Jodie membuka pintu kamar, kemudian berjalan menuju dapur. Langkah kakinya terlihat kaku, terlihat sekali menahan sakit di penjuru kakinya....

Waktu Part 20 : Di Balik Izin Seorang Ibu

April 17, 2018 Kalena Efris 0 Comments

Jodie membuka pintu kamar, kemudian berjalan menuju dapur. Langkah kakinya terlihat kaku, terlihat sekali menahan sakit di penjuru kakinya. Pahanya terasa sakit jika disentuh, betisnya kencang seperti betis pesepakbola. Belum lagi bahu dan punggungnya yang rasanya seperti ingin rontok.

Sudah seharian ini ia tidur. Sejak tiba di rumah dini hari tadi, kemudian menyelesaikan urusan dengan pertanyaan-pertanyaan ibunya yang memastikan bahwa Jodie pulang dalam keadaan sehat dan baik-baik saja, Jodie langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kasur, kemudian tertidur. Ia baru bangun saat sore, itu pun karena perutnya lapar. 

Ibunya yang sedang mengiris-iris sayuran di dapur melihat ke arah Jodie sebentar, melihat Jodie yang berjalan pelan-pelan dan kaku, kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Ibu kira lapar kamu akan kalah sama lelahmu, Nak." Ujar ibunya seraya tersenyum.

"Ya enggak lah, Bu. Kasihan cacing di perut kalo ga Jodie kasih makan." Sahut Jodie. Tangannya membuka kulkas, mengambil minuman dingin, puding, ice cream, dan beberapa buah pear. Semua itu ia tumpuk di tangan kiri. Dengan agak kesusahan ia menutup pintu kulkas, lalu berjalan pelan ke arah meja makan.

"Itu semua ga ada di gunung ya?" Ibunya dari tadi memperhatikan Jodie yang kewalahan mengambil dan membawa isi kulkas ke atas meja makan.

"Ga ada, Bu. Malahan nih yaa, Jodie pengen banget makan bakso, mie ayam, dan sop buah. Tapi namanya di hutan kan ga ada sama sekali, Bu. Ya udah deh Jodie tahan-tahanin. Bahkan untuk makan saja kami mengatur logistik supaya cukup hingga turun." Fikiran Jodie kembali melayang ke saat-saat dimana ia dan team memilih-milih logistik yang akan dimasak saat itu dan logistik mana yang dipisah untuk masak esok hari.

"Jadi anak ibu tahu kan gimana rasanya ingin makan tapi susah atau justru makanannya ga ada?" Tanya ibunya sambil mencuci tangan, kemudian berjalan menuju meja makan, tempat dimana Jodie sedang disibukkan dengan memotong buah pear.

Jodie tidak menyahut. Dalam hati ia menebak-nebak maksud ucapan ibunya.

"Selama ini apapun yang kamu mau selalu ada. Bahkan sering banget makanan ga di habisin dan akhirnya mubazir." Ibu menghentikan pembicaraannya sebentar, menatap Jodie yang duduk di hadapannya.

"Kamu tahu kenapa ibu mengizinkan anak ibu naik gunung?"

Jodie mengangkat kepala, setengah berfikir atas pertanyaan ibunya tersebut. "Karena ada Gilang yang jagain Jodie kan, Bu?"

"Itu sudah pasti. Kalo bukan Gilang yang pamitin kamu, belum tentu ibu mengizinkan. Tetapi bukan itu alasannya."

Jodie mengerutkan kening, tidak tahu arah pembicaraan ibunya. Mulutnya mengunyah buah pear pelan-pelan. Otaknya mencari beberapa kemungkinan. Jodie mengira Gilang adalah alasan ibu mengizinkannya, ternyata bukan itu. Jadi karena apa?

"Karena ibu ingin anak perempuan ibu menjadi perempuan yang mandiri, tidak manja seperti perempuan-perempuan pada umumnya. Naik gunung itu bukan hal mudah. Sebelum naik harus ada pemanasan-pemanasan yang dilakukan. Kemudian saat berada dalam pendakian akan ada emosi yang diatur, kerjasama team, termasuk di dalamnya mengesampingkan keegoisan diri sendiri."

Jodie tertegun pada penjelasan ibunya. Ia ingat pada kebiasaannya yang sering membuang-buang makanan, sedangkan di gunung ia justru harus mengatur-atur makanan. Ia yang biasanya bisa memenuhi begitu banyak keinginan tanpa usaha yang sulit, di gunung ia belajar bahwa ada hal-hal yang harus diperjuangkan.

"Loh, kok anak ibu melamun?"

Jodie terkesiap. Sadar dari lamunannya.

"Kamu mandi sana! Setelah itu kita siap-siap makan malam."

"Iya, Bu." Jodie berdiri lalu dengan susah payah berjalan mengambil handuk, kemudian menuju kamar mandi. Setelah masuk ke kamar mandi, ia menutup pintu dan kembali membenamkan dirinya ke dalam kalimat-kalimat yang ibunya ucapkan barusan. Tujuannya ke gunung sebenarnya hanya ingin menikmati pemandangan pegunungan yang tidak bisa ia nikmati dari wilayah perkotaan. Selain itu ia ingin kenal lebih dekat dengan Mahendra, sosok lelaki yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.

Ucapan ibunya benar. Ia merasa telah menyia-nyiakan banyak hal.

"Naakkk!!! Kok ibu ga dengar suara air? Kamu tidur di kamar mandi ya?" Teriakan ibunya ditambah suara gedoran dibalik pintu sukses membuyarkan lamunannya.

"Jodie udah mau mandi kok, Bu!" Jodie menyahuti ibunya, kemudian langsung mandi, sebelum pintu kamar mandi kembali di gedor oleh ibunya.



0 komentar: