Kamis, 25 November 2021

Wajah Baru TIM, Surganya Para Seniman

Lama gak ke Taman Ismail Marzuki (TIM), pangling banget pas beberapa hari yang lalu ke TIM lagi. Sebelum pandemi, biasanya teman-teman komunitas secara rutin berlatih teater disini. Setelah itu dilanjutkan dengan kulineran di depan TIM sampai malam. Di depan TIM memang banyak lapak kaki lima dengan jajanan-jajanan enak dengan harga terjangkau.


TIM merupakan salah satu pusat kesenian terbesar dan tertua di Jakarta bahkan di Indonesia. Tak terhitung banyaknya karya besar dan seniman ternama yang lahir disana, begitu pula dengan komunitas unggul yang bernafaskan kesenian.



Sejak berdiri, TIM memberikan ruang bagi seniman untuk menyalurkan kreatifitasnya, sehingga menghasilkan karya fenomenal dan berkualitas. Nama TIM sendiri dibuat sebagai penghargaan untuk seorang komponis pejuang Indonesia, Ismail Marzuki karena jasanya bagi khazanah musik Indonesia.


Selain diabadikan sebagai nama pusat kesenian yang terletak di Jalan Cikini Raya 73 ini, Ismail Marzuki juga dianugerahi gelar pahlawan nasional yang secara resmi di umumkan pada tanggal 10 November 2004.

Beberapa hari yang lalu, aku dan beberapa rekan blogger berkesempatan untuk kembali ke TIM dan melihat wajah baru TIM yang sedang direnovasi dan direvitalisasi. Saat kami berkunjung, PT Jakarta Propertindo (Perseroda) selaku pengelola TIM mengenalkan TIM sebagai The New Creative Hub & Art Center dan The New Urban Tourism Destination. Kali ini kami diajak mengelilingi TIM dan melihat secara langsung progres renovasi disini.


Teater Besar dan Teater Kecil

Saat pertama tiba, kami langsung diajak masuk ke ruang Teater Besar dan Teater Kecil. Dari semua tempat yang kami kunjungi, teater ini terlihat tidak ada perubahan, ini karena bangunannya yang masih baru dan dalam kondisi baik.


Teater Besar memiliki daya tampung sekitar 1.200 orang dengan luas panggung 14m x 16m x 9m.  Teater besar ditujukan untuk pertunjukan profesional skala besar yang memang membutuhkan ruang ekspresi yang lebih besar. Biaya retribusi gedung yaitu 30juta yang dikenakan untuk sehari pemakaian.



Sedangkan Teater Kecil memiliki daya tampung lebih sedikit sekitar 250 orang dengan luas panggung 10m x 5m x 6m. Teater kecil ditujukan untuk pertunjukan seni eksperimental atau karya seniman muda seperti musik indie, konser musik kamar, uji coba konsep pertunjukan mahasiswa, karya seni komunitas kampus atau sanggar, pertunjukan tahunan sekolah tari atau kursus seni pertunjukan lainnya seperti seni peran dll, yang belum memungkinkan dipentaskan di gedung berkapasitas lebih besar.


Untuk biaya retribusi gedung teater kecil terbilang sangat terjangkau, yaitu hanya 3juta untuk sehari pemakaian. Untuk melakukan pentas di teater TIM, seniman bisa mengajukan proposal yang nantinya akan dikurasi untuk menentukan boleh atau tidaknya melakukan pentas di teater TIM.


Masjid Amir Hamzah

Setelah mengunjungi Teater Besar dan Teater Kecil, kami berpindah ke masjid Amir Hamzah yang sudah direvitalisasi. Revitalisasi untuk wajah baru TIM dibagi menjadi 3 fase. Fase pertama, yaitu pembangunan Masjid Amir Hamzah yang sekarang sudah selesai dan sudah bisa digunakan oleh pengunjung TIM.

Masjid yang namanya terinspirasi dari sastrawan Indonesia ini dibangun kembali dengan konsep futuristik, clean dan modern. Masjid ini memiliki daya tampung sebanyak 250 jemaah dengan luas masjid beserta plaza salat mencapai 800 meter persegi.


Memasuki fase kedua, pembangunan dilanjutkan dengan perbaikan Planetarium dan Pusat Latihan Seni, pembangunan Gedung Bhakti Budaya (GBB), Gedung Annex, dan Teater Halaman.



Gedung Panjang

Setelah ke Masjid Amir Hamzah, kami pindah ke Gedung Panjang. Gedung Panjang punya daya tarik tersendiri karena dibangun dengan desain yang unik. Desain Gedung Panjang diketahui merupakan bentuk penggambaran not balok lagu ciptaan Ismail Marzuki yang berjudul "Rayuan Pulau Kelapa" pada fasadnya.


Bangunan yang terlihat memanjang di lahan yang dulu jadi pusat kuliner TIM ini terdiri dari 14 lantai yang memiliki berbagai fasilitas.


Lantai 1-3 akan digunakan sebagai ruang publik mulai dari ritel galeri seni hingga co-working space.
Lantai 4-7 merupakan Perpustakaan Daerah dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.
Lantai 8 merupakan lobby dan ada fasilitas kolam renang.
Lantai 9-12 merupakan wisma seni yang akan digunakan untuk penginapan seniman-seniman yang nanti mungkin ada yang dari luar mau pentas di TIM.
Lantai 13-14 merupakan Kantor Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) serta Ruang Diskusi Komite Seni.



Hingga kini Gedung Panjang TIM masih dalam proses revitalisasi. Menurut info dari PT Jakpro selaku pengelola TIM, renovasi dan revitalisasi direncanakan akan selesai pada Februari 2022.


Taman Rumput Lapangan Parkir TIM

Setelah mengelilingi Gedung Panjang, kami menghabiskan sore hari di taman rumput yang berada di atas parkiran TIM.

Duduk disini sama teman-teman bakal seru sih, apalagi di sore hari. Yang penting pastikan untuk tetap menjaga kebersihan taman ya teman-teman supaya taman TIM tetap cantik dan nyaman.

Taman Ismail Marzuki juga menerima kunjungan dari umum. Kunjungan bisa dilakukan setiap Kamis Pukul 15.00-17.00. Sebelum melakukan kunjungan, pastikan registrasi dulu yaa. Untuk info lengkap terkait kunjungan bisa lihat di Instagram Official @wajahbaru_tim 



Wajah baru TIM memang sengaja digagas sebagai pusat wisata edukasi kesenian dan kebudayaan terbaik. Salah satunya pada bangunan Gedung Panjang. Dengan berbagai keunggulan dan mengusung konsep mixed-use building, TIM akan menjadi Urban Art Center dan Creative Hub di Kota Jakarta dan Indonesia.


Menurutku revitalisasi bangunan TIM saat ini merupakan inisiatif yang baik karena usia bangunan yang sudah tua. Mudah-mudahan dengan revitalisasi ini, para seniman semakin terfasilitasi dan bisa menjadikan TIM sebagai rumah untuk berkarya dan berekspresi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Follow Kal di @kalenaefris