Mereka tiba di puncak lebih lambat dari biasanya. Matahari sudah terlihat, mereka tadi menikmati keindahan matahari terbit dari jalur terbu...

Waktu Part 16 : Perjalanan

April 13, 2018 Kalena Efris 0 Comments

Mereka tiba di puncak lebih lambat dari biasanya. Matahari sudah terlihat, mereka tadi menikmati keindahan matahari terbit dari jalur terbuka. Sekitar 300 meter sebelum puncak. Tetapi namanya gunung, 300 meter itu sungguhlah berat, apalagi dengan jalur menanjak, dan oksigen yang semakin sedikit.

"Yeaayyyyy!!! Puncak guyyysss...!!!" Teriak Acen pertama kali menyemangati teman-temannya. 

Tidak lama kemudian Gilang yang menggandeng Jessica melepaskan gandengannya, sesaat setelah Jessica tiba di puncak.

"Terima kasih, Gilang!" Jessica langsung memeluk Gilang. Gilang tertegun. 

"Iya sama-sama, Jess." Tangannya menggapai punggung Jessica kemudian mengusapnya secara tulus. Gilang tidak menyadari bahwa ada kehangatan di hati Jessica.

Jodie yang tiba belakangan melihat mereka berpelukan, kemudian terperanjat.

"Widiihhhh... udah ada yang deket aja nih!!!" Ucapnya dengan sisa nafas yang hanya setengah. Nafasnya naik turun kelelahan. Ia tertawa melihat ekspresi wajah Gilang yang terlihat canggung.

Mereka melepaskan pelukannya. Kemudian bergabung dengan team untuk beristirahat di sebuah batu besar. 

Dari atas sini mereka bisa melihat keindahan pemandangan 360 derajat. Langit yang bersih tanpa awan yang mengganggu di atasnya. Awan justru berbaris rapi beberapa ratus meter di bawah mereka. Agung tadi terlihat bersujud sesaat setelah tiba di puncak. Katanya ini adalah hal yang selalu ia lakukan setiap tiba di puncak sebuah gunung.

"Gue mengagumi keindahan ciptaan Tuhan ini. Gue bersyukur memiliki tubuh yang masih sehat kayak gini." Itu alasan yang ia berikan setiap ada yang bertanya.

Setelah puas menikmati keindahan puncak hingga beberapa jam ke depan, mereka memutuskan untuk turun. Acen turun lebih dulu, kemudian disusul oleh Gilang dan Jessica. Sejak itu Jessica sudah di back up oleh Gilang bahkan hingga turun ke basecamp. Kemudian Jodie berjalan bersama Mahen dan Agung. Jodie di back up oleh Mahen. Mereka lebih banyak bercanda sepanjang perjalanan.

"Hati-hati Jod, entar lo jatuh lagi!" Mahen mengingatkan. Tangannya menawarkan bantuan. Jodie menyambutnya. Hap! Jodie melewati sebuah batu besar dengan sedikit pijakan kaki.

"Bisa dimarahin Gilang gue kalo sampe elo jatuh lagi!" Ucap Mahen sesaat setelah Jodie memijakkan kakinya dengan mulus.

"Hahaha lo kayaknya takut banget sama Gilang?"

"Bukan gitu. Lo kan jalan bareng sama Gilang. Orang tua lo juga nitipin lo ke Gilang, bukan gue. Nah kalo lo kenapa-kenapa saat lo sama gue, bisa-bisa gue yang dihabisin oleh Gilang."

"Iyaaaaa, baweelll... Sekarang lo liat kan? gue ga kenapa-kenapa?" Jodie berjalan sambil membuka tangan seolah memperlihatkan tubuhnya yang baik-baik saja.

"Iyaa sih. Udah ahh, yuk lanjut! Kita udah kehilangan jejak mereka." Jodie tertawa mendengar jawaban Mahen. Kemudian melanjutkan perjalanan. Jodie mempercepat langkahnya, kemudian diikuti oleh Mahen dan Agung. Tidak berapa lama, ia melihat Gilang dan Jessica dari kejauhan, mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Jessica sebenarnya berjalan pelan. Hanya saja karena Jodie dan Mahen kebanyakan bercanda di jalur, jalan mereka juga menjadi pelan.

Mereka tiba di tempat camp saat matahari sudah naik tinggi. Saat mereka tiba, terlihat Acen sedang mengikatkan hammock di pohon-pohon sekitar tenda. Semalam Acen sengaja memilih memasang tenda di dekat pohon. "Supaya angin tidak terlalu kencang." Katanya.

"Kalian ga nyasar kan? Gue udah dari sejam yang lalu sampe." 

"Biasa, Cen. Gue nemenin orang pacaran. Tau sendiri kan kalo orang pacaran jalannya pelan." Canda Agung sambil matanya memberi kode supaya Acen melihat ke arah Jodie dan Mahen.

"Ohhh... elo ngomongin kita?" Jodie yang geram berlari hendak menggetok Agung. Agung yang sadar langsung berlari menjauh sambil tertawa. Jodie yang awalnya berlari mengejar Agung akhirnya balik kanan, kembali ke sekitar tenda.

"Ahhhh... capek gue!" Ujarnya dengan nafas ngos-ngosan.

"Hahahaha lagian lo ngejar Agung, ya ga kekejar lah. Dia kan suhu gunung, larinya aja cepat!" Mahen gantian menyahuti Mahen.

"Bodo ahh!!!" Jodie dengan nafas ngos-ngosan memilih masuk ke tenda untuk mengistirahatkan tubuhnya, hingga akhirnya ia tertidur.

Jodie tidak tahu berapa lama ia tertidur. Saat Jodie terbangun, ia melihat makanan berada di dalam tenda, persis di sampingnya. Mereka sengaja meletakkan makanan yang sudah selesai dimasak ke dalam tenda supaya tertata rapi dan tidak terkena debu saat angin kencang.

Jodie membuka resleting pintu tenda. Di depan tenda hanya ada Gilang dan Jessica yang sedang mengobrol sambil menunggu masakan terakhir, yaitu nasi. Jodie memilih membiarkan Gilang dan Jessica berdua. Ia keluar tenda dan menuju hammock yang sudah dipasang tidak jauh dari tenda. Ada tiga hammock yang dipasang, Acen di hammock paling ujung sudah tertidur pulas, kemudian di tengah si Agung sedang hammockan sambil membaca buku, dan hammock terakhir ada Mahen yang sedang memandang langit dari balik daun-daunan pohon di atasnya.

Menyadari ada orang yang berjalan ke arah mereka, Mahen seketika menoleh.

"Ehhh lo uda bangun?" Mahen mengubah posisinya menjadi duduk. "Duduk sini!" Ucapnya sambil tangan kanannya menepuk-nepuk hammock pertanda meminta Jodie untuk duduk di sampingnya.

Jodie berjalan mendekati Mahen dan duduk berdua di satu hammock. Awalnya ia takut hammocknya tidak kuat menopang beban mereka berdua. Tetapi setelah Mahen menjelaskan bahwa hammock yang ia duduki aman untuk 2 orang, ia akhirnya mau juga. Maka jadilah hingga 1 jam ke depan dua orang duduk berdua di satu buah hammock besar. Mereka mengobrol perihal apa saja. dari rasa makanan semalam, dinginnya suasanan diluar tenda saat malam, hingga merk sepatu gunung yang merek gunakan.

Satu jam berlalu hingga Gilang memanggil semuanya untuk makan siang. Setelah makan siang dan beres-beres tenda selesai, mereka kembali mencari suasana senyaman mungkin. Ada yang memilih beristirahat di tenda, ada yang berjalan-jalan menikmati suasana di sekitar tempat mereka camping, kemudian ada yang kembali tidur-tiduran di hammock.

Siang berganti sore, langit nampak kemerah-merahan pertanda malam akan segera tiba. Setelah puas menikmati keindahan langit, mereka menghabiskan malam bersama-sama di tenda. Malam ini mereka habiskan dengan bercerita tentang kehidupan masing-masing. Besok pagi mereka sudah harus kembali turun. Berjalan kembali menuju ke kehidupan sehari-hari mereka.

Malam berlalu begitu cepat, pagi mengintip dari balik bukit. Setelah mereka selesai sarapan, mereka bersiap-siap untuk turun. Tenda mulai dibongkar, carrier mulai dipacking, peralatan mulai dirapikan.


0 komentar: