Selasa, 31 Juli 2018

Curug Cikuluwung, Pesona Air Terjun Bogor dengan Bebatuan Eksotis

Curug Cikuluwung emang lagi famous sih belakangan ini. Di explore instagram, postingan teman, hingga beberapa akun komunitas traveling silih berganti memposting keeksotisan yang membuat aku jadi makin penasaran sama curug ini.

Rejeki bertepuk dua tangan. Ulut ngejapri ngajakin odt-an (one day trip) ke Curug Cikuluwung. Kondisinya itu udah kayak orang yang lagi ngiler pengen es tong-tong, ehh di depan kontrakan ada suara gong tong-tong gituu. (Disini ada yang tau es tong-tong ga ya? Kayaknya aku salah kasih perumpamaan deh. HeuHeuHeu)

Aku yang nyatanya ngangenin gampangan ini langsung aja mengiyakan ajakan tersebut. Ga pake waktu lama, aku langsung terhempas ke grup yang isinya orang-orang yang mau ke Curug Cikuluwung.

Oemji ternyata yang mau ikut banyak juga wkwk. Yaaa walau dipikir-pikir emang wajar juga sih, lah wong sharecostnya aja cuma Rp.80.000 udah termasuk sewa angkot dari Stasiun Bogor ke lokasi PP, tiket masuk 2 curug, dan biaya parkir. Wagelaseh itu murah banget yee kan?


***

Jam 08.10 WIB aku udah di Stasiun Bogor, bertemu teman-teman yang lain, berkenalan dengan beberapa orang karena ada sebagian yang belum kenal, kemudian sarapan bareng sambil nunggu personil yang masih di kereta.

Aku sebenarnya lagi off naik gunung, off ngetrip, off olahraga, jadii ngerasa kalo fisik lagi bener-bener ga bagus. Naik tangga JPO ke kantor aja engapnya naudzubillah. Aku ngebayangin kalo Curug Cikuluwung itu berada di hutan entah barantah yang kudu trekking, sedangkan kondisi fisik lagi letoy se letoy-letoynya. Alhasil aku bawa trekking pole lipat, terus aku masukin ke daypack yang aku pake.

"Hah, serius kamu bawa trekpol?"
"Lah iyaaa, takut ga kuat aja."
"Ihh, orang curugnya ga jauh kok!"

Karena aku tetap mau ambil aman, apalagi ga ada dia yang bisa nyemangatin aku saat lagi capek, aku mutusin untuk tetap bawa trekpol.

Itin yang sudah dirilis berubah jadwal. Dari rencana awal jalan jam 8 pagi, akhirnya kami jalan jam 9 pagi karena ada teman yang jalannya dari planet lain, kudu melintasi Jakarta dulu, baru memasuki kota hujan ini.

Ohh iya, di perjalanan ini kami menggunakan angkotnya Ulut. Sebelumnya memang sudah biasa menyewa angkotnya doi sih, seperti perjalananku saat camping di Suaka Elang Loji beberapa waktu lalu.

Alasan menggunakan angkot Ulut selain karena menggunakan angkot cenderung lebih murah, juga karena Ulut mengetahui berbagai lokasi wisata hingga ke pojok-pojok Bogor. Buktinya saja aku bisa explore Cikuluwung hanya dengan sharecost 80ribu. Gilaaa anak kost mah tau banget yang mana trip hemat kantong. HeuHeuHeu lagi.


***

Dua angkot beriringan melaju meninggalkan Stasiun Bogor menuju Kampung Suka Asih, Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Bogor. Curug Cikuluwung ini berada tidak jauh dari rumah-rumah warga. Setelah angkot yang kami tumpangi tiba di parkiran, kami turun dan berjalan kaki melewati rumah-rumah warga hingga akhirnya kami melihat gerbang selamat datang di Curug Cikuluwung 1.

Walaupun melewati gang-gang rumah warga, tetapi petunjuknya jelas, warganya juga ramah-ramah. Jalur yang berupa jalanan datar membuat trekpolku ga berfungsi disini. Bahkan hingga pulang, trekpol justru enggak aku gunain sama sekali. Kok yaa aku jadi nyesel bawanya, ngeberat-beratin tas aja wkwk.

Kami tiba di gerbang selamat datang saat waktu sudah hampir mendekati Dzuhur. Yaudah akhirnya kami memutuskan untuk ishoma terlebih dahulu. Di sekitar loket curug terdapat gazebo-gazebo untuk beristirahat, juga warung dengan berbagai pilihan makanan.

Karena makan tidak termasuk dalam sharecost, aku dan Wiwit memutuskan untuk membeli makan siang disini. Awalnya aku mikir harganya akan mahal. Secaraaa... ini daerah wisata yang lagi famous gituu kannn. Ehh ternyata enggak cuy. Harganya masih sesuai dompet.

Setelah selesai ishoma, kami mulai meniti menuruni anak tangga menuju Curug Cikuluwung 1. Biaya tiket yaitu Rp.10.000/orang, ini sudah termasuk sharecost. Sebenarnya dari gerbang pembelian tiket menuju curug tidak jauh, hanya turun tangga saja. Karena tangganya tinggi dan lumayan licin, jadi kami memang harus berhati-hati. Untungnya ada pengelola curug yang berjaga-jaga, memastikan kami ga terpeleset atau terjatuh.

"Curugnya bagusss." Itu penilaianku saat pertama memijakkan kaki ke bebatuan curug. Bebatuan besar nan eksotis semakin mempercantik keindahan curug. Air terjun dengan tinggi sekitar 10 meter jatuh ke kolam alami yang biasa warga sekitar sebut leuwi, airnya yang jernih bener-bener nyegerin mata.

Pesona Curug Cikuluwung 1
Sumber foto : akun ig @dede_ulut

Kemudian bebatuan tinggi seolah membelah serupa cekungan, dan kamiii berada di antara dua bebatuan besar yang cantik. Bebatuan tersebut bersusun dari pangkal air terjun memanjang hingga berpuluh-puluh meter ke belakang menjadi pelengkap kecantikan Curug Cikuluwung 1.

Sayangnya (dikit-dikit pake sayang eaaa), leuwi yang berada persis di bawah air terjun ini tidak boleh digunakan untuk berenang karena cerita masyarakat yang beredar. Cerita ini aku tahu dari Pak Musa, warga yang juga menjadi pengurus curug. Di saat makan siang di warung tadi, aku berkenalan dengan beliau, kemudian sempat mengobrol dan mencari tahu berbagai informasi tentang curug ini.

"Disini pernah ada warga yang bernama Pak Idas. Ia ingin masuk ke gua yang berada di balik curug. Saat akan masuk ke dalam gua, Pak Idas justru terjatuh ke leuwi di bawahnya, kemudian meninggal dunia. Hal ini juga yang menjadi alasan beberapa orang menyebut curug ini dengan nama Curug Idas."

Selain karena alasan bahwa kolam air tersebut dalam dan memiliki pusaran air yang berbahaya, kejadian itu juga menjadi salah satu alasan supaya pengunjung tidak berenang di leuwi yang berada persis di bawah air terjun.

Untung saja leuwinya ga cuma satu. Air terjun mengalir ke sela-sela batu, kemudian berkumpul di leuwi selanjutnya. Nah di leuwi selanjutnya ini pengunjung boleh mandi tanpa khawatir, karena ada pengelola curug yang mengawasi dan siap sedia membantu para pengunjung.

Di leuwi ini kita bisa berenang tanpa khawatir,
karena tetap dalam pengawasan pengelola curug.
Sumber foto : akun ig @tommy_pramuditya


***

Sayang sekali kami tiba saat sudah siang, dimana pengunjung sudah banyak berdatangan. Mungkin lain kali kami akan kesini lebih pagi, supaya bisa leluasa berfoto tanpa ada cendol di background. Apalagi aku yang ga terlalu pede foto, tambah merasa kesulitan mencari gaya berfoto di tengah kepadatan pengunjung.

Setelah puas foto dan menikmati keindahan Curug Cikuluwung 1, team memutuskan untuk naik dan beralih ke curug satunya. Tempat pembelian tiket masuk Curug Cikuluwung 2 berada sekitar 20 meter sebelah kiri dari Gerbang Curug Cikuluwung 1. Harga tiket masuknya juga Rp.10.000/orang, dan ini juga sudah termasuk ke dalam sharecost.

Pesona Curug Cikuluwung 2
Sumber foto : akun ig @dede_ulut

Disini aku dan Wiwit memutuskan tidak ikut ke Curug Cikuluwung 2. Tadi saat makan siang, selain menceritakan tentang curug, Pak Musa juga menceritakan tentang banyak hal terkait Cikuluwung. Kami yang terlanjur penasaran dengan arti kata "Cikuluwung" ini akhirnya mencari tahu.

Saat team sedang trekking menuju Curug Cikuluwung 2, aku dan Wiwit menuju bendungan yang menjadi hulu dari sumber air terjun yang tadi kami gunakan untuk mandi atau sekedar main air. Bendungan tersebut tidak jauh dari tempat kami memarkirkan angkot. Jalurnya juga sudah berupa tangga semen, dan terlihat jelas.

Menyusuri anak tangga hingga ke bawah, kami tiba di tanah milik PLN, Sub unit PLTA Kracak. Disana aliran sungai dibendung lalu dibagi menjadi 2 aliran. Aliran pertama mengarah ke Curug Cikuluwung 1 dan 2 yang kami kunjungi. Wajar saja debit air curug tidak terlalu besar, ternyata itu karena adanya bendungan di hulu curug.

Aliran kedua mengarah ke sisi lain curug, melalui aliran air buatan, atau yang biasa warga sebut kuluwung. Panjang kuluwung dari bendungan yang kami lihat hingga ujung kuluwung di hilir sana sekitar 300 meter.

Kuluwung berada pada kedalaman 30 meter di bawah tanah, dengan diameter sekitar 2,5 meter. Kuluwung berakhir di basengkom atau penampungan di hilir. Sayang sekali kami tidak sempat melihat basengkom yang dimaksud.

"Ci dalam bahasa Sunda berarti air, sedangkan Kuluwung merupakan saluran air besar yang dibuat pada zaman penjajahan. Yang membuat tentunya adalah warga pribumi atas perintah penjajah." Itu kesimpulan dari obrolanku dengan Pak Musa.


***

Karena khawatir kelamaan, aku dan Wiwit memutuskan kembali ke parkiran. Ternyata teman-teman belum ada yang nongol.

"Mereka masih ada di curug bawah, Mbak." Kata pengunjung lain saat aku menanyakan keberadaan team kami. Curug bawah yang dimaksud adalah Curug Cikuluwung 2, bagian hilir Curug Cikuluwung 1.

Karena mereka masih di bawah, aku dan Wiwit akhirnya menghabiskan waktu mengobrol bersama Pak Musa di teras rumah yang tidak jauh dari parkiran.

"Tadi di perjalanan turun ke curug (Cikuluwung 1), mbak lihat ada toilet ga?" Tanya Pak Musa

Aku dan Wiwit mengingat-ingat, sebelum akhirnya ngeh "Iya ingat Pak. Yang di sebelah kiri sebelum turun tangga."

Beliau mengangguk mengiyakan. "Dulu, tempat yang sekarang dijadikan toilet di tangga curug adalah jembatan menuju seberang curug."

"Ohh berarti di seberang curug itu ada perkampungan, Pak?" Aku penasaran, karena tadi aku tidak melihat tanda-tanda kehidupan di seberang curug. Yang aku lihat hanyalah kerapatan hutan.

"Di seberang curug sana adalah perkampungan, juga sekolah. Saat itu warga sini yang sekolah di seberang melewati jembatan untuk menuju sekolah."

"Sekitar 70 tahun yang lalu, persis tanggal 17 Agustus, serombongan anak sekolah yang akan mengadakan upacara 17-an melintasi jembatan tersebut jatuh ke bawah. Dari semua korban yang jatuh, hanya 3 orang yang selamat, selebihnya meninggal dunia. Salah satu korban yang selamat adalah bibi saya." Ucap Pak Musa melanjutkan ceritanya.


***

Menjelang jam 4 sore, team kami sedikit demi sedikit sudah berkumpul di angkot yang kami gunakan. Aku dan Wiwit yang menyadari kedatangan teman-teman kami pun akhirnya pamit ke Pak Musa untuk kembali bergabung bersama team, dan bersiap-siap pulang.


Sumber foto : dokumen pribadi



63 komentar:

  1. Pemandangan curugnya eksotis banget. Batu batunya dan airnya yang hijau menyegarkan dan yang penting dekat dari Jakarta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa, dekat dari Jakarta. Itu yang penting kak 😂

      Hapus
  2. Aseli, bikin mata berbinar2 disuguhi foto2 curug cikuluwung 1 dan 2. Dalam 1trip lagi... Batu2annya indah ya. Bogor seperti ndak habis2nya ' ditemukan' curug2 lagi yang keren ya Kak... Btw tks ya untuk informasi semenarik ini

    BalasHapus
  3. Aseli, bikin mata berbinar2 disuguhi foto2 curug cikuluwung 1 dan 2. Dalam 1trip lagi... Batu2annya indah ya. Bogor seperti ndak habis2nya ' ditemukan' curug2 lagi yang keren ya Kak... Btw tks ya untuk informasi semenarik ini

    BalasHapus
  4. Oh ini toh curug yang katanya lagi hits di instagram. Pengen sik ke sana suatu saat nanti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuss, Mas. Mumpung tiket masuknya belum naik 😂

      Hapus
  5. Cerita pak musa lebih seru..
    Kalo dikorek lebih dalam bisa jadi side story yg menarik.. 👍🏼

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pak Musa cerita banyak, cuma emang beberapa yang aku filter Den, karena aku merasa lebih baik kalo ga dipublikasikan

      Hapus
  6. Airnya jernih sekali memancing pengunjung untuk segera nyebur,,, kok saya gagal fokus ya sama selendang yang panjangnya ngalahin selendang superman

    BalasHapus
  7. Curug Cikuluwung kelihatannya masih asri sekali. Cocok untuk refreshing lari sejenak dari kenyataan. Seger gitu lihat ijo-ijo sama derasnya air terjun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa curugnya emang asri dan nyegerin mata :)

      Hapus
  8. Dari foto2nya, bagus deh kayaknya si Curug Cikuluwungnya. Heheehe. Bikin adem mata, pikiran, hati, sama perasaan ya Kak heheehe

    BalasHapus
  9. Lagi hits ya curug ini, semoga semakin banyak pengunjung kebersihanya tetap terjaga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa lagi hits banget emangg wkwk. Aamiin bangday, mudah2an tetap terjaga.

      Hapus
  10. Seru banget cerita Curug Cikaluwungnya Kak Kal. Cerita Pak Musa tentang seluk beluk curug bikin pemandangan yang udah keren jadi makin menarik yah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa kak. Aku juga seneng banget bisa tau seluk beluk Cikuluwung 😁

      Hapus
  11. Kalenaaa..curugnya keren bangeeet... aku mau dong dikabarin info odt ke curug ini kalau ada lagi. Please...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siaappp Bang Ocit. Curugnya emang keren sih. Cuma emang sekarang rame pengunjung. Kalo kesana mesti dari pagi banget kalo ga mau fotonya banyak cendol 😂

      Hapus
  12. Foto-fotonya bagus sekali. Saya jadi tergoda untuk mengunjungi curug ini.

    BalasHapus
  13. Bagus euy curugnya. Ini lokasinya arah ke salak endah bukan sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku kurang tau kak arha ke salak endah atau bukan, karena aku kurang tau wilayah Bogor. Tapi lokasinya di Kampung Suka Asih, Desa Cibitung Wetan, Kecamatan Pamijahan, Bogor

      Hapus
  14. Warna airnya bikin pingin ke sana. Di grup WA yang ada Ulut-nya, beberapa kali dia ngeshare trip Curug termasuk Cikuluwung ini.
    BTW, keren juga pengelolanya, selalu mengawasi kegiatan para wisatawan supaya aman. Salut...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa Mas, pengelolanya sigap banget. Malah ada kacamata pengunjung yang jatuh ke leuwi, ehh pengelolanya bantu nyariin. Teruss pas kami mau jalan ke leuwi yang arah air terjun, kami dibantuin karena bebatuannya agak licin.

      Hapus
  15. di Bogor banyak curug yang bagus-bagus ya Kak. Salah satunya Curug Cikuluwung 2 ini.. airnya itu lho, bikin betah..

    BalasHapus
  16. Wah Kal, malah nemuin hal yang jauh lebih menarik daripada keindahan curug yang lagi hits ini ya. Seru sepertinya ngobrol dengan Pak Musa.
    Btw, foto-fotonya bikin ngiler. Bagus banget curugnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa Lis. Asyik banget ngobrol sama Pak Musa. Orangnya juga baik dan terbuka gituu

      Hapus
  17. Udah ratusan purnama, aku ga pernah ke curug. Tetapi pemandangan Curug cikuluwung ini menggoda sekali ya, akses kesananya juga mudah, seru nih.

    BalasHapus
  18. Ini keren bgt pemandangannya. AAAAAAA jd pengen liburan deh!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuy, Kak. Tempatnya baguss kok, airnya juga jernih

      Hapus
  19. Lah aku kira Curug Pangeran ini mah hahahaha. Kok aku enggak diajak ya, Kal?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaa aku ajaa di ajakin orang, Laaa 😂😂

      Hapus
  20. air di Curug Cikuluwunnya keliatnnya suegerr bangett... bakalan betah maen air itu klo tengah hari pas panas-panas

    BalasHapus
  21. Jadi inget explore ig gue mengenai curug cikuluwung. Benar-benar lagi hitz banget ya emang, sampe-sampe kayak sekumpulan cendol di dalam kendi. Beruntung banget itu foto-fotonya dapet suasana sepi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas aku kesana jugaa rame Ramaaa. Kesana itu emang mesti dari pagi bangett biar dapat background yang bersih dari cendol 😂😂

      Hapus
  22. Pas banget. Gw lg nyri info ini. Kemarin mw kesana gagal.
    Eh itu airnya warnanya ijo toska gitu ya? Efect poto apa aseli

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pas aku kesana, airnya emang jernih bangettt. Aku ga tau yaa Bang musim penghujan tetap jernih atau enggak, karena aku datang pas musim kemarau, bulan Juli.

      Hapus
  23. Ya ampun, bagus banget ya. Dindingnya, warna airnya. Duuh,jadi pengen renang di situ.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa emang bagusss kak. Aku aja masih pengen kesana lagi kapan-kapan 😂

      Hapus
  24. aku jadi merasa kurang keren, mengingat belum pernah ke sini. Padahal lumayan hobby nyurug di bogor

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tetep kerenan kamu Tiii. Karena aku jarang nyurug. Ini aja aku nyurug karena diajak dan kebetulan tempatnya aku sukaa 😂

      Hapus
  25. Wah bisa banget ntar kubbu goes to curug nih.. hahah . Airnya gak nahanin euy pengen nyebur.. trus odtnya murah banget cuma 80 rebu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisaaa banget kalo kubbu mau kesanaa Len. Iyaaa odtnya murah bangett aseliii wkwk.

      Hapus
  26. Kereeen yaa tempatnya, ga sangka ada curug eksotis seperti ini yang tak jauh dari Jakarta. Mauu doong ke sanaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa kak. Ga jauh dari Jakarta, itu yg penting kak 😂. Kuy kesana kak, mumpung masih musim kemarau, debit airnya kecil dan airnya jernih

      Hapus
  27. sebelumnya sempet baca juga, tapi emang bener sesepi itukah tempatnyaaa? kok instgaramable banget kalau sepi gitu, khawatir pas kesana kaya pasar ramenyaa..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang ramee Mas. Pas aku kesana jugaa lumayan rame. Kalo mau kesana mesti dari pagii banget, biar backgroundnya ga banyak cendol

      Hapus
  28. Keren foto2nya curug cikuluwung. Kesananya ODT bareng BPJ? Kok murah ya. Jadi ingin kesana. Dekat lagi dari Jakarta

    BalasHapus
    Balasan
    1. ODTnya sama anak-anak Bekpeker Curug, Mas. Kuy, Mas. Saran usahain udah ada disana sejak pagi, Mas. Karena kalo siang pengunjung udah rame dan agak susah cari spot foto

      Hapus
  29. Ka ini serius ada yang begini di bogor? aku pernah liat yang mirip seperti ini di lombok, tapi gak pernah tau ternyata di bogor juga ada yang cantik begini. Seneng deh jadi gak perlu lagi jauh-jauh ke lombok

    BalasHapus
  30. Curugnya keren, Kal. Tapi cerita tentang Curug itu juga lebih menarik, Kal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa cerita Pak Musa emang menarik, Tin.

      Hapus
  31. Aku jadi pengen kesini. ini trekkingnya berapa lama ya bebs?
    tapi kalo pengen di hari weekday biar ga rame aku harus berdoa lebih niat kayaknya. hahah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo ke Curug Cikuluwung 1 deket banget beb. Dari pintu gerbang cuma turun tangga doank, paling 10 menitan.

      Kalo ke Curug Cikuluwung 2 lumayan lama, infonya sekitar 20-30 menit.

      Kuy kesana beb, entar harga tiketnya keburu naik wkwk

      Hapus
  32. Curugnya cakep. Pengen kesini tapi belum dapat ajakan nih. Cerita di balik curug ini serem juga ya. Tapi seru bacanya

    BalasHapus
  33. Wahh recommended banget nih..
    Di bogor lagi deket. Pengen banget bisa ke curug ..

    Nunggu liburan sembari ngumpulin duit dule deh.. Hehe

    BalasHapus

Follow Kal di @kalenaefris