rutin 100.000 setiap bulan atau membuka tabungan MyArafah dengan setoran Rp 25juta untuk mendapat kursi haji adalah pilihan tepat jika ingin naik haji sebelum menginjak usia senja.

Kamis, 08 November 2018


Ditakdirkan sebagai anak pertama dari 4 bersaudara secara tidak langsung membentuk aku menjadi pribadi yang memikirkan banyak hal. Semua dikaitkan dengan keluarga. Nenek (almarhum), ibu, ayah, juga ketiga adikku.

Selain merasa memiliki tanggung jawab, pribadiku terbentuk karena ombak-ombak maskulin yang menggerus sisi feminim melalui aktifitas sehari-hari. Sejak kecil aku sudah jauh dari boneka. Wajar memang karena aku anak wanita satu-satunya. Semua adikku laki-laki ditambah orangtua yang tidak mendidikku manja.

Keuangan keluarga yang naik turun sejak kecil membuat aku terbiasa menghadapi pasang surut kehidupan. Makan enak hingga hanya minum teh hangat untuk menunjang lapar bukan hal baru. Rumah yang direnovasi orangtua saat memiliki banyak tabungan hingga akhirnya pembangunan mangkrak di tengah jalan karena suatu kemalangan menjadi sejarah kelam keuangan keluarga. Adalah hal biasa ketika aku menyaksikan beberapa baskom besar dilapisi lap (pakaian bekas yang dipotong) berbaris rapi menampung air hujan yang masuk ke dalam rumah melalui seng-seng yang bocor.

Keadaan itulah yang membuatku memutuskan untuk merantau, memutuskan memperbaiki rumah di kampung halaman, juga membangun harapan-harapan untuk masa depan.

Seperti perantau-perantau pada umumnya, aku menaruh mimpi di Jakarta. Dengan membawa ijazah berisi nilai-nilai cantik menyerupai segitiga bermuda di semester-semester awal, lalu beralih ke senyum miring sempurna di barisan buncit nilai (setidaknya IPK yang tertulis tidak membuat garis di jidat berlipat-lipat). Juga berbagai piagam penghargaan olympiade, wall climbing, dan SK  saat menjabat sebagai ketua umum di salah satu organisasi kemahasiswaan di kampus. Siapa tahu berguna, fikirku saat itu.


Tentang Mimpi yang Tidak Muluk-Muluk

Singkat cerita aku bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang jasa pembiayaan, sebuah bidang pekerjaan yang sebelumnya tidak aku harapkan, hingga akhirnya aku memutuskan mensyukuri dan menikmatinya. Fokusku saat itu hanya ingin bekerja dan mendapatkan uang.


Ada satu yang aku ingat saat wawancara kerja beberapa tahun lalu, ketika pewawancara menanyakan apa mimpiku dalam beberapa tahun ke depan. Dengan polosnya aku mengatakan bahwa aku ingin menabung untuk merenovasi rumah ibu dan ayah di kampung. Ucapan layaknya doa. Siapa sangka ucapan itu justru semakin membayangi hari-hariku, juga memotivasiku untuk semakin bersikukuh mewujudkannya.


Semua Tidak Mudah

Beberapa tahun belakangan aku mengesampingkan bahwa aku adalah wanita yang nantinya akan berumah tangga. Setiap bulan aku mengirim uang ke kampung untuk dibelikan bata, semen, besi, juga keperluan renovasi lainnya. Semua bahan bangunan dikumpulkan dengan cara dicicil. Kemudian aku menabung sedikit-demi sedikit hingga akhirnya aku merasa tabunganku cukup untuk memulai renovasi. Ternyata yang aku bayangkan tidak semulus kenyataannya. Masalah keluarga kembali datang. Aku tersendat, tabungan terpecah, tabungan semakin menipis lalu habis. Akhirnya tukang bangunan dilepastugaskan, hanya dipanggil saat dibutuhkan saja.


Bulan berganti tahun, renovasi akhirnya selesai walaupun kondisi rumah masih belum 100% rapi. Masih ada beberapa dinding yang belum di plester, namun itu bisa di urus belakangan. Atap seng tipis yang bocor saat hujan sudah beralih menjadi semen cor setebal tidak kurang dari 30 cm. Aku lega karena ibu dan ayah tidak harus menadah air hujan lagi, ibu dan ayah bisa tidur siang dengan nyenyak tanpa harus kepanasan karena beratapkan seng lagi.

Keinginan ibu dan ayah yang ingin memiliki teras belakang rumah dimana terasnya langsung menghadap Sungai Komering sudah bukan mimpi lagi. Mereka bisa menghabiskan sore bersama dengan segelas teh hangat, menatap matahari terbenam yang memantulkan pias-pias warna emasnya ke Sungai Komering, sungai ikonik di kampungku.


Mimpi Kecil yang Belum Tercapai

Beberapa tahun belakang saat aku memperhitungkan banyak hal tentang merenovasi rumah, aku pernah mengatakan ini ke orang-orang terdekatku

Aku pengen buat kamar mandi sendiri di dalam kamar ibu dan ayah. Kemudian di dalamnya aku mau pasang kloset duduk dan water heater untuk mereka. Aku juga ingin pasang kloset duduk di kamar mandiku, supaya saat pulang kampung aku tidak harus ke kamar mandi ibu untuk sekedar buang air kecil."

Hal yang wajar jika aku menjadikan kloset duduk dan water heater sebagai salah satu barang yang sangat aku inginkan. Nenekku sudah menderita stroke sejak aku masih duduk di bangku SD. Separuh tubuhnya tidak berfungsi, bahkan hingga beliau meninggal dunia. Aku menyaksikan sendiri betapa susahnya hari tua nenek saat itu. Kloset kamar mandi masih menggunakan kloset jongkok yang rendah, tidak user friendly untuk seorang manula, terlebih manula yang menderita stroke. Saat mandi, kloset jongkok nenek dilapisi papan kecil supaya nenek bisa duduk. Aku tahu nenek kesulitan saat mandi dan buang air, tetapi ketika itu nenek (dan kami) tidak punya pilihan.

Saat itu aku belum mengerti banyak hal. Kloset duduk juga baru aku tahu saat tinggal di Jakarta. Lingkungan dan kondisi keuangan keluarga saat kecil mempengaruhi wawasanku, termasuk wawasan sepele seperti itu. Bagiku, cukup nenek yang merasakan. Aku tidak mau ibu, ayah, dan aku merasakan masalah-masalah sepele yang justru dihadapi setiap hari seperti itu.

“Sekarang aja aku udah sering kesemutan kalo jongkok di toilet, dan rematikku udah sering kumat kalo mandi air dingin. Gimana nanti kondisiku berapa tahun ke depan? Gimana ibu dan ayah yang sekarang usianya sudah 50an?” Fikiran itu terus menghantuiku.


Aku sudah memimpikan akan membeli kloset duduk dan water heater tahun ini, tetapi tahun ini hanya tersisa satu bulan lagi.

Impian aku untuk bisa bawa pulang
kloset duduk dan water heater ke kampung halaman
Pict : by me

Lazada 11.11 adalah Jalan Keluar

Bagi penggila belanja, tentunya sudah mengetahui istilah 11.11, moment dimana diskon belanja bertebaran pada tanggal 11 bulan 11 tersebut. Dari yang awalnya istilah 11.11 merupakan sebutan Single Day di Cina karena pada tanggal tersebut para jomblo memberi hadiah kepada dirinya sendiri, hingga akhirnya istilah tersebut semakin meluas maknanya lalu merambah ke seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia.


Buat sebagian orang, 11.11 adalah waktunya mereka belanja sebanyak mungkin, mumpung lagi diskon besar-besaran. Biasanya teman-teman kantorku akan kalap belanja dan sibuk bolak-balik ke mesin ATM. Yang memiliki mobile banking lebih praktis lagi, karena bisa bebas belanja tanpa harus meninggalkan meja.

Kemarin, saat makan siang aku mendengar mereka ingin membeli parfum, kamera, hingga handphone. Aku pun tidak luput dari euforia 11.11, karena buatku, 11.11 adalah jalan keluar dari keinginan untuk membeli kloset duduk dan water heater yang terkendala budget.

Lazada, toko online tempatku membeli springbed tahun lalu, juga tempatku membeli perlengkapan dapur beberapa bulan lalu ternyata ikut mengadakan Lazada 11.11. Kabar baiknya juga diskon besar tersebut berlangsung selama 24 jam. Aku yang awalnya sudah putus asa karena uang yang aku kumpulkan tidak cukup untuk membeli kloset jongkok dan water heater tahun ini, seperti diberi jalan keluar oleh Lazada melalui diskon besar-besaran tersebut.

Semoga saja ada diskon besar di kloset jongkok dan water heater yang aku mimpikan, sehingga aku bisa membeli, sekalian membawanya pulang ke kampung halaman. Sudah berapa tahun ini aku  menahan diri untuk tidak pulang ke kampung halaman, tidak bertemu ibu dan ayah. Rasanya rindu sekali.

Kamis, 25 Oktober 2018


Kamu tahu kasih... aku belajar merajut demi mempersiapkan hari tua yang ingin kutata rapi bersamamu. Aku ingin hari tuamu dipeluk aku; tubuhmu dihangatkan aku.

Saat tua nanti, aku ingin pagi kita yang dingin dan segelas teh melati panas. Lalu nenek renta yang terkadang menyebalkan ini akan memintamu segera meminum tehnya.

"Nanti keburu dingin, Sayang."

Tentu saja kamu tidak keberatan, aku tahu itu. Kita berdua sudah melalui pahit yang paling getir. Perihal teh melati panas, aku yakin kamu akan meminumnya setiap hari jika saja aku memintanya — Tidak lama setelahnya kamu gemas memeluk tubuh rentaku; sambil menunjukkan lidahmu yang kepanasan dibalik bibir keriputmu.

Duhai kamu terkasih, entah seperti apa wajah kamu saat tua nanti. Entah gigi siapa diantara kita yang lebih dulu tersisa dua. Aku atau kamu? Sepertinya akan menyenangkan untuk mencatat gigi siapa yang lebih dulu tanggal diantara kita.

Saat tua nanti, kasih... tidak peduli apakah koran dan beberapa pisang goreng akan menjadi terlalu kuno. Bagiku, asal kamu menyukainya, koran dan pisang goreng tidak akan punah dari hidup kita.

Selasa, 31 Juli 2018

Curug Cikuluwung emang lagi famous sih belakangan ini. Di explore instagram, postingan teman, hingga beberapa akun komunitas traveling silih berganti memposting keeksotisan yang membuat aku jadi makin penasaran sama curug ini.

Rejeki bertepuk dua tangan. Ulut ngejapri ngajakin odt-an (one day trip) ke Curug Cikuluwung. Kondisinya itu udah kayak orang yang lagi ngiler pengen es tong-tong, ehh di depan kontrakan ada suara gong tong-tong gituu. (Disini ada yang tau es tong-tong ga ya? Kayaknya aku salah kasih perumpamaan deh. HeuHeuHeu)

Aku yang nyatanya ngangenin gampangan ini langsung aja mengiyakan ajakan tersebut. Ga pake waktu lama, aku langsung terhempas ke grup yang isinya orang-orang yang mau ke Curug Cikuluwung.

Oemji ternyata yang mau ikut banyak juga wkwk. Yaaa walau dipikir-pikir emang wajar juga sih, lah wong sharecostnya aja cuma Rp.80.000 udah termasuk sewa angkot dari Stasiun Bogor ke lokasi PP, tiket masuk 2 curug, dan biaya parkir. Wagelaseh itu murah banget yee kan?


***

Jam 08.10 WIB aku udah di Stasiun Bogor, bertemu teman-teman yang lain, berkenalan dengan beberapa orang karena ada sebagian yang belum kenal, kemudian sarapan bareng sambil nunggu personil yang masih di kereta.

Aku sebenarnya lagi off naik gunung, off ngetrip, off olahraga, jadii ngerasa kalo fisik lagi bener-bener ga bagus. Naik tangga JPO ke kantor aja engapnya naudzubillah. Aku ngebayangin kalo Curug Cikuluwung itu berada di hutan entah barantah yang kudu trekking, sedangkan kondisi fisik lagi letoy se letoy-letoynya. Alhasil aku bawa trekking pole lipat, terus aku masukin ke daypack yang aku pake.

"Hah, serius kamu bawa trekpol?"
"Lah iyaaa, takut ga kuat aja."
"Ihh, orang curugnya ga jauh kok!"

Karena aku tetap mau ambil aman, apalagi ga ada dia yang bisa nyemangatin aku saat lagi capek, aku mutusin untuk tetap bawa trekpol.

Itin yang sudah dirilis berubah jadwal. Dari rencana awal jalan jam 8 pagi, akhirnya kami jalan jam 9 pagi karena ada teman yang jalannya dari planet lain, kudu melintasi Jakarta dulu, baru memasuki kota hujan ini.

Ohh iya, di perjalanan ini kami menggunakan angkotnya Ulut. Sebelumnya memang sudah biasa menyewa angkotnya doi sih, seperti perjalananku saat camping di Suaka Elang Loji beberapa waktu lalu.

Alasan menggunakan angkot Ulut selain karena menggunakan angkot cenderung lebih murah, juga karena Ulut mengetahui berbagai lokasi wisata hingga ke pojok-pojok Bogor. Buktinya saja aku bisa explore Cikuluwung hanya dengan sharecost 80ribu. Gilaaa anak kost mah tau banget yang mana trip hemat kantong. HeuHeuHeu lagi.


***

Dua angkot beriringan melaju meninggalkan Stasiun Bogor menuju Kampung Suka Asih, Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Bogor. Curug Cikuluwung ini berada tidak jauh dari rumah-rumah warga. Setelah angkot yang kami tumpangi tiba di parkiran, kami turun dan berjalan kaki melewati rumah-rumah warga hingga akhirnya kami melihat gerbang selamat datang di Curug Cikuluwung 1.

Walaupun melewati gang-gang rumah warga, tetapi petunjuknya jelas, warganya juga ramah-ramah. Jalur yang berupa jalanan datar membuat trekpolku ga berfungsi disini. Bahkan hingga pulang, trekpol justru enggak aku gunain sama sekali. Kok yaa aku jadi nyesel bawanya, ngeberat-beratin tas aja wkwk.

Kami tiba di gerbang selamat datang saat waktu sudah hampir mendekati Dzuhur. Yaudah akhirnya kami memutuskan untuk ishoma terlebih dahulu. Di sekitar loket curug terdapat gazebo-gazebo untuk beristirahat, juga warung dengan berbagai pilihan makanan.

Karena makan tidak termasuk dalam sharecost, aku dan Wiwit memutuskan untuk membeli makan siang disini. Awalnya aku mikir harganya akan mahal. Secaraaa... ini daerah wisata yang lagi famous gituu kannn. Ehh ternyata enggak cuy. Harganya masih sesuai dompet.

Setelah selesai ishoma, kami mulai meniti menuruni anak tangga menuju Curug Cikuluwung 1. Biaya tiket yaitu Rp.10.000/orang, ini sudah termasuk sharecost. Sebenarnya dari gerbang pembelian tiket menuju curug tidak jauh, hanya turun tangga saja. Karena tangganya tinggi dan lumayan licin, jadi kami memang harus berhati-hati. Untungnya ada pengelola curug yang berjaga-jaga, memastikan kami ga terpeleset atau terjatuh.

"Curugnya bagusss." Itu penilaianku saat pertama memijakkan kaki ke bebatuan curug. Bebatuan besar nan eksotis semakin mempercantik keindahan curug. Air terjun dengan tinggi sekitar 10 meter jatuh ke kolam alami yang biasa warga sekitar sebut leuwi, airnya yang jernih bener-bener nyegerin mata.

Pesona Curug Cikuluwung 1
Sumber foto : akun ig @dede_ulut

Kemudian bebatuan tinggi seolah membelah serupa cekungan, dan kamiii berada di antara dua bebatuan besar yang cantik. Bebatuan tersebut bersusun dari pangkal air terjun memanjang hingga berpuluh-puluh meter ke belakang menjadi pelengkap kecantikan Curug Cikuluwung 1.

Sayangnya (dikit-dikit pake sayang eaaa), leuwi yang berada persis di bawah air terjun ini tidak boleh digunakan untuk berenang karena cerita masyarakat yang beredar. Cerita ini aku tahu dari Pak Musa, warga yang juga menjadi pengurus curug. Di saat makan siang di warung tadi, aku berkenalan dengan beliau, kemudian sempat mengobrol dan mencari tahu berbagai informasi tentang curug ini.

"Disini pernah ada warga yang bernama Pak Idas. Ia ingin masuk ke gua yang berada di balik curug. Saat akan masuk ke dalam gua, Pak Idas justru terjatuh ke leuwi di bawahnya, kemudian meninggal dunia. Hal ini juga yang menjadi alasan beberapa orang menyebut curug ini dengan nama Curug Idas."

Selain karena alasan bahwa kolam air tersebut dalam dan memiliki pusaran air yang berbahaya, kejadian itu juga menjadi salah satu alasan supaya pengunjung tidak berenang di leuwi yang berada persis di bawah air terjun.

Untung saja leuwinya ga cuma satu. Air terjun mengalir ke sela-sela batu, kemudian berkumpul di leuwi selanjutnya. Nah di leuwi selanjutnya ini pengunjung boleh mandi tanpa khawatir, karena ada pengelola curug yang mengawasi dan siap sedia membantu para pengunjung.

Di leuwi ini kita bisa berenang tanpa khawatir,
karena tetap dalam pengawasan pengelola curug.
Sumber foto : akun ig @tommy_pramuditya


***

Sayang sekali kami tiba saat sudah siang, dimana pengunjung sudah banyak berdatangan. Mungkin lain kali kami akan kesini lebih pagi, supaya bisa leluasa berfoto tanpa ada cendol di background. Apalagi aku yang ga terlalu pede foto, tambah merasa kesulitan mencari gaya berfoto di tengah kepadatan pengunjung.

Setelah puas foto dan menikmati keindahan Curug Cikuluwung 1, team memutuskan untuk naik dan beralih ke curug satunya. Tempat pembelian tiket masuk Curug Cikuluwung 2 berada sekitar 20 meter sebelah kiri dari Gerbang Curug Cikuluwung 1. Harga tiket masuknya juga Rp.10.000/orang, dan ini juga sudah termasuk ke dalam sharecost.

Pesona Curug Cikuluwung 2
Sumber foto : akun ig @dede_ulut

Disini aku dan Wiwit memutuskan tidak ikut ke Curug Cikuluwung 2. Tadi saat makan siang, selain menceritakan tentang curug, Pak Musa juga menceritakan tentang banyak hal terkait Cikuluwung. Kami yang terlanjur penasaran dengan arti kata "Cikuluwung" ini akhirnya mencari tahu.

Saat team sedang trekking menuju Curug Cikuluwung 2, aku dan Wiwit menuju bendungan yang menjadi hulu dari sumber air terjun yang tadi kami gunakan untuk mandi atau sekedar main air. Bendungan tersebut tidak jauh dari tempat kami memarkirkan angkot. Jalurnya juga sudah berupa tangga semen, dan terlihat jelas.

Menyusuri anak tangga hingga ke bawah, kami tiba di tanah milik PLN, Sub unit PLTA Kracak. Disana aliran sungai dibendung lalu dibagi menjadi 2 aliran. Aliran pertama mengarah ke Curug Cikuluwung 1 dan 2 yang kami kunjungi. Wajar saja debit air curug tidak terlalu besar, ternyata itu karena adanya bendungan di hulu curug.

Aliran kedua mengarah ke sisi lain curug, melalui aliran air buatan, atau yang biasa warga sebut kuluwung. Panjang kuluwung dari bendungan yang kami lihat hingga ujung kuluwung di hilir sana sekitar 300 meter.

Kuluwung berada pada kedalaman 30 meter di bawah tanah, dengan diameter sekitar 2,5 meter. Kuluwung berakhir di basengkom atau penampungan di hilir. Sayang sekali kami tidak sempat melihat basengkom yang dimaksud.

"Ci dalam bahasa Sunda berarti air, sedangkan Kuluwung merupakan saluran air besar yang dibuat pada zaman penjajahan. Yang membuat tentunya adalah warga pribumi atas perintah penjajah." Itu kesimpulan dari obrolanku dengan Pak Musa.


***

Karena khawatir kelamaan, aku dan Wiwit memutuskan kembali ke parkiran. Ternyata teman-teman belum ada yang nongol.

"Mereka masih ada di curug bawah, Mbak." Kata pengunjung lain saat aku menanyakan keberadaan team kami. Curug bawah yang dimaksud adalah Curug Cikuluwung 2, bagian hilir Curug Cikuluwung 1.

Karena mereka masih di bawah, aku dan Wiwit akhirnya menghabiskan waktu mengobrol bersama Pak Musa di teras rumah yang tidak jauh dari parkiran.

"Tadi di perjalanan turun ke curug (Cikuluwung 1), mbak lihat ada toilet ga?" Tanya Pak Musa

Aku dan Wiwit mengingat-ingat, sebelum akhirnya ngeh "Iya ingat Pak. Yang di sebelah kiri sebelum turun tangga."

Beliau mengangguk mengiyakan. "Dulu, tempat yang sekarang dijadikan toilet di tangga curug adalah jembatan menuju seberang curug."

"Ohh berarti di seberang curug itu ada perkampungan, Pak?" Aku penasaran, karena tadi aku tidak melihat tanda-tanda kehidupan di seberang curug. Yang aku lihat hanyalah kerapatan hutan.

"Di seberang curug sana adalah perkampungan, juga sekolah. Saat itu warga sini yang sekolah di seberang melewati jembatan untuk menuju sekolah."

"Sekitar 70 tahun yang lalu, persis tanggal 17 Agustus, serombongan anak sekolah yang akan mengadakan upacara 17-an melintasi jembatan tersebut jatuh ke bawah. Dari semua korban yang jatuh, hanya 3 orang yang selamat, selebihnya meninggal dunia. Salah satu korban yang selamat adalah bibi saya." Ucap Pak Musa melanjutkan ceritanya.


***

Menjelang jam 4 sore, team kami sedikit demi sedikit sudah berkumpul di angkot yang kami gunakan. Aku dan Wiwit yang menyadari kedatangan teman-teman kami pun akhirnya pamit ke Pak Musa untuk kembali bergabung bersama team, dan bersiap-siap pulang.


Sumber foto : dokumen pribadi



Minggu, 15 Juli 2018

Hidup penuh dengan kejutan bukan?

Rasanya... baru kemarin kita berada di suatu daerah yang tenang dengan bebek-bebek bebas berenang, lalu esoknya kita terhempas di sebuah kota yang hiruk-pikuk. Sepertinya baru kemarin kita menjadi anak kecil yang terbata-bata menyebut kata ayah ataupun ibu, lalu sekarang menjadi orang yang bisa mengucapkan banyak kalimat dengan terburu-buru. Rasanya... baru kemarin kita melakukan banyak hal, dan waktu terus berlalu hingga semuanya berlari menjadi masa lalu.

Di sebuah kedai kopi, menatap jalanan Tb Simatupang yang selalu ramai lalu-lalang kendaraan, juga ditemani lagu Maroon 5 hingga lagu Andra & The Backbone, aku ingin mengajakmu ke masa aku kecil. Cerita sederhana ini dimulai antara Tahun 1998 hingga 2002 (Jujur aku tidak bisa mengingat jelas tahun berapa. Aku hanya mengingat bahwa cerita ini terbentuk saat aku masih SD), melanjutkan episode kenangan kecil tentang sungai yang sudah ku ceritakan di tulisanku sebelumnya.

Anggap saja cerita sederhana ini aku tulis untuk menemanimu minum kopi atau dongeng pengantar tidurmu malam ini.


Kemarau

Siang saat itu teramat terik. Musim kemarau di kampungku membuat sawah kekurangan air. Jalanan lebih mudah berdebu. Di musim kemarau seperti itu biasanya anak-anak lebih suka menghabiskan waktu di sungai. Selain air yang sangat jernih, sungai juga menjadi lebih dangkal.

Aku dan teman-teman akan berjalan ke arah hulu sungai hingga pangkalan Perantuan. Pangkalan Perantuan adalah pangkalan mandi yang dekat dengan pemakaman umum kampung, juga dekat dengan satu-satunya sekolah di kampungku. Di pangkalan itu ada pohon kemiri tua yang dahannya meneduhkan jalan setapak saat siang, tetapi mencekam saat malam. 

Jika sudah tiba di Pangkalan Perantuan, kami akan berjalan meniti ke tengah sungai. Kemudian berhanyut-hanyutan melewati kebun kopi, rumpun bambu kuning, pohon ara besar, melewati pangkalan depan rumah dan terus berhanyut-hanyutan jauh hingga ke pangkalan Dayat.

Dayat adalah salah satu teman masa kecilku. Dulu pangkalan Dayat merupakan batas kami berhanyut-hanyutan. Aku tidak mau berhanyut-hanyutan melewati pangkalan Dayat. Selain karena sudah terlalu jauh yang lebih dari 2 km, juga karena arusnya sudah terlalu deras untuk anak-anak kecil seumuranku.


Belajar Memanjat

Selain bermain di sungai, panasnya hari saat kemarau membuat dogan (orang-orang di kampungku menyebut kelapa muda dengan sebutan dogan. Di Jakarta lebih sering disebut "degan") terlihat sangat menyegarkan. Biasanya setiap minggu akas (Di suku Daya Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Akas dan Ajong adalah sebutan untuk kakek) memanjat pohon kelapa. Kelapa-kelapa yang sudah tua dikupas kulitnya kemudian dijual. Tidak semua kelapa tua dijual, sebagian buah kelapa diolah menjadi minyak kelapa yang digunakan untuk keperluan memasak sehari-hari.

Saat memanjat kelapa, biasanya akas juga menjatuhkan beberapa buah dogan untuk di nikmati bersama-sama. Aku sangat menyukai dogan pemberian dari akas. Airnya manis walaupun tanpa gula ataupun susu, dan ketebalan dagingnya juga pas. Akas sepertinya ahli dalam memilih dogan.

Biasanya setelah akas memanjat kelapa dan menjatuhkan hasil panennya, aku dan adikku akan membantunya membawa kelapa-kelapa tersebut ke halaman rumah untuk dikupas. Aku terkadang membantu mengupas kelapa, dari yang awalnya menghabiskan setengah jam untuk mengupas satu buah kelapa, hingga hanya membutuhkan sekitar 5 menit untuk membuat rambut kelapa menjadi plontos.

Sayangnya akas tidak setiap hari memanjat kelapa, dan persediaan dogan tidak selalu ada. Belakangan aku baru tahu jika akas tidak sering-sering mengambil dogan karena ingin menjadikan kelapanya tua. Hanya saja, saat itu aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Yang aku fikirkan hanyalah keinginanku untuk menikmati dogan yang segar. Keinginan itulah yang menyebabkanku akhirnya nekat memanjat kelapa.

Memanjat kelapa itu sangaaattt susah. Jauh lebih susah dibandingkan memanjat pohon duku, sawo, atau manggis sekitar rumah. Jika pohon-pohon lain memiliki banyak dahan yang bisa dijadikan tumpuan tangan maupun kaki, pohon kelapa tidak memiliki cabang. Jika di pohon-pohon lain aku bisa beristirahat dengan menyandarkan tubuh di dahan, aku tidak bisa melakukannya di pohon kelapa.

Pohon kelapa di kampungku biasanya memiliki lubang kecil di sisi kiri dan kanan pohon. Kedalaman lubang hanya 3 cm hingga 5 cm. Mana cukup untuk menopang kaki. Jarak antara lubang satu dan lubang di atasnya adalah sekitar 1 meter. Saat itu usiaku belum cukup 10 tahun, kakiku masih terlalu susah untuk menjangkau lubang satu ke lubang lainnya.

Di percobaan-percobaan pertama, aku hanya bisa naik seperempat dari tinggi pohon kelapa. Tubuhku belum terlalu besar untuk bisa memeluk pohon kelapa secara utuh.

Saat kecil adalah masa-masa tanpa pikir panjang. Asalkan itu menyenangkan, maka aku lakukan. Permasalahannya semua hal terasa menyenangkan, termasuk memanjat pohon kelapa. Aku hanya ingin bisa minum dogan sesuka hati tanpa menunggu akas memanjatnya.

Pernah suatu waktu aku menangis karena ingin dogan, tetapi akas sedang ke kebun. Tidak ada yang bisa memanjat dogan, termasuk ayah. Bahkan hingga aku dewasa, belum pernah kulihat ayah memanjat pohon kelapa. Aku menangis hingga sesenggukan. Jika sudah begitu, umak lah (Umak adalah panggilanku untuk nenek. Sebenarnya di Suku Daya, nenek biasa disebut Maju atau Mbay) yang akan sibuk menenangkanku.


Proses

Bulan berganti tahun, dari yang awalnya hanya sanggup memanjat seperempat pohon, akhirnya aku bisa memanjat setengah dari seluruh ketinggian pohon. Kakiku sudah kuat, sudah terbiasa menahan tubuh untuk berdiri lama di pohon. Tapi aku punya masalah baru, takut ketinggian. Aku takut jika terjatuh dari pohon kelapa yang tinggi itu.

Karena ketakutan tersebut, aku dan adikku menggunakan buluh bambu yang panjang. Ujung buluh bambu di belah dua sepanjang 10 cm. Di antara belahan akan di letakkan ranting kecil supaya ujung bambu menganga. Ujung bambu yang menganga itu berguna untuk menjepit tangkai buah lalu memilinnya hingga buahnya terjatuh.

Bukan hal sulit jika buah tersebut memiliki tangkai yang kecil seperti duku, sawo, ataupun manggis. Hanya dengan dipilin sedikit, maka buah akan langsung rontok dari tangkai. Tetapi dogan? Tangkainya besar dan serat tangkainya kuat. Aku kesulitan untuk meremukkan tangkainya.

Aku bekerjasama dengan adikku. Aku memanjat hingga setengah dari ketinggian pohon kelapa. Kemudian dari bawah, adikku menjulurkan buluh bambu yang ujungnya buluhnya sudah menganga. Untuk selanjutnya aku berjuang memasukkan tungkai dogan diantara buluh. Tangan kanan berusaha memegang buluh, tangan kiri memeluk pohon.

Jika tangkai buah sudah berhasil di jepit oleh buluh bambu, aku akan memutar-mutarkan buluh hingga tangkai menjadi remuk dan akhirnya dogan jatuh ke tanah atau kubangan sawah. Aku biasanya berusaha untuk menjatuhkan dogan di kubangan sawah, karena kontur tanah sawah yang lebih lembek jika dibandingkan dengan tanah di daratan, membuat dogan jatuh tanpa harus pecah.

Aku dan adikku melakukan itu secara bergantian. Terkadang aku yang memanjat, terkadang adikku. Jika adikku yang memanjat, tugasku adalah menjulurkan bambu dan mengambil dogan dari kubangan sawah.


Bisa karena Biasa

Semakin lama aku dan adikku semakin terbiasa. Jika sebelumnya menggunakan bambu untuk mendapatkan hanya satu atau dua buah dogan, kali ini aku bisa mendapatkan dogan sebanyak yang aku inginkan. Tidak ada lagi aku yang beraninya memanjat hanya setengah dari ketinggian kelapa, aku bahkan bisa menjatuhkan kelapa tanpa alat bantu.

Aku memanjat tanpa kendala hingga ujung pohon, kemudian memilin tangkai dogan hingga remuk. Jika tangkai dogan sudah remuk, hanya dengan menariknya, dogan akan jatuh ke tanah. Jika aku tidak ingin dogan jatuh ke tanah, sebelum jatuh, aku akan memegang lalu melempar dogan ke arah sawah.

Sejak itu, keluargaku tahu aku bisa memanjat kelapa. Mereka yang awalnya melarangku karena takut aku jatuh, akhirnya hanya bisa pasrah. Terlebih saat aku membawa beberapa dogan ke rumah, antara cemas dan bangga ibu menerimanya. Cemas karena takut anaknya kenapa-kenapa, juga bangga karena diantara sekian banyak laki-laki yang tidak bisa memanjat bahkan seperempat saja dari ketinggian pohon kelapa, anak wanita satu-satunya justru bisa mengambil kelapa dengan tangan kosong. 

Tetapi, diluar dari itu, ada kebahagiaan besar dari ibu, yaitu kakiku yang sebelumnya tidak bisa berjalan hingga berumur 4 tahun justru bisa memanjat kelapa tanpa kendala. Aku yang memiliki history kaki lemah justru membuktikan ke ibu bahwa aku bisa jika aku mau berusaha. Ini baru aku ketahui saat aku dewasa, di sela-sela obrolan santai aku dan ibu.


Seperti Pisau, Jika Tidak Diasah Akan Tumpul

Sekarang aku ajak kamu melompat ke Tahun 2013 - sekarang dimana usiaku bukan kanak-kanak lagi.

Belakangan ini jika aku pulang ke kampung, Maju Nuri (saudara / adik kandung akas) biasanya akan memintaku untuk mengambil dogan. Sudah lama tidak makan dogan katanya. Atau jika aku sedang rindu kampung dan suasana kecil, aku akan melakukan hal-hal yang menjadi kenangan kecil tersebut. Salah satunya mengambil dogan lalu menikmatinya di pondok sawah atau di tepian sungai.

Kemudian saat melewati pematang sawah menuju ke salah satu pohon kelapa, akan ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang menyapaku.

"Mau manjat dogan, Kalena?"

Yapp, mereka sudah mengetahui jika aku bisa memanjat. Dulu mereka sering melihat sendiri saat aku memilin dan menjatuhkan dogan dengan mudah. Sayangnya, keahlianku sekarang tidak bisa lagi disamakan dengan saat dulu.

Dulu aku melakukannya hampir setiap minggu, hingga cengkraman tanganku kuat, hingga pijakan kakiku mantap. Dulu aku memanjat dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa kesulitan. Dulu aku bisa memilih dogan yang airnya manis, berdaging tebal dan lembut seperti pilihan akas.

Sekarang telapak kakiku lebih cepat sakit, tubuhku lebih cepat lelah, dan lebih sering beristirahat. Baru seperempat ketinggian pohon kelapa sudah istirahat, kemudian setengan pohon istirahat lagi. Belum lagi telapak kaki yang semakin memerah karena menahan tubuh terlalu lama.

Jika dulu aku bisa berada lama di atas pohon kelapa dan menjatuhkan dogan sesuai keinginan, sekarang aku hanya menjatuhkan dogan semampuku saja.


Menjadi Tua itu Pasti

Iya... menjadi tua itu pasti, aku rasa kamu juga setuju dengan istilah ini. Berbagai hal remeh maupun besar pernah menetap lalu pergi, namun tidak semuanya layak dilupakan. Itulah sebagian kenangan kecil yang kali ini ku ceritakan kepadamu. Mungkin nanti aku akan menceritakan kenangan-kenangan lainnya.

By the way guys, kopiku sudah habis nih, sudah larut malam juga. Sampai jumpa di ceritaku selanjutnya yaaa! Semoga saja kamu tidak bosan atau mengantuk lalu meninggalkanku yang sedang asik-asiknya bercerita.

Atau kamu mau gantian cerita kenangan masa kecil di blogmu? Okee! Kurasa diammu pertanda setuju. Berarti, next gantian kamu yang cerita yaa! 😊


Nyiur hijau... di tepi pantai sawah
Sumber foto : Dok. Pribadi

Baca juga : Episode Kenangan Kecil : Sungai


Follow Kal di @kalenaefris