Kemarau Siang itu teramat terik. Musim kemarau di kampungku membuat sawah kekurangan air. Jalanan lebih mudah berdebu. Di musim kemarau s...

Episode Kenangan Kecil : Demi Kesegaran Dogan

Maret 28, 2018 Kalena Efris 0 Comments

Kemarau
Siang itu teramat terik. Musim kemarau di kampungku membuat sawah kekurangan air. Jalanan lebih mudah berdebu. Di musim kemarau seperti itu biasanya anak-anak lebih suka menghabiskan waktu di sungai. Selain air yang sangat jernih, sungai juga menjadi lebih dangkal.

Aku dan teman-teman akan berjalan ke arah hulu sungai hingga pangkalan Perantuan. Pangkalan Perantuan adalah pangkalan mandi yang dekat dengan pemakaman umum kampung, juga dekat dengan satu-satunya sekolah di kampungku. Di pangkalan itu ada pohon kemiri tua yang dahannya meneduhkan jalan setapak saat siang, tetapi mencekam saat malam. 

Jika sudah tiba di pangkalan Perantuan, kami akan berjalan meniti sungai ke tengah. Kemudian berhanyut-hanyutan melewati kebun kopi, rumpun bambu kuning, pohon ara besar, berhanyut-hanyutan jauh hingga ke pangkalan Dayat. Dayat adalah salah satu teman masa kecilku. Dulu pangkalan Dayat adalah batas kami berhanyut-hanyutan. Aku tidak mau berhanyut-hanyutan melewati pangkalan Dayat. Selain karena sudah terlalu jauh yang lebih dari 2 km, juga karena arusnya sudah terlalu deras untuk anak-anak kecil seumuranku.

Belajar Memanjat
Selain bermain di sungai, panasnya hari saat kemarau membuat dogan (kelapa muda) terlihat sangat menyegarkan. Biasanya setiap minggu kakek memanjat pohon kelapa. Kelapa-kelapa yang sudah tua dikupas kulitnya kemudian dijual. Tidak semua kelapa tua dijual, sebagian buah kelapa diolah menjadi minyak kelapa yang digunakan untuk keperluan memasak sehari-hari.

Saat memanjat kelapa, biasanya kakek juga menjatuhkan beberapa buah kelapa muda untuk di nikmati bersama-sama. Aku sangat menyukai kelapa muda pemberian dari kakek. Airnya manis walaupun tanpa susu, dan ketebalan dagingnya juga pas. Kakek sepertinya sangat ahli dalam memilih kelapa muda.

Biasanya setelah kakek memanjat kelapa dan menjatuhkan hasil panennya, aku dan adikku akan membantu kakek membawa kelapa-kelapa tersebut ke halaman rumah untuk dikupas. Aku pun terkadang membantu mengupas kelapa, dari yang awalnya menghabiskan setengah jam untuk mengupas satu buah kelapa, hingga hanya membutuhkan tidak lebih dari 5 menit untuk membuat rambut kelapa menjadi plontos.

Sayangnya kakek tidak setiap hari memanjat kelapa, dan persediaan dogan tidak selalu ada. Belakangan aku baru tahu jika kakek sengaja tidak sering-sering mengambil dogan karena ingin menjadikan kelapanya tua. Hanya saja aku masih terlalu kecil untuk mengerti. Yang aku fikirkan saat itu hanyalah keinginanku untuk menikmati dogan yang segar. Keinginan itulah yang menyebabkanku akhirnya nekat memanjat kelapa.

Memanjat kelapa itu sangaaattt susah. Jauh lebih susah dibandingkan memanjat pohon duku, sawo, atau manggis. Jika pohon-pohon lain memiliki banyak dahan yang bisa dijadikan tumpuan tangan maupun kaki, pohon kelapa tidak memiliki cabang. Jika di pohon-pohon lain aku bisa beristirahat dengan menyandarkan tubuh di dahan, aku tidak bisa melakukannya di pohon kelapa.

Pohon kelapa di kampungku biasanya memiliki lubang kecil di sisi kiri dan kanan pohon. Kedalaman lubang hanya 3 cm. Mana cukup untuk menopang kaki. Jarak antara lubang satu dan lubang di atasnya adalah sekitar 1 meter. Saat itu usiaku masih 10 tahun, kakiku masih terlalu susah untuk menjangkau lubang satu ke lubang lainnya.

Di percobaan-percobaan pertama, aku hanya bisa naik seperempat dari tinggi pohon kelapa. Tubuhku juga belum terlalu besar untuk bisa memeluk pohon kelapa secara utuh.

Saat kecil adalah masa-masa tanpa pikir panjang. Asalkan itu menyenangkan, maka aku lakukan. Permasalahannya semua hal terasa menyenangkan, termasuk memanjat pohon kelapa. Aku hanya ingin bisa minum dogan tanpa menunggu kakek memanjatnya.

Pernah suatu waktu aku menangis karena ingin dogan, tetapi kakek sedang ke kebun. Tidak ada yang bisa memanjat dogan. Bahkan hingga aku dewasa, belum pernah kulihat ayah memanjat pohon kelapa. Aku menangis hingga sesenggukan. Jika sudah begitu, nenekku akan disibukkan untuk menenangkanku.

Proses
Dari waktu ke waktu, dari yang awalnya hanya sanggup memanjat seperempat pohon, akhirnya aku bisa memanjat setengah dari seluruh ketinggian pohon. Kakiku sudah kuat, sudah terbiasa menahan tubuh untuk berdiri lama di pohon. Tapi aku punya masalah baru, takut ketinggian, aku takut jika terjatuh dari pohon kelapa yang tinggi itu.

Karena ketakutan tersebut, aku dan adikku menggunakan buluh bambu yang panjang. Ujung buluh bambu di belah dua sepanjang 10 cm. Di antara belahan akan di letakkan ranting kecil supaya ujung bambu menganga. Ujung bambu yang menganga itu berguna untuk menjepit tangkai buah lalu memilinnya hingga buahnya terjatuh.

Bukan hal sulit jika buah tersebut memiliki tangkai yang kecil. Hanya dengan dipilin sedikit, maka buah akan langsung rontok dari tangkai. Tetapi dogan? Tangkainya besar dan serat tangkainya kuat. Sepertinya akan sulit untuk meremukkan tangkainya.

Aku bekerjasama dengan adikku. Aku memanjat hingga setengah dari ketinggian pohon kelapa. Kemudian dari bawah, adikku menjulurkan buluh bambu yang ujungnya buluhnya sudah menganga. Untuk selanjutnya aku berjuang memasukkan tungkai dogan diantara buluh. Tangan kanan berusaha mencari tungkai, tangan kiri memeluk pohon.

Jika tangkai buah sudah berhasil di jepit oleh bambu, aku akan memutar-mutarkan bambu hingga tangkai menjadi remuk dan akhirnya dogan jatuh ke tanah atau kubangan sawah. Aku biasanya berusaha untuk menjatuhkan dogan di kubangan sawah, karena kontur tanah sawah yang lebih lembek jika dibandingkan dengan tanah di daratan, membuat dogan jatuh tanpa harus pecah.

Aku dan adikku melakukan itu secara bergantian. Terkadang aku yang memanjat, terkadang adikku. Jika adikku yang memanjat, tugasku adalah menjulurkan bambu dan mengambil dogan dari kubangan sawah.

Bisa Karena Biasa
Semakin lama aku dan adikku semakin terbiasa. Jika sebelumnya menggunakan bambu untuk mendapatkan hanya satu atau dua buah dogan, kali ini aku bisa mendapatkan dogan sebanyak yang aku inginkan. Tidak ada lagi aku yang beraninya memanjat hanya setengah dari ketinggian kelapa, aku bahkan bisa menjatuhkan kelapa tanpa alat bantu.

Aku memanjat tanpa kendala hingga ujung pohon, kemudian memilin tangkai dogan hingga remuk. Jika tangkai dogan sudah remuk, hanya dengan menariknya, dogan akan jatuh ke tanah. Jika aku tidak ingin dogan jatuh ke tanah, sebelum jatuh, aku akan memegang lalu melempar dogan ke arah sawah.

Sejak itu, keluargaku tahu aku bisa memanjat kelapa. Mereka yang awalnya melarangku karena takut aku jatuh, akhirnya hanya bisa pasrah. Terlebih saat aku membawa beberapa dogan ke rumah, antara cemas dan bangga ibu menerimanya. Cemas karena takut anaknya kenapa-kenapa, juga bangga karena diantara sekian banyak laki-laki yang tidak bisa memanjat bahkan seperempat saja dari ketinggian pohon kelapa, anak wanita satu-satunya justru bisa mengambil kelapa dengan tangan kosong. 

Tetapi ada kebahagiaan besar dari ibu, yaitu kakiku yang sebelumnya tidak bisa berjalan hingga berumur 4 tahun justru bisa memanjat kelapa tanpa kendala. Aku yang memiliki kaki lemah justru membuktikan ke ibu bahwa aku bisa jika aku mau berusaha.

Seperti Pisau, Jika Tidak Diasah Akan Tumpul
Belakangan ini jika aku pulang ke kampung, saudara kandung kakek yang masih hidup biasanya akan memintaku untuk mengambil dogan. Sudah lama tidak makan dogan katanya. Atau jika aku sedang rindu kampung dan suasana kecil, aku akan melakukan hal-hal yang menjadi kenangan kecil tersebut. Salah satunya mengambil dogan lalu menikmatinya di pondok sawah atau di tepian sungai.

Kemudian saat melewati pematang sawah menuju ke salah satu pohon kelapa, akan ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang menyapaku.

"Mau manjat dogan, Kalena?"

Beberapa warga kampungku sudah mengetahui jika aku bisa memanjat, dulu mereka sering melihat sendiri saat aku memilin dan menjatuhkan dogan dengan mudah. Tetapi keahlianku sekarang tidak bisa lagi disamakan dengan saat dulu.

Dulu aku melakukannya hampir setiap hari, hingga cengkraman tanganku kuat, hingga pijakan kakiku mantap. Dulu aku memanjat dari satu pohon ke pohon lainnya tanpa kesulitan, bahkan aku bisa memilih dogan yang airnya manis dan berdaging tebal dan lembut seperti pilihan kakek. Sekarang telapak kakiku lebih cepat sakit, tubuhku lebih cepat lelah, dan lebih sering beristirahat. Baru seperempat ketinggian pohon kelapa sudah istirahat, kemudian setengan pohon istirahat lagi. Belum lagi telapak kaki yang semakin memerah karena menahan tubuh terlalu lama.

Jika dulu aku bisa berlama-lama diatas dan menjatuhkan dogan sesuai keinginan, sekarang aku hanya menjatuhkan dogan semampuku saja.

0 komentar: