Bunda sedang menonton bersama Ayah di ruang tengah saat Gilang membuka pagar depan. “Assalamu’alaikum Bun, Yah.” Gilang membuka pintu ...

Waktu Part 7 : Pigura

April 04, 2018 Kalena Efris 0 Comments


Bunda sedang menonton bersama Ayah di ruang tengah saat Gilang membuka pagar depan.

“Assalamu’alaikum Bun, Yah.” Gilang membuka pintu kemudian langsung mengambil posisi duduk di sofa sebelah kanan. Gilang tidak menanyakan Iqbaal karena malam begini Iqbaal sudah tidur di kamar.

“Walaikumsalam. Habis main dari mana, Bang?” Tanya Bunda.

“Habis janjian ketemu Jodie, Bun.” Gilang mengambil remote tv kemudian memindah-mindahkan channel tv.

“Ayah lagi nonton lomba ini. Kamu datang masa mau mindah-mindahin tv.” Ayah mengambil remote tv dari tangan Gilang. Awalnya Gilang dan Ayah saling tarik-menarik remote, tetapi akhirnya remote sukses dalam kekuasaan tangan Ayah, dan dalam sekejap saja Ayah langsung mengembalikannya ke tayangan semula.

“Gilang Cuma lihat-lihat tayangan lain, Yah. Gilang ga mindahin tv.”

Ayah tertawa demi mendengar jawaban Gilang. “Iya maksud Ayah juga gitu.”

“Tapi kan pindahin tv dan pindah-pindah channel beda, Yah…”

“Sudah-sudah kamu bisa saja cari jawaban.” Ujar Ayah sambil menepuk-nepuk sofa. Ayahnya mau tertawa mendengar jawaban polos Gilang. Tentu saja Gilang tidak benar-benar polos. Gilang hanya bercanda.

Bunda tersenyum melihat ayah dan anak rebut-rebutan remote. “Mending sekarang Abang mandi, terus makan. Tadi Bunda sudah pisahin makan malam buat anak sulung bunda. Pasti anak sulung bunda kelaparan.”

“Iyaaaaa, Bunda sayang.” Gilang berdiri dari sofa dengan gaya setengah jumping seolah sofa memiliki pegas. Ayah Gilang sempat terkejut melihat kelakuan Gilang yang sangat tiba-tiba. Bunda hanya tertawa melihatnya, sedangkan Ayah justru gemas melempar bantal ke arah Gilang, tetapi bantal hanya menyentuh angin sebelum kemudian bantalnya jatuh ke lantai.

Gilang berjalan santai ke arah kamar untuk mengambil handuk.

“Gimana kabar Jodie, Bang?” Bunda bertanya setengah berteriak.

Kepala Gilang nongol dari balik pintu kamar lalu menjawab “Makin cantik, Bun!”


***


Gilang mengenakan celana boxer hitam dan atasan kaos oblong putih. Tubuhnya sudah merasa segar sekarang. Saat Gilang menuju cermin hendak menyisir rambut setengah gondrongnya, langkahnya terhenti melihat figura yang ia letakkan diatas meja belajar. Sebenarnya ada beberapa pigura di kamar Gilang, tetapi mata Gilang justru tertuju ke pigura itu.

Gilang lupa menyisir rambutnya, tangannya menggapai pigura dan tidak menunggu lama pigura tersebut sudah berada di genggaman Gilang. Gilang menatap pigura tersebut lekat-lekat, kemudian Gilang tersenyum sendiri.

Gilang masuk ke Lorong waktu dimana dia bersama Jodie kecil bermain layangan di lapangan dekat rumah.

“Ulur Jod. Iyaa ulur terus!” Jodie mengikuti arahan Gilang. Layangan berputar-putar tajam di udara.

“Ulur sampe layangan ga berputar-putar lagi, Jod.” Jodie mengangguk. Jodie terus mengulur tali layangan, sedangkan Gilang memegang kaleng bekas susu yang dipenuhi gulungan tali gelasan. Tali gelasan adalah tali yang biasa digunakan untuk bermain layangan. Tali gelasan bertekstur lebih tajam dibanding tali pancing.

Gilang juga mengikuti geraka tangan Jodie. Saat Jodie megulur talinya, maka Gilang akan mengulur tali dari kaleng. Jika Jodie menarik tali layangan, maka Gilang akan menggulung tali gelasan yang bertumpuk-tumpuk di tanah sebelum tali tersebut menjadi kusut.

Layangan di udara sudah berhenti berputar.

“Sekarang kamu bikin kepala layangan berada di atas, Jod. Jika kepala layangan sudah di atas, kamu langsung tarik talinya!”

Jodie terus mengikuti petunjuk dari Gilang. Saat Jodie menarik tali layangan, kepala layangan akan menukik ke depan.

“Yeaayyyyyy, Lang. Lihat Lang!!!” Jodie histeris. Ia kegirangan.

“Yess. Pokoknya gitu terus Jod. Kalo udah bisa, besok kita duel sama layangan mereka.” Ujar Gilang sambil menunjuk orang-orang yang bermain layangan sekitar 10 meter dari mereka.

Gilang tersenyum-senyum sendiri.

Drrrrrrttt.
Drrrrrrttt.

Handphone Nokia Gilang bergetar. Lamuyan Gilang buyar. Gilang tidak lagi berada di tengah lapangan bersama Jodie. Gilang sudah kembali ke kamarnya, dengan rambut berantakannya.

Gilang mengambil handphone. Message dari Jodie.

Jodie : “Gilang yang gantengnya ori, besok jangan lupa ke rumah gue yaaa!”
Gilang : “Gue ganteng emang dari lahir keleus. Besok ngapain ya? Lupa gue.”
Jodie : “Ya iyalah dari lahir. Emang bisa gitu hidung lo mancungnya dicicil? Hahaha.”
Jodie : “Ehh pura-pura lupa lagi. Izinin gue ke ibu Laaaanggg!”

10 menit kemudian.

Jodie : “Laaanggg. Lo udah tidur ya?”
Gilang : “Iyaaa Jodieku yang bawelnya kebangetan. Besok gue ke tempat lo. Siapin makanan yang enak. Gue ga mau tau. Pokoknya harus enak.”
Jodie : “Kirain udah tidur. Siappp Gilangku yang baiknya kebangetan.”
Jodie : “Good night, Lang.”
Gilang : “Good night, Jod.”

Gilang meletakkan handphonenya. Matanya kembali terfokus ke pigura. Ia kembali menatap fotonya dan Jodie. Kali ini tatapannya kosong. Di dalam pigura nampak Jodie dan Gilang masih menggunakan seragam sekolah. Jodie menggunakan topi baseball berwarna putih, kedua tangannya memperlihatkan layangan berwarna merah dengan 3 buah ekor berwarna kuning dan merah.

Sedangkan Gilang dengan rambut pendek di atas telinga berada di samping Jodie. Tangan kanannya memegang kaleng yang dipenuhi gulungan tali layangan, kemudian tangan kirinya memegang dan sedikit menekan kepala Jodie. Di dalam foto tersebut Jodie sedang tertawa hingga memperlihatkan giginya yang rapi, sedangkan Gilang terlihat tersenyum menatap kamera.

“Loh kok abang belum makan?”

Gilang terkejut. Kembali sadar dari lamunannya. Ia melihat ibunya berdiri di depan pintu dengan nampan berisi 2 gelas bekas ngeteh Ayah dan Bunda.

“Ehh, iya Bun. Gilang lupa.”

Gilang berdiri lalu meletakkan kembali pigura di tempat sebelumnya. Setelah menyisir rambut sebentar, Gilang langsung berjalan menuju dapur.

0 komentar: