Di sebuah kedai tidak jauh dari jalan utama kota, Seorang wanita dengan rambut dikuncir ke belakang dan seorang laki-laki dengan rambut ku...

Waktu Part 6 : Permintaan

April 03, 2018 Kalena Efris 0 Comments


Di sebuah kedai tidak jauh dari jalan utama kota, Seorang wanita dengan rambut dikuncir ke belakang dan seorang laki-laki dengan rambut kusut sedang duduk berhadapan. Dua gelas minuman masih utuh di atas meja.

“Kenapa gue harus ikut?”

“Gue ga mau jadi kambing congek disana, Lang.”

“Kalo gue ikut, gue donk yang jadi kambing congek. Ogah ah, males gue.” Gilang keberatan dengan permintaan Jodie.

“Lo ga mungkin jadi kambing congek. Lo kan kenal sama Mahen. Gue mau lo bantu deketin gue dan Mahen.” Muka Jodie memelas meminta Gilang berubah fikiran.

Gilang melihat Jodie sambil menggelengkan kepala. Gilang tidak habis fikir Jodie akan meminta hal seperti ini padanya. Jatuh cinta membuat Jodie mengabaikan akal sehatnya, lalu Gilang menjadi korban kegilaan Jodie. Gilang lebih baik memilih Jodie merayu Gilang untuk membelikannya Cheese Burger 2 porsi atau membayar tiket nonton berdua ketimbang harus menemani Jodie bersama Mahendra.

“Ayolah, Lang. Gue pengen tahu lebih banyak tentang Mahen. Dia kan udah ga lagi pedekate dengan gebetannya tuh. Pas banget gue masuk ke kehidupannya dia. Bantu gue yaaaa yaaa yaaaa!!!” Jodie memasang wajah manja ke Gilang. Wajah ada maunya. Padahal baru saja Jodie kesal setengah mati pada Gilang yang datang terlambat. Sekarang Jodie seakan lupa dengan kekesalannya barusan.

Gilang cuek bebek. Jodie menghela nafas, bingung harus bagaimana lagi untuk bisa merayu Gilang.

“Kenapa sih lo ga mau banget nemenin gue? Biasanya juga mau-mau aja kalo gue ajak jalan. Jangan bilang lo cemburu.”

Gilang menghentikan minumnya. Hampir saja ia tersedak.

“Jangan-jangan lo suka sama gue ya? Ngaku ga lo?” Jodie menatap Gilang penuh selidik.

“Suka sama lo? Yang ada gue tekor kalo suka sama lo. Makan lo aja banyak banget. Belum lagi mesti dengerin kebawelan lo setiap hari. Dih amit-amit.” Gilang mengucapkan amit-amit itu seraya ketuk-ketuk meja. Gilang tidak peduli tatapan Jodie.

“Terus kenapa lo ga mau nemenin gue?” Jodie memicingkan matanya tajam. Seolah pisau yang terhunus tajam, ujung mata pisau tertuju kepada Gilang.

Gilang merasa ini adalah pertanyaan jebakan. Gilang selalu saja kalah jika berdebat dengan Jodie. Bukan karena ilmu atau sudut pandang Gilang yang kurang luas, tapi karena Gilang malas bertengkar dengan Jodie.

“Males aja gue. Entar kalo naik gunung bareng gue, gue lagi yang bawa carrier lo. Gue lagi yang ngurusin lo.”

“Enggak lagi kok, beneran deh.” Jodie mengangkat jari manis dan jari telunjuknya membuat bentuk peace.

“Entar lo gue beliin cemilan, madu, cokelat, pokoknya semua logistik lo bakal gue beliin.” Jodie mengeluarkan sisa-sisa rayuannya.

Gilang tidak menyahut. Gilang hanya diam saja.

“Ayolah. Kalo bukan sama lo, gue mesti minta tolong ke siapa lagi, Lang?” Kali ini suara Jodie mengecil.

Lama-lama Gilang luluh juga. Apalagi melihat Jodie yang sudah seperti kebelet pipis, mau tidak mau harus Gilang iyain, daripada berminggu-minggu melihat wajah masam Jodie.

Gilang mengangguk.

“Yesss!!! Gitu donk.” Jodie berteriak kegirangan, membuat orang-orang di kursi seberang yang sebelumnya melirik-lirik saat Jodie dan Gilang bertengkar, melihat kebahagiaan Jodie.

“Udah kan ya? Pokoknya makanan gue lo yang urus. Gue ga mau kelaparan di gunung.” Ujar Gilang, membuat Jodie menghentikan teriakan girang Jodie.

“Siapppppp, komandan!!” Jodie sedang senang sekali. Jangankan permintaan tersebut. Jika Gilang meminta dipijit atau di traktir pun Jodie akan mau melakukannya.

“Berarti lo pamitin gue ke Ibu gue yaa, Lang!!” Ujar Jodie seraya menyeruput minumannya.

“Loh. Kok harus gue lagi yang mamitin ke ibu lo?”

“Yaaa biar diizinin ke gunung lah.”

Ada-ada saja hal yang membuat Gilang gemas sama ulah Jodie. . Sudah minta tolong, ehh masih saja membuat repot dirinya. Rasanya ingin sekali Gilang teriak memarah-marahi Jodie. Tetapi karena Gilang menyayangi Jodie, hal itu tidak dilakukan.

Selanjutnya obrolan beralih ke hal lain. Jodie menanyakan perihal Iqbaal yang baru masuk SMA. Sudah lumayan lama Jodie tidak melihat adik satu-satunya Gilang itu. Kemudian obrolan beralih ke organisasi yang sedang di geluti Gilang.

“Balik yuk.” Ujar Jodie.

Hujan diluar sudah reda. Kursi-kursi di bawah pohon seberang jalan juga sudah diisi oleh beberapa anak-anak nongkrong. Lampu kuning dan putih bergantungan dari satu pohon ke pohon lainnya membuat seberang jalan semakin cantik.

Rasanya Gilang dan Jodie ingin sekali menghabiskan sisa waktu disana. Tetapi Jodie ada kesibukan yang harus di selesaikan membuat mereka memilih untuk menunda hingga beberapa hari ke depan.

0 komentar: